AGAMA dan ALAM SATU DALAM TUJUAN

irwan saleh AGAMA dan ALAM SATU DALAM TUJUAN

Oleh : Irwan Saleh Dalimunthe

 Bukan saja masuknya dari langit atau didasarkan pada wahyu saja, akan tetapi dari realitas hidup dan historitas manusia  sendiri dapat disimpulkan bahwa menuju kehidupan yg baik dan berkualitas harus didasarkan pada dua hal yakni AGAMA dan ILMU PENGETAHUAN.

Agama memberikan petunjuk tentang etika yaitu bagaimana mewujudkan hidup yg baik lagi benar. Sedangkan Ilmu Pengetahuan mengajari manusia untuk paham dan mengenali tempat tinggalnya secara emperikal sehingga dapat bermesraan dengan lingkungannya. Bahkan Agama bukan saja memuat aturan etika ketuhanan dan kemasyarakatan tapi juga memberi petuah tentang alam dan pikiran-pikiran untuk mengakrapinya. Sementara Ilmu Pengetahuan bukan saja biar paham secara emperik tentang alam malah di alam ini pula ditemukan tanda kebesaran dan eksistensi Tuhan.

Islam mengajarkan pada penganutnya bahwa bila ingin tau dan kenal Tuhan datang saja pada dua alamat dimana karya dan informasi mengenai DiriNya ditemukan yakni pada WAHYU dan ALAM,  itu artinya ada dalam  Agama dan Ilmu Pengetahuan. Itulah sebabnya ketika keduanya tidak dikawinkan pasti muncul persoalan besar. Seperti besarnya masalah yang timbul dalam hidup seseorang ketika umpanya ia jadi ilmuan tapi tidak mengenal nilai nilai etika dan akhlak. Atau sebaliknya wujud  agamawan yg tak paham ilmu emperik/sains  dapat mengundang masalah pula.

Generasi hari ini perlu lebih dipahamkan bahwa eksistensinya kedepan ditentukan oleh seberapa dalam dia memiliki etika dan ketaatan pada aturan agama karena dengan itulah dia bisa punya kepribadian yang handal dan kuat serta tahan banting. Ditambah dengan kecerdasan dalam menguasai Ilmu Pengetahuan beserta keterampilan. Karena dengan Ilmu akan senantiasa dapat beradaptasi dan menguasai arus sejarah dan perjalanan sejarah manusia kedepannya. Bahkan yang punya ilmulah yang mengisi dan menentukan arah perkembangan sejarah. Sehingga mereka dapat menjadi pemain atau  pelaku dan bukan sasaran. Dan agama yang kuat tadi menjadi penjamin bahwa ia akan memiliki perangkat control. Ibarat kenderaan, secanggih apapun ia sehingga dapat bergulir dengan kecepatan tinggi tentu tanpa dibarengi alat pengaman seperti rem dan rambu-rambu  akan dapat menjadi alat pembunuh yang ganas. Dan sering kita saksikan kecelakaan lalu lintas dengan kejadian amat dahsyat hanya diakibatkan macet rem atau tidak mematuhi rambu dan aturan lalu lintas. Agama itu adalah pengarah hidup.

Merupakan kelemahan dan kebodohan manusia tatkala membangun hidup dan peradaban hanya dengan modal Ilmu Pengetahuan. Biarpun dibantu teknologi sebagai implementasi Iptek. Ternyata masyarakat modern dengan landasan Sain dan Teknologi tanpa Agama sudah terbukti terjadi dehumanisasi, degradasi sosial, nasionalisasi yang sempit, egoisme, materialisme dan yang paling parah munculnya keangkuhan sektoral dan sektarian. Menyebabkan adanya blok A B C dan seterusnya. Belum lagi kerusakan alam (ekologi) diakibatkan keserakahan dan egoisme tadi. Kita lihat munculnya berbagai bencana, pemanasan global dan kerusakan alam lainnya. Ini tidak lain berdampak pada munculnya pemicu percepatan tanggal main HARI AHIR KEHIDUPAN DUNIA yakni KIAMAT. Karena ibarat tubuh manusia bila ketika terganggu atau terkurasnya satu atau bagian bagian vital tubuh menyebabkan tidak dapat berfungsi biasanya manusia akan bisa mati mendadak. Begitu juga tentunya alam hunian kita ini. Inilah kehidupan ketika etika atau agama tidak ambil peran dalam kehidupan.

Fenomena inikah yg sedang terjadi pada bangsa kita ini? Barangkali ketika kita berpikiran secara baik, kurang apalagi kerusakan yang terjadi ini. Kita lihat alam dan ekosistem yg terjadi hampir seluruh permukaan bumi Indonesia semuanya sudah habis digerayangi sampai modar. Begitu juga sistem sosial kita semuanya pada  mengedepankan syahwatnya. Kita khawatir pada akhirnya bangsa besar ini menjadi chaos dengan pertempuran kelompok kepentingan dan dihantam bencana alam yg memang sudah pada tempatnya mereka tidak bisa lagi normal karena gangguan pengrusakan.

Maka kita mohonkan pada  pemimpin bangsa ini supaya menahan diri dan memprioritaskan pembangunan mental manusia serta usaha rehabilitasi alam. Mari kita jadikan agama pegangan moral kita dan ilmu pengetahuan sebagai alat hidup kita. Sebegitu pentingnya agama dalam hidup maka usaha memahami dan mengimplementasikan dalam hidup menjadi sebuah kewajiban yang tidak bisa ditawar dan amat penting.  Dalam Islam untuk memasuki agama maka pangkalnya adalah mengenal Tuhan (awaluddin ma’rifatullah) disebut dengan Tauhid.  Tauhid adalah mengesakan yakni memurnikan keyakinan dan keimanan bahwa hanya Allah sisembahan dan sasaran pengabdian kita. Karena Dialah yg menciptakan dan yang mengatur serta kepadaNya kita kembali.

Semua manusia diharuskan untuk selalu memperhatikan bagaimana sudah kelurusan dan kekokohan Tauhidnya karena inilah fondasi dalam hidup. Sehingga dengan itulah seseorang menemukan arah kehidupannya dan dengan itu pula ia dapat menetapkan bentuk serta warna kehidupannya. Mentauhidkan Allah paling tidak ada tiga bentuk yaitu: (1). Rububiyah yakni Keyakinan bahwa Allahlah yang menciptakan dan memberi kehidupan dengan kelengkapan diri kita dan adanya alam bagi kita dan dengan kehendaknyalah kita ada dan menemukan pola hidup kita. Kehendak disini dapat dimengerti bahwa Tuhan punya aturan; ada aturan-sistem jasadiyah-alamiah, ada aturan-sistem syar’iyah-rohaniah. Karena untuk proses sejarah dan masa depan kita Allah sudah membagi kekuatanNya bagi kita yakni kodrat-kadar fisikis dan kodrat psikhis,  sebagai bukti Dia kehendaki kita ada dan dengan alat itulah kita berikhtiar.
(2). Uluhiyah maksudnya karena keyakinan kita tadi bahwa Allah sang pencipta dan pengatur kita maka dengan itupula kita harus jadikan Dia sebagai persandaran kita dan pergantungan kehidupan kita. (3). Ubudiyah adalah bermakna diibadahkan yakni Allah tempat menyembah dan kepadaNya beribadah. Yaitu semua kehidupan kita berada pada posisi ikut aturanNya.

Implementasi dari ketiga prinsip ini akan membangun pandangan dan falsafah hidup bahwa kehidupan itu satu karena ada dari yang Satu dan akan kembali kepada yang satu. Sehingga kalaupun ada yang berbeda tidak seharusnya didikhotomikkan apalagi dikomplikkan.              Ada persoalan serius terjadi dan dihadapi dampaknya saat ini. Ketika mana masyarakat dunia sedang mempertentangkan agama dengan sains. Itu akibat pengalaman Eropa saat menemukan konsep sains dari dunia Islam. Saat kondisi hidup mereka dibawah kekuatan kerajaan yang otoriter dan pikiran para rahib ortodok yang berpetuah dengan imajinasi ketika memberi jawaban pada berbagai problema yang dihadapi masyarakat.

Maka kelompok tercerahkan itu merekonstruksi pemahaman taklid buta kepada pikiran rasional dan objektip. Dengan itulah berdampak terjadinya permusuhan antara agamawan yg fanatik buta dengan ilmuan yang saintis dan rasionalis. Maka tidak ada pilihan ketika para raja yang bersinergis dengan agamawan ortodok memerangi ilmuan. Sehingga yang memilih jalan mengembangkan ilmu karena menganggap lebih memiliki mutu kebenaran maka mereka memutuskan meninggalkan agama karena cinta ilmu. Islam tidak bisa disamakan dengan agama lain karena agama diluar Islam pernah terdistorsi oleh historitas menyebabkan ajarannya mengalami percampuran dengan pikiran. Islam sangat menghargai ilmu dan mendorong ummatnya untuk berfilsafat, meneliti, mengamati, dan mengambil pelajaran serta menarik kesimpulan dari fenomena alam.

Qur’an banyak bicara untuk menggunakan akal. Lihat umpamanya al-Ghasyiyah 17-20, al-Mukminun 22-14, Ali Imran 190-191, Luqman 10 dan ribuan ayat lainnya yang cerita tentan alam dalam urusan ketuhanan dan dorongan untuk menyelidiki fenomena alam. Dengan al-Quran ditemukan prinsip bahwa alam adalah buatan dan karya Allah dan Wahyu adalah kalimat kalimat perkataan dan petuah Allah. Sehingga tidak akan ditemukan pertentangan antara perkataan dan perbuatan yakni antara Wahyu dengan Ilmu. Karena tidak mungkin  bertentangan bila digunakan logika sehat. Sedangkan pada manusia cerdas saja (saintis) tidak  mungkin terjadi pertentangan antara tesisnya dengan fakta yg dikerjakannya tentang sesuatu.

Hasil yang ia lakukan, dieksprimen, amati dan simpulkan dalam buah tangannya dituliskan menjadi teori sebagai buah pikiran. Maka tanpa bermaksud menyepelekan Allah ibaratnya alam ini yang dijadikan objek sain sebenarnya hakekatnya adalah sebagai buah tangan kekuasaan dan kekuatan Allah. Sedang Wahyu adalah buah pikiran yang dituliskan untuk dibaca dan jadi objek kajian menjadi pengetahuan keislaman yang intinya berpetuah tentang seluruh aspek kehidupan di dunia sampai akhirat.

Dengan menangkap prinsip ini menjadikan kita tulus mentauhidkanNya karena seluruh ciptaan Tuhan itu satu dan menyatu utamanya memahami alam sebagai ciptaan yg diatur dengan hukum kehidupan yang Ia takdirkan yg secara nyata diurai dalam Wahyu dengan inspiratip dan konklusip.

Sumber Bacaan

Al-Qur’an

Agus Mustofa, Zikir Tauhid, Padang Mahsyar Press, Surabaya, 2014

Ahamad Tafsir, Filsafat Pendidikan Islam, Remaja Rosdakarya, Bandung, 2006

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *