Pendidikan Nasional “Di Persimpangan Jalan”

Ditulis Oleh :  Drs. Samsuddin, M.Ag.
Wakil Rektor Bidang Kemasiswaan dan Kerjasama

Pendahuluan

Salah satu agenda besar negara Republik Indonesia (RI) adalah menciptakan rakyat cerdas, cemerlang dan sejahtera, tujuan ini termaktub jelas di dalam pembukaan UUD 45 bahwa tujuan kita untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (RI) ialah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Paradigma tujuan ini cukup bermakna pisikologis yakni bangsa yang cerdas sudah barang tentu secara sistemik aspek kehidupan rakyat akan sejahtera lahir dan batin. Tentunya mari kita angkat tangan kepada para pendahulu kita yang telah meletakkan dasar-dasar tujuan Negara yang begitu jelas dan afik itu.

Bangsa yang cerdas adalah bangsa yang dapat survive di dalam menghadapi berbagai kesulitan atau krisis, faktanya bangsa Indonesia dewasa ini dilanda krisis multidimensional. Menuurt Prof. Dr. Marta Tilaar, krisis bangsa Indonesia sudah merambah dalam berbagai sector, mulai dari krisis politik, ekonomi, hokum, kebudayaan dan tidak dapat disangkal krisis dalam bidang pendidikan. Krisis ini tidak terlepas dari refleksi dari krisis system pendidikan nasional pada masa lalu beginilah prototype pendidikan kita masih berada di “persimpangan jalan”.


Carut Marut Pendidikan Kita

Dr. Zuabaidi M.Ag, M.Pd, bahwa akibat penanganan system pendidikan yang tidak serius krisis nyata mengkhawatirkan, tandasnya meningkatnya pergaulan seks bebas, dengan indikasi 51 % remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pranikah, artinya dari 100 remaja 51 orang tidak perawan lagi. Menurut laporan Kepala BKKBN Pusat tahun 2010, kasus tertinggi perilaku seks bebas yang dilakukan oleh remaja usia sekolah adalah di Yogyakarta, setidaknya 37% dari jumlah 1.160 pelajar yang menerima gelar MBA (marriage by accident) alias kehamilan di luar nikah.

Lain halnya maraknya tindak criminal, penyalahgunaan obat terlarang, pornografi, pemerkosaan, dan kebiasaan menyontek sampai ada istilah tahun lalu “contek massal”. Lembaga ESQ menyatakan ada tujuh krisis moral yang sering terjadi di kalangan pelajar,  krisis kejujuran, krisis tanggungjawab, krisis tidak berpikir ke depan, krisis disiplin, krisis kebersamaan, dan krisis keadilan. Kegalauan ini semua telah menjadi trend bagi kalangan pelajar kita.

Pertama, istilah “terpadu dan menyeluruh” menyangkut 4 (empat) aspek, yaitu seluruh proses, seluruh tugas, seluruh aset, dan semua orang. Kedua, manajemen itu mencakup keseluruhan bidang Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketiga, manajemen ini tidak hanya berusaha untuk membuat produk yang bermutu, tapi juga selalu mencari cara menghasilkan produk yang bermutu.

Gagalnya lembaga pendidikan kita disebabkan system pendidikan menitikberatkan   aspek kognitif,  sedangkan aspek soft skils atau non akademik selalu terabaikan, selain dari itu target akademik yang menjadi dasar keberhasilan anak bukan ditentukan dan sukses dalam Ujian Nasional. Jadi pardigma pendidikan ke depan adalah dapat mengobah target dari aspek kognisi menuji aspek soft skils,  dan Ujian Nasional di desain bukan sebagai hantu yang menakutkan bagi pelajar.

Lanjut…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *