Mengembangkan Sistem Penjaminan Mutu Perguruan Tinggi

Ditulis Oleh: Mr. Dr. Erawadi, M.Ag.
Direktur Pascasarjana

Salah satu tantangan utama yang dihadapi perguruan tinggi adalah tuntutan pengelolaan institusi secara bermutu. Peningkatan mutu ini harus dilakukan secara sadar dan sistematis. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan tersebut, pada tahun 1990-an muncullah dua konsep mutu yang saling terkait, yaitu manajemen mutu (quality management) dan penjaminan mutu (quality assurance) dalam dunia pendidikan tinggi, yang mengadopsi konsep dunia industri. Saat ini, kesadaran terhadap mutu telah merambah dunia pendidikan secara umum. Setiap institusi berlomba-lomba memasarkan lembaganya melaluii mutu akademik, baik mutu proses, pelayanan, maupun hasil.

Dalam hal ini, para stakeholders telah menuntut lembaga–lembaga penyelenggara dan penanggung jawab pendidikan untuk lebih professional. Untuk itu, Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BSNP) amat menekankan persoalan mutu tersebut dengan menghadirkan sejumlah standar nasional pendidikan baik secara terukur (kuantitatif) maupun kualitatif, dengan tetap memperhatikan dimensi soft skills lainnya. Mutu perguruan tinggi, pada dasarnya, berkaitan erat dengan pencapaian tujuan pendidikan dan kompetensi lulusan yang ditetapkan oleh institusi pendidikan, atau kesesuaian antara tujuan, kompetensi dan standar yang ditetapkan.

 Mencapai hal tersebut bukanlah hal yang mudah, tetapi butuh komitmen, dan upaya sistematis yang berkelanjutan. Oleh karena itu, pengembangan konsep dan sistem manajemen mutu (quality management system) dan penjaminan mutu (quality assurance system) menjadi suatu keniscayaan bagi setiap perguruan tinggi, agar dapat memberikan kepuasan kepada pemangku kepentingan (stakeholders). 

Manajemen Mutu berasal dari konsep manajemen mutu yang umum digunakan dalam dunia industri dan bisnis. Karena perguruan tinggi bukan organisasi industri maupun bisnis, tapi bergiat dalam bidang akademik, maka manajemen mutu yang dibangun dapat disebut dengan istilah “Manajemen Mutu Akademik”, yaitu manajemen mutu dalam Tridharma Perguruan Tinggi, yang mencakup bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ruang lingkup ini dapat diperluas sesuai perkembangan perguruan tinggi dan kebutuhan pemangku kepentingan.

Meskipun terdapat berbagai definisi mutu, namun di kalangan sebagian masyarakat akademik masih terdapat kesulitan dalam menyepakati pengertian/konsep mutu, sehingga menimbulkan kesalahan dalam menafsirkannya. Bagi sebagian perguruan tinggi, mutu dianggap semata-mata sebagai parameter untuk memperoleh peringkat akreditasi, dan sebagian lainnya menganggap mutu sebagai kewajiban, bukan sebagai sebuah tuntutan kebutuhan. Hal ini menyebabkan kurangnya komitmen untuk melaksanakan penjaminan dan manajemen mutu di perguruan tinggi. Kesalahan dalam memahami mutu ini juga menyebabkan kekuatan emosi dan moral yang dimiliki mutu tersebut menjadi hilang. Mutu akademik dipahami sebagai pencapaian tujuan pendidikan dan kompetensi lulusan serta hasil-hasil penelitian dan layanan masyarakat yang telah ditetapkan sesuai rencana strategis dan standar akademik. Pencapaian tujuan ini menyangkut aspek masukan, proses dan keluaran serta nilai dan derajat kebaikan, keutamaan, kebenaran dan kesempurnaan (degree of exellence).

[/col] [/row]

Mutu akademik bersifat dinamis dalam arti bahwa perguruan tinggi mampu secara terus menerus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu dan teknologi serta realitas sosial budaya yang terus berkembang. Mutu akademik juga mencakup pelayanan administrasi yang didukung oleh kebaruan database, sarana/prasarana, organisasi dan manajemen yang dapat memenuhi harapan sivitas akademika dan masyarakat (baik orangtua mahasiswa, pengguna lulusan maupun masyarakat luas). Mutu akademik tersebut harus dikelola (dimanaj) dengan baik dan profesional.

Manajemen Mutu Akademik yang dapat digunakan perguruan tinggi adalah model “manajemen mutu terpadu” (total quality management), yaitu perpaduan semua fungsi dari lembaga ke dalam falsafah holistik yang dibangun berdasarkan konsep kualitas, teamwork, produktivitas dan pengertian serta kepuasan pelanggan. Secara umum, manajemen mutu terpadu dapat disebut sebagai seperangkat filsafat, dimana sistem manajemen dapat mengarahkan pencapaian tujuan organisasi secara efisien, untuk menjamin kepuasan pelanggan dan memaksimalkan nilai stakeholders.

Oleh karena itu, pengelolaan atas seluruh kegiatan akademik beserta seluruh sumber daya dan aset yang ada secara efisien, yang ditujukan untuk menjamin kepuasan pelanggan dan meningkatkan nilai yang dimiliki oleh pemangku kepentingan menjadi sasaran yang harus dicapai. Dalam hal ini, ada 4 (empat) hal yang perlu diperhatikan dalam manajemen mutu akademik yaitu: Sifatnya yang terpadu dan menyeluruh (total); efisien; kepuasan pelanggan, dan maksimalisasi nilai pemangku kepentingan.

Manajemen mutu akademik mencakup beberapa aspek, yaitu;

Esensi dari manajemen mutu akademik adalah perubahan budaya, yaitu perubahan dalam nilai, asumsi, sikap, mentalitas manusia yang menjalankan manajemen tersebut. Untuk mencapainya perlu kerja sistematis, terus menerus (berkelanjutan), dan konsisten. Mekanisme kerja manajemen mutu akademik adalah “Roda Deming”, yaitu satu roda terdiri dari empat langkah, yang berputar menurut jarum jam. Keempat proses langkah tersebut adalah perencanaan (plan), pelaksanaan (do), monitoring dan evaluasi (check), dan tindakan penyempurnaan (action). Lingkup manajemen mutu akademik meliputi keseluruhan komponen Roda Deming, meliputi: perencanaan (plan), pelaksanaan (do), monitoring dan evaluasi (check), dan penyempurnaan berkesinambungan (action).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *