Relevansi Kesehatan Mental Dengan Produktivitas Pendidikan

Ditulis oleh: Dra. Asnah, M.A
Sekretaris Lemabaga Penjamin Mutu

Kesehatan Mental dan Produktivitas Pendidikan

Secara alamiah manusia merindukan kehidupan yang tenang, sehat, sejahtera dan bahagia, baik jasmani maupun rohani. Namun munculnya berbagai macam penyakit kejiwaan, problema sosial, dekadensi moral dan tindakan bunuh diri yang disebabkan oleh manusia itu sendiri, merupakan realita yang tidak dapat dipungkiri.

Dilema ini muncul dikarenakan manusia merupakan makhluk yang unik selain memiliki karakteristik kebinatangan, dia juga memiliki karakteristik kemanusiaan bahkan sifat-sifat ilahiyah.

program-kesehatan-mental-bagi-anak-di-sekolah-157952-1Dalam jiwa manusia terdapat pikiran, perasaan dan kehendak. Dari ketiga aspek inilah muncul gagasan, kreatifitas, nilai-nilai hidup, pengalaman transendental, rasa malu, kesadaran diri, tanggung jawab, hati nurani, makna hidup, cinta, semangat dan lain-lain.[1] Selain itu ketiga aspek ini juga melahirkan kemauan dan kebebasan serta keyakinan dan nilai-nilai serta prinsip-prinsip moral yang berlaku umum dan untuk seluruh umat manusia.[2]

Jiwa merupakan sisi dalam manusia yang juga merupakan wadah bagi suatu potensi, dan potensi itu sangat besar peranannya bagi perbuatan dan tingkah laku manusia. Apa yang ada dalam jiwa manusia berperan besar dalam mempertahankan, menambah atau mengurangi tingkat sosial ekonomi masyarakat. Apa yang tersembunyi di dalam jiwa manusia dapat melahirkan perubahan-perubahan besar dalam kehidupan manusia di muka bumi ini.

Kejahatan merupakan perwujudan dari kepribadian yang tidak seimbang. Ketika seseorang kehilangan pengawasan akan akalnya, maka ia juga akan kehilangan kendali atas kehendak dan dirinya sendiri. Orang tersebut tidak hanya lepas dari kendali akal, tetapi juga kehilangan peranannya sebagai unsur yang produktif dalam kehidupan.

Filosofi dan spirit tentang produktivitas itu sendiri sudah ada sejak awal peradaban manusia, karena makna produktivitas adalah keinginan (the will) dan upaya (effort) manusia untuk selalu meningkatkan kualitas kehidupan dan penghidupan di segala bidang.  Namun berapa besar keinginan dan upaya manusia untuk meningkatkan kualitas kehidupan, tidak terlepas dari bagaimana kondisi fisik dan mental manusia itu sendiri. Kesehatan fisik seseorang banyak dipengaruhi oleh kesehatan mentalnya.

 Atkinson menentukan kesehatan mental dengan kondisi normalitas kejiwaan.[3] Menurut beliau ada enam indikator normalitas kejiwaan seseorang.

  1. Persepsi realita yang efisien. Individu cukup realistik dalam menilai kemampuannya dan menginterpretasi dunia sekitarnya;
  2. Mengenali diri sendiri;
  3. Kemampuan untuk mengendalikan perilaku secara sadar.
  4. Harga diri dan penerimaan.
  5. Kemampuan untuk membentuk ikatan kasih. Individu yang normal dapat membentuk jalinan kasih yang erat serta mampu memuaskan orang lain. Ia peka terhadap perasaan orang lain dan tidak menuntut yang berlebihan kepada orang lain. Sebaliknya individu yang abnormal (tidak sehat jiwanya) terlalu mengurusi perlindungan diri sendiri, sehingga aktivitasnya berpusat pada diri sendiri.
  6. Produktivitas, individu yang baik adalah individu yang menyadari kemampuannya dan dapat diarahkan pada aktivitas produktif.

 Sementara, kesehatan mental yang terganggu berpengaruh terhadap pikiran, perasaan bahkan keinginan atau semangat hidup. Untuk itu perlu dimiliki semangat atau motivasi hidup yang jelas dan benar demi kelangsungan dan kebahagiaan hidup manusia itu sendiri.

Motivasi hidup manusia hanyalah realisasi atau aktualisasi amanah Allah swt. semata. Menurut Fazlur Rahman, amanah merupakan inti kodrat manusia yang diberikan sejak awal penciptaan.[4]  Amanah adalah titipan atau kepercayaan Allah yang dibebankan kepada manusia untuk menjadi hamba dan khalifah di muka bumi. Tugas hamba adalah menyembah dan berbakti kepada Penciptanya, sebab di alam alastu manusia sudah berjanji bahwa Allah adalah Tuhannya. Sedangkan tugas khalifah adalah menjadi wakil Allah di muka bumi untuk menciptakan tatanan dunia yang baik.

Ketika manusia menyadari dan memahami tujuan kehadirannya di dunia ini maka ia akan memiliki motivasi hidup yang jelas. Jika demikian halnya maka akan muncul manusia-manusia yang sehat mentalnya, dengan alasan bahwa orang yang memiliki motivasi hidup yang jelas akan mampu mengendalikan segala potensi yang ada dalam dirinya. Kesadaran akan tugasnya sebagai khalifah akan melahirkan semangat kerja, kemauan untuk bekerja dan rasa tanggung jawab yang mendalam terhadap tugas-tugas yang dikerjakan, serta mengerahkan seluruh kemampuan dan potensinya untuk mencapai tujuan hidup (kebahagiaan dunia dan akhirat).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa orang-orang produktif khususnya dalam bidang pendidikan adalah orang-orang yang sehat mentalnya.

[1] John B.P. Shaffer, Humanistic Psychology (United State of America: Prentice Hall, 1978), h. 12

[2]  Corliss Lamont, Humanisn as A Philosophy (New York: Philosophical Library Inc., 1949), h. 20.

[3] Rita  L. Atkinson, Introduction to Psychology, terj. Widjaya Kusuma (Batam: Interaksara,tt.), h. 404-406

[4] Fazlur Rahman, dalam Jalaluddin Rachmat, “Konsep-konsep Antropologi” dalam Budhy Munawar Rachman (ed.), Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Jakarta: Paramadina, 1995), h. 77.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *