Hutan Tidak Butuh Kita Tetapi Kita Butuh Hutan “Save Batangtoru Forest”

Oleh: Sofian Noor

Mahasiswa Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Padangsidimpuan)

Hutan Batang Toru terletak pada tiga kabupaten di Sumatera Utara (Sumut), yaitu Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan. Kawasan ini punya kekayaan keragamanhayati tinggi. Hutan yang juga disebut Harangan Tapanuli (dalam bahasa batak tapanuli) ini, berdasarkan citra satelit di peta, memiliki luas 133.841 hektar, terbagi dalam dua blok wilayah, yaitu blok barat dengan luas 78.891 hektar, dan blok timur luas 54.950 hektar. Berdasarkan data Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), sekitar 66,7 % dari hutan Batang Toru terdapat di Tapanuli Utara, 22,6% Tapanuli Selatan, dan 10,7% Tapanuli Tengah. Dari peta satelit, kawasan hutan yang sangat kaya keragaman ini memiliki titik terendah 194 meter diatas permukaan laut (dpl), dan tertinggi 1.781 m dpl. Sebagian besar hutan Batang Toru lebih 800 m dpl, dengan kecuraman sangat tinggi.

Ekosistem Batang Toru terletak di tiga Kabupaten Tapanuli, Sumatera Utara. Yang tersisa sekarang dari kawasan hutan yang unik ini terbentang seluas 141,749 ha, terbagi atas 2 blok yang dipisahkan oleh lembah retakan Sumatera. Sebagian besar areal di dataran rendah telah dibuka untuk pengembangan pertanian dan perkebunan. Masyarakat yang tinggal di sekitar Ekosistem Batang Toru sangat bergantung pada hutan tropis yang lembab ini serta curah hujan berskala tinggi yang dihasilkannya sebagai sumber air utama dan perlindungan dari banjir maupun erosi. Kawasan hutan ini merupakan bagian dari Bukit Barisan di Sumatera yang semakin penting peranannya dalam menyimpan karbon dioksida dan dalam mitigasi efek perubahan iklim.

Ekosistem Batangtoru merupakan tempat habitat terakhir bagi populasi dari jenis kera besar yang paling terancam di dunia, Yaitu Orangutan Tapanuli yang baru baru ini dinyatakan sebagai jenis tersendiri. Begitu juga dengan Tapi, Beruang Madu, Kambing Hutan Sumatera, Kucing Emas, dan Harimau Sumatera yang sangat terancam punah juga masih bisa kita jumpai di kawasan hutan batangtoru ini.

Berbicara tentang Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis), atau Mawas dalam bahasa Tapanuli. Berawal dari kerjasama antara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Nasional (UNAS), dengan Yayasan Ekosistem Lestari – Program Konservasi Orangutan Sumatra (YEL-SOCP), dan berbagai Universitas lain di mancanegara, sejumlah tim peneliti yang bergerak di bidang genomik-genetika konservasi, morfologi, ekologi, serta perilaku primata menyimpulkan bahwa populasi orangutan Sumatera yang terletak di habitat terisolir yaitu Ekosistem Batang Toru, di ketiga Kabupaten Tapanuli, Sumatera Utara, sebagai spesies baru dari kelompok genus orangutan.

Hasil dari penelitian ini dilaporkan di dalam salah satu jurnal internasional terkemuka, Current Biology, dimana kategori jenis orangutan baru dengan nama ilmiah Pongo tapanuliensis atau orangutan tapanuli dinobatkan sebagai spesies orangutan ketiga, setelah Pongo pygmaeus (orangutan kalimantan) dan Pongo abelii (orangutan sumatera). ukti pertama yang mengukuhkan orangutan tapanuli sebagai kategori spesies baru terlihat dengan terpaparnya perbedaan genetik yang sangat besar di antara ketiga jenis orangutan (melebihi perbedaan genetik antara gorila dataran tinggi dan rendah maupun antara simpanse dan bonobo di Afrika). Orangutan tapanuli diduga merupakan keturunan langsung dari nenek moyang orangutan yang bermigrasi dari Dataran Asia pada masa Pleistosen (+ 3.4 juta tahun silam).

Perbedaan morfologi lain terlihat dari ukuran tengkorak dan tulang rahang lebih kecil dibandingkan dengan kedua spesies lainnya, serta rambut di seluruh tubuh orangutan tapanuli yang lebih tebal dan keriting.

Ada 5 (Lima) Fakta tentang Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis).

  1. Populasinya kurang dari 800 individu.
  2. Sangat lambat dalam berkembangbiak.
  3. Hidup sampai usia 50-60 tahun.
  4. Jarak melahirkan 8-9 tahun.
  5. Rata-rata memiliki anak di usia 15 tahun.

Fakta lain Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis).

  1. Dinyatakan sebagai spesies baru kera besar terbaru di dunia, ditemukan di ekosistem batangtoru, di hutan dataran tinggi, di 3 (Tiga) Kabupaten Tapanuli, Sumatera Utara.
  2. Secara Taksonomi lebih dekat dengan Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus), sehingga harus dipisahkanmenjadi spesies tersendiri, dan merupakan moyan dari kedua jenis kera besar Orangutan Sumatera (Pongo Abeli) dan Orangutan Kalimantan (Pongo Pygmaeus).
  3. Orangutan Tapanuli baru ditemukan kembali di akhir tahun 1990an dan ditetapkan sebagai jenis kera baru berdasarkan penelitian genetika, morfologi, taksonomi dan perilaku nya yang unik.
  4. Jenis Kera besar (Great Ape) dan di klaim sebagai satwa yang terlangka dan terancam punah di dunia (dinyatakan lebih langka dibanding gorilla gunung Afrika).

Adapun Ciri-ciri dari Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) Sebagai berikut :

NO Ciri Non Fisik Ciri Fisik
1 Frekwensi pembuatan sarang lebih rendah dibanding Orangutan Sumatera namun hampir mirip dengan Orangutan Kalimantan. Warna rambut dan bentuk badan secara umum sama dengan orangutan sumatera, tetapi bulu cenderung lebih tebal dan keriting.
2 Pakannya 60% adalah Buah-buahan, Rayap, Semut liana, Daun-daunan, Kuncup Bunga, dan Ulat. Memiliki Kumis yang menonjol dengan bantalan pipi berbentuk datar, dan dipenuhi rambut halus berwarna putih.
3 Orangutan Tapanuli memakan spesies tumbuhan yang sebelumnya belum pernah tercatat sebagai jenis pakan orangutan, yaitu atumangan, sampinurtall, sampinur bunga (Podocarpaceae) dan agatis. Jantan dewasa memiliki bantalan pipi yang lebih besar sehingga mirip dengan Orangutan Kalimantan.
4 Panggilan jarak (Long Calls) orangutan jantan spesiesnya sangat berbeda dengan orangutan jenis lainnya yang biasanya berteriak keras dan gendurasi panjang. Betinanya memiliki rambut pada bagian dagu wajah (janggut) yang lebih mirip Orangutan Sumatera daripada Orangutan Kalimantan.

Persebaran Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) mendiami wilayah kuran dari 110.000Ha, dari luas Batangtoru 150.000Ha. Orangutan Tapanuli (Pongo Tapanuliensis) hanya dapat ditemukan  di ekosistem Batangtorudi 3 Kabupaten Tapanuli Yaitu; Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Utara. Sekitar 85% persebaran Orangutan Tapanuli berstatus hutan lindung, 15% Hutan Primer areal pegunungan lain. Ada Populasi kecil di cagar alam Sibual-buali di sebelah tenggara blok barat, Populasi Orangutan Tapanuli terpecah kw dalam dua kawasan utama (Blok Barat dan Blok Timur) Oleh lembah Patahan Sumatera. Adapun saat ini keberadaan Orangutan Tapanuli yang terancam punah dikarenakan Rusak nya Ekositem Batangtoru yang dibuat oleh Tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab.

2 thoughts on “Hutan Tidak Butuh Kita Tetapi Kita Butuh Hutan “Save Batangtoru Forest”

  1. […] Sofian Noor, Sumatera Utara “Hutan Tidak Butuh Kita tetapi Kita Butuh Hutan: Save Batang Toru Forest” http://www.iain-padangsidimpuan.ac.id/artikel/hutan-tidak-butuh-kita-tetapi-kita-butuh-hutan-save-ba… […]

  2. […] * Sofian Noor.Artikel ini merupakan pemenang pertama lomba blog penulisan #CeritaDariHutan, kerjasama antara Hutan Itu Indonesia, Good News from Indonesia, Idoep dan Mongabay Indonesia. Artikel ini telah melalui penyuntingan tanpa mengurangi esensi. Tulisan asli dapat dilihat padatautan ini. […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.