Menarik Benang Merah Basis Pendidikan Islam Bermartabat

Ditulis oleh : Drs. H. Muhammad Darwis Dasopang, M.Ag.
Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat

Pendidikan intinya adalah pembelajaran yang bersifat normatif. Pembelajaran beranjak dari  situasi hubungan sosial pendidik dan peserta didik.  Kedudukan ilmu pendidikan sangat penting bagi upaya peningkatan keberhasilan pendidikan itu sendiri.Semua materi pembelajaran yang diturunkan dari hasanah ajaran agama, ilmu pengetahuan, tekhnologi, seni, dan budaya menjadi muatan yang bersinergis dan terarah dalam praktek pendidikan. Proses ini menjadi upaya peningkatan kualitas pendidikan yang memuliakan kemuliaan manusia didik yang bertanggung jawab baik terhadap diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Pendahuluan/pengantar

Memperhatikan praktek pendidikan yang sedang kita laksanakan masih belum bernuansa keadaban yang bermartabat secara holistik sesuaiharkat dan martabat manusia yang dimiliki oleh peserta didik itu sendiri. Proses pembelajaran dan pendidikan yang dilalui seyogianya menghasilkan produk yang di dicita-citakan. Kenyataan yang terlihat dilapangan diluar dugaan seperti beberapa prilaku menyimpang para peserta didik di sekolah antara lain prilaku seks bebas serta penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di sekolah masih mewarnai media cetak dan elektronik. Selain tuIndikasi penyimpangan prilaku peserta didik sekolah yang sangat mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat adalah tawuran antar sekolah yang sering menelan korban yang tidak sedikit.  Demikian juga etos kerja yang buruk, rendahnya disiplin diri dan kurangnya semangat untuk bekerja keras, keinginan untuk memperoleh hidup yang mudah tanpa kerja keras, nilai materialis (materialism, hedonism) menjadi gejala umum dalam masyarakat.Daftar ini masih bisa terus diperpanjang dengan berbagai kasus lainnya, seperti pemerasan peserta didik terhadap peserta didik lain, kecurangan dalam ujian, dan berbagai tindakan yang tidak mencerminkan moral peserta didik yang baik.[1]

Perwujudan perilaku siswa seperti demikian tidak akan terlepas dari pengalaman yang terjadi dalam interaksi pendidik dan peserta didik. Dengan demikian kajian ini terkait dengan “Menarik Benang Merah  Basis Pendidikan Islam Bermartabat”.

Melirik pendidikan kita kebelakang

Kondisi pendidikan kita di lapangan ditandai oleh gejala ketidak jelasan tentang kaedah-kaedah keilmuan pendidikan.Dalam Prayitnmo Winanarno Surahmat (2005) menyebutnya pendidikan tanpa ilmu pendidikan (PENTIP).[2] Apabila landasan tidak jelas atau salah dapat dibayangkan praktek PENTIP akan menerapkan yang salah dengan disebut “malpraktek”. Yang akan menghasilkan sesuatu yang salah, merugikan atau bahkan membahayakan. Praktek pendidikan ini tidak dapat mewujudkan dan menghasilkan pemenuhan basic need. akibat kecelakaan pendidikan ini Prayitno (2009) menyebutnya merupakan sumber malapetaka rendahnya mutu pendidikan dan bahkan mengerdilkan pendidikan itu sendiri. Ibarat anak yang tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya, sehingga kurang gizi, terkena busung lapar, marasmus, penyakitan. Hal ini  berakibat fatal bagi generasi muda sebagai pemegang estapet kepemimpinan di masa yang akan datang. Kondisi PENTIP dapat pula diibaratkan sebagai gedung yang dibangun tanpa ilmu bangunan. Hasilnya jelas gedung tersebut bentuknya megah dan indah, namun tidak akan tahan gempa, rawan runtuh, dan berbahaya untuk dihuni. Demikian lah PENTIP sebagai buah yang dihasilkannya kelihatan bagus (dengan deretan ijazah dan sertifikat yang banyak) namun sebenarnya rapuh terhadap tantangan dan kondisi persaingan.Praktek PENTIP selain tidak menjamin kualitas, hasilnya juga dikhawatirkan salah arah atau bahkan merupakan kecelakaan pendidikan sebagai akibat malpraktek dari upaya yang dikatakan pendidikan itu.[3]Ilmu Pendidikan, Substansi profesi Pendidik, dan praktek pelayanan Pendidikanyang dilakukan tidak sejalan merupakan muara teridikasinya malpraktek itu terjadi. Justru itu kebiasaan seperti ini masih menjadi budaya praktek pendidikan kita dewasa ini.

Membangun Pendidikan dengan PENDIP (Pendidikan dengan Ilmu Pendidikan)

Undang-undang No. 20tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan (Pasal 1 Butir 1) seperti berikut:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencanan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara[4].

Dengan rumusan demikian, dapat diambil pokok-pokok pemahaman tentang pendidikan, terutama bila dispesipikkan dalam pendidikan Islam yaitu bahwa pendidikan merupakan usaha yang dilaksanakan:

  1. Dengan sadar dan terencana; Pendidikan itu berlangsung dalam proses pencapaian cita-cita yang diharapkan sekolah, orang tua, masyarakat,bangsa, dan negara. Untuk itu betul-betul direncanakan dengan waspada dan kehati-hatian dari awal sehingga tidak terjadi lepas kontrol agar dapat mencapai tujuan.
  2. Untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran; terbentuk penciptaan yang membelajarkan bagi peserta didik berjalanatas tingkat usia baik jasmani dan rohani sebagai mana tuntutan dan harapan perkembangan masing-masing peserta didik.
  3. Agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya; keaktifan dalam aktivitasdansuasana serta proses pembelajaran itu menyahuti perbedaan individu peserta didik tanpa kecuali.
  4. Untuk dimiliki peserta didik enam focus pembinaan, yaitu berkenaan dengan:
    • Kekuatan spiritual keagamaan; Fokus pembinaan terpenting dari undang-undang tersebut yang pertama adalah kekuatan spritual keagamaan, artinya ini mengindikasikan bagai mana peserta didik menjadikan agama yang diyakininya menjadi sitem kontrol dalam kehidupanny.(Q:89:14)[5]maka Agama yang dianutnya secara baik dan benar di perkenalkan kepada peserta didik mulai dari sedini mungkin.
    • Pengendalian diri; Dalam proses perkembangan peserta didik dari hari kehari dengan pengalaman pembelajaran yang dilalui bersama, suka dukanya, maka fokus pada pembinaanpertama di atas akan terus fungsional dalam kehidupannya terutama dalam pengendalian dirinya sendiri untuk membentengi/antisivasi hal-hal duka sebagai tantangan atau cobaan dan hal-hal yang bersifat suka sebagai prestasi yang perlu ditingkatkan.
    • Kepribadian; orang yang dapat mengendalikan diri dengan penuh kesadaran atas ajaran spritual agama dalam hal ini yang dimaksudadalah Ajaran Islam akan tercapai kesalehan secara individunya dan kesalehan sosialnya[6]. Dengan mencapai ini maka peserta didik telah memiliki kepribadian Muslim.
    • Kecerdasan ; Atas peran dan pembinaan kesemua di atas maka dapat mencapai hasil yang bersifat skala-skala prioritas utama yang diperlukan yaitu memiliki kecerdasan.
    • Akhlak mulia; Terwujudnya akhlak mulia parameternya di dasarkan pada perinsip ajaran Islam merupakan perpaduan iman, islam, dan ihsan[7] atau aqidah, syariah, dan akhlak yang tampilannya menghasilkan akhlak mulia[8]. Karena ajaran Islam menegaskan bahwa status kemuliaan manusia disisi-Nya dilihat dari ketaqwaannya(Q:49:13)[9]. Perwujudan tampilan ini merupakan proses pemuliaan kemanusiaan manusia.
    • Keterampilan; Maksud keterampilan disini merupakan suatu pengetahuan dan kemampuan dalam mengoperasikan pekerjaan secara lebih mudah dan tepat baik aktivitas yang bersifat psikomotor maupun bersifat akademik sehingga dapat memenuhi kelangsungan hidup secara survif.
  5. Untuk membekali peserta didik dengan hal-hal yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negera; Hal ini berkaitan dengan tanggung jawab guru untuk mempersiapan peserta didik agar dalam kehidupan yang berkesinambungan memiliki kesadaran dalam bertanggung jawab mulai dari dirinya sendiri, masyarakat, bangsa da negara.

Kedudukan ilmu pendidikan sangat penting bagi upaya peningkatan keberhasilan pendidikan itu sendiri.Semua materi pembelajaran yang diturunkan dari hasanah ajaran agama, ilmu pengetahuan, tekhnologi, seni, dan budaya (AIPTEKSBUD)[10] menjadi muatan proses pembelajaran yang dilandasi oleh keilmuan pendidikan. Dalampraktek pendidikan yang didasarkan kepada kaedah-kaedah keilmuan pendidikan dengan muatan substansi pembelajaran itulah yang sesungguhnya merupakan upaya pendidikan atau PENDIP sebagai lawan PENTIP. Dimana inti dari pendidikan adalah pembelajaran. Bila pendidikan sudah dimulai maka yang menentukan situasinya adalah pendidik. Justru itu kalau situasi sudah diawali menjadi kewajiban pendidik untuk merawatnya.[11] Situasi itu terbentuk dari hubungan sosial pendidik dan peserta didik; pendidik memandang dan memperlakukan peserta didik sebagai manusia berderajat paling tinggi dan paling mulia diantara makhlu-makhluk lainnya. Komponen-komponen didalamnya termuat peserta didik, penidik, tujuan pendidikan, dan proses pembelajaran  yang sarat dengan unsur-unsur harkat martabat manusia (HMM), didalamnya termuat kandungan hakekat kemanusiaan, dimensi kemanusiaan, dan pancadaya. diharapkan  mampu mewujudkan system pendidikan nasional dalam rangka mencapai tujuan Nasional.

Basis dan Paradigma Pendidikan

Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan merupakan peristiwa dan upaya yang sekaligus istimewa dan unik.Istimewa karena dengan pendidikan itulah manusia (baik secara individu maupun kelompok) dipersiapkan menjalani kehidupannya, diarahkan dan dimungkinkan untuk mencapai tujuan kehidupannya.Unik karena mengandung ciri-ciri yang tidak terdapat pada peristiwa ataupun upaya lainnya.Upaya yang istimewa dan unik ini dilaksanakan dari, oleh dan untuk manusia.Peristiwa atau upaya pendidikan itu penuh dengan unsur dan warna kemanusiaan.Dengan unsur dan warna kemanusiaan itulah ilmu pendidikan dibangun dan praktek pendidikan diselenggarakan.Dapat dipahami bahwa basis keilmuan pendidikan dan segenap manifestasi prakteknya adalah manusia itu sendiri.Secara mendasar dipahami bahwa ilmu pendidikan dikembangkan sebagaimana ilmu-ilmu lainnya yaitu ilmu yang bersifat universal. Apabila basis ilmu pendidikan adalah budaya misalnya, maka ilmu pendidikan yang demikian itu tidak akan menjadi ilmu yang bersifat universal, karena budaya manusia berbeda-beda, demikian pula apabila basis pendidikan adalah ,kemajuan teknologi, dan sebagainya. Basis ilmu pendidikan yang bersifat universal adalah kemanusian manusia.

Kemanusiaan manusia tercermin dalam harkat dan martabatkemanusiaan yang didalamnya terdapat 3 komponen yaitu komponen hakekat manusia, dimensi kemanusian, dan pancadaya kemanusiaan[12]. Komponen-komponen itu mengandung unsur-unsur sebagai berikut:

  • Hakekat manusia unsur-unsurnya adalah makhluk bertakwa kepada Tuhan YME, sempurna dalam penciptaannya, berderajat paling tinggi, khalifah dimuka bumi,dan memiliki/menyandang HAM
  • Dimensi kemanusian terdiri dari kefitrahan, dengan kata kunci kebenaran dan keluhuran; Keindividualan, dengan kata kunci potensi dan perbedaan; Kesosialan, dengan kata kunci komunikasi dan kebersamaan; Kesusilaan dengan kata kunci nilai dan norma; Dan Keberagamaan dengan kata kunci iman dan takwa.
  • Pancadaya kemanusiaan yaitu daya takwa, daya cipta, daya rasa, daya karsa, dan daya karya.

Harkat dan martabat manusia yang didalamnya terkandung 3 komponen dengan 15 unsur tersebut adalah menjadi basis pendidikan seluruh komponen situasi pendidikan mulai dari peserta didik, pendidik, tujuan pendidikan, materi pembelajaran dan proses pembelajaran terkait secara kental dengan segenap unsur HMM. Selanjutnya dapat dilihat paradigma pendidikan dengan memuliakan kemuliaan manusia (MKM) dimana wawasan pendidikan menekankan yang bersifat memuliakan manusia karena pendidikan itu bersifat normatif. Jadipendidikan itu baik yang menyangkutpengetahuan sifatnya yang memuliakan manusia, keterampilan yang memuliakan manusia, nilai yang memuliakan manusia, dan sikap yang memuliakan manusia, dengan ilustrasi seperti berikut:

HMM dan MKM yang meliputi 3 komponen itu merupakan jatidiri kemanusiaan manusia dalam hal ini trilogi HMM dan MKM merupakan kondisi saling pengaruh-mempengaruhi secara dinamis. Pendidikan tidak lain adalah upaya memuliakan kemuliaan manusia untuk mengisi dimensi kemanusiaan dengan orientasi hakikat kemanusiaan melalui pengembangan pancadaya secara optimal dalam rangka mewujudkan jatidiri manusia sepenuhnya. Semakin bagus situasi pendidikan dalam implementasi akan memberikan transformasi terhadap kehidupan nyata  peserta didik secara linier berkontribusi terhadap tampilan kemuliaan kemanusiaan peserta didik.

Proses Pembelajaran

Dalam pelaksanaannya proses pembelajaran merupakan usaha sadar terencana oleh pendidik agar peserta didik mencapai tujuan pendidikan. Proses pembelajaran yang berciri 3 dimensi sebagaimana disebutkan terdahulu memerlukan perangkat pendidikan yang didukung oleh 2 pilar yang disebut dengan kewibawaan dan kewiyataan.[13]

Kewibawaan adalah merupakan perangkat hubungan antar personal yang mempertautkan peserta didik dengan pendidik dalam situasi pendidikan.Melalui kewibawaan ini hubungan antara keduanya merupakan relasi sosial yang mewarnai keunikan situasi pendidikan secara mendasar.Dengan kewibawaan pendidik memasuki pribadi peserta didik, dan peserta didik mengarahkan dirinya kepada pendidik.Disanalah perkembangan pengakuan, penerimaan dan pengangkatan peserta didik oleh pendidik di satu sisi dan pendidik oleh peserta didik pada sisi lain, masing-masing menjadi subyek yang sangat berarti dan penuh makna. Dasar dari pengakuan, penerimaan dan pengangkatan ini tidak lain adalah HMM dan Hakekat manusia, dimensi kemanusiaan, dan pancadaya yang ketiganya tidak saja menjadi landasan melainkan diimplementasikan dalam tindak nyata dengan dasar dan arah manisfetasi kewibawaan yang meliputi pengakuan dan penerimaan terhadap siswa, kasih sayang dan kelembutan, penguatan, tindakan tegas yang mendidik serta pengarahan dan keteladanan. Sedangkan pilar Kewiyataan adalah yang merupakan perangkat pembelajaran yang terkait langsung dengan : materi pembelajaran yang diturunkan dari tujuan-tujuan pendidikan dan dilaksanakan dengan arah pengembangan pancadaya, pengembangan dan aplikasi metode pembelajaran, alat bantu pembelajaran, lingkungan pembelajaran, keempat ini merupakan unsur praktek kewiyataan serta selanjutnya dilengkapi dengan penilaian hasil pembelajaran yang kesemuanya tidak boleh bertentangan dengan harkat dan martabat manusia yang memiliki 3 komponen tersebut. Jelasnya kewibawaan merupakan unsur-unsur yang menentukan kualitas hubungan antara pendidik dan peserta didik, sedangkan kewiyataan unsur yang menentukan isi hubungan. Keduanya tersinkronisasi dengan yang disebut pembelajaran.[14] Dengan penegakan kewibawaan dan kewiyataan secara bersinergis akan memberi sinyal dalam menghidupkan keberkahan ilmu ditengah-tengah pembelajar. Disamping pendidik dan peserta didik telah berada pada kategori pisabilillah, mendapat pahala yang besar dari sisi Allah.

Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa benang merah basis pendidikan harus berangkat dari tiori-tiori pendidikan yang jelas.Dan  praksis pendidikan itu sendiri merupakan hal yang memayungi praktek pendidikan. Ketiganya saling kuat menguatkan  di tengah-tengah kehidupan masyarakat sehingga pendidikan dengan ilmuan pendidikan perlu diterapkan kepada seluruh peserta didik agar terciptanya sumber daya manusia yang berkualitas denganmemiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.

 

[1].Abdul Majid,Pendidikan Karakter Persfektif Islam, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 2012),hlm.14

[2] Prayitno, Dasar Tiori Dan Praksis Pendidikan, (Jakarta: Grasindo, 2009), hlm. 1.

[3]Prayitno, 2009,Ibid. hlm. 1-2.

[4] Direktorat Jendral Pendidikan Islam Departemen Agama RI, Undang-Undang No. 20 tahun 2005,( Jakarta:Depag, RI,. 2006), hlm.5.

[5]Depag, RI, Al-Quran Dan Terjemahnya,( Mekar : Srabaya, 2004) hlm. 894.

[6]Abu Daud, Sunan Abu Daud,(Almaktabah Asy-syamilah Juz 14 no.4835hlm. 99 http://www.islamic.council.com diakses 24-11-2015

[7]Al- Bukhari,Sahih Bukhari,(Almaktabah Asy-syamilah Juz 1 no.50 hlm. 27.http://www.islamic.council.com diakses 24-11-2015

[8]Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, (Rajawali Pers: Jakarta, 2000), hlm.199-356

[9]Depag, RI, Al-Quran Dan Terjemahnya,( Mekar : Srabaya, 2004) hlm. 745.

[10]Nursid Sumaatmadja, Pendidikan Pemanusiaan Manusdia Manusiawi, (Bandung: Alfabeta, 2002),hlm. 44-55.

[11]Prayitno, Dasar Teori dan Praksis Pendidikan, (Gramedi,Jakarta:2009),Hlm. 37-38.

[12] Prayitno, Opcit, hlm. 13-23

[13]Prayitno, Opcit, hlm.50

[14]. Prayitno, Opcit, hlm. 50-57

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *