Kutipan Penting
 /  Artikel / Urgensi Pendidikan Karakter
Urgensi Pendidikan Karakter

Urgensi Pendidikan Karakter

Muhlison, M.Ag

Mudir Ma’had Jamiah IAIN Padangsidimpuan

Pengertian Karakter 

Karakter secara etimologis sebagimana tertuang dalam kamus besar bahasa Indonesia memiliki pengertian sebagai sifat kejiwaan, akhlaq atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Karakter menunjukkan bagaimana seseorang bertingkah laku.

Karakter dalam bahasa Inggeris disebut ( character) bermakna hampir sama dengan sifat, perilaku, akhlak, watak, tabiat dan budi pekerti. Karakter sebagaimana dijelaskan di atas makna harfiahnya sama dengan watak. Watak secara bahasa diartikan juga dengan karakter ialah pribadi yang menyatakan dirinya dalam segala tindakan dan pernyataan, dalam hubungannya dengan bakat, pendidikan,

pengalaman dan alam sekitarnya. Watak juga dapat diartikan sebagai karakter seluruh “aku” yang ternyata dalam tindakannya (insani, jadi dengan pilihan) terlibat dalam situasi, jadi memang di bawah pengaruh dari pihak bakat, temperamen, keadaan tubuh dan lain sebagainya.

Selanjutnya dengan dasar di atas, maka untuk usaha pendidikan watak selalu disebutkan sebagai obyek yang dapat dibina dan dikembangkan. Sebab watak merupakan keadaan jiwa yang tetap, tempat semua yang ada dalam alam kejiwaan, dengan hal tersebut watak akan tampak dari adanya kemauan dan perbuatan seseorang.

Akhlak adalah karakter. Akhlak wajib diatur sesuai pemahaman-pemahaman syara’. Kerena itu akhlak yang dikatakan baik oleh syara’ disebut akhlak yang baik; dan yang dikatakan buruk oleh syara’ disebut akhlak yang buruk. Karena akhlak merupakan bagian dari syari’at, juga bagian dari perintah dan larangan Allah. Syara’ telah memerintahkan untuk berakhlak baik dan melarang berakhlak buruk. Setiap muslim wajib berusaha sungguh-sungguh untuk menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik, sesuai dengan hukum syara’ yang berkaitan dengan akhlak.

Kata karakter sudah lama digunakan oleh berbagai kalangan ilmuan tanpa mempersoalkan identitas yang detail dari istilah itu, tetapi kata karakter oleh para akademisi mulai diperbincangkan secara kritis baik perbedaan maupun persamaan antara (akhlak, sikap, moral, adab, watak, dan karakter) dari masing-masing istilah dilihat dari sisi persamaan dan perbedaannya.

Pendidikan Karakter

Hasil seminar pendidikan Islam se-Indonesia tahun 1960 merumuskan pengertian Pendidikan Islam adalah: “Sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam”.

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia baik yang berbentuk jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh suburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi manusia dengan Allah, manusia dan alam semesta.

Dengan demikian tujuan utama pendidikan Islam dalam hal ini tentunya mendidik manusia dengan sebaik-baiknya agar tunduk kepada Allah. Selain itu juga ketundukan menghasilkan akhlak yang baik sebab dengan ketundukan kepada Allah sudah tentu akan berdampak kepada pola perilaku sehari-hari. Ketundukan dan kepatuhan terhadap norma tersebut akan menhantarkan manusia pada kebagusan budi pekerti.

Dalam pendidikan karakter tentu berbagai macam model dipergunakan,mulai dari urusan manajemennya, silabusnya, materinya dan lain sebagainya. Salah satu unsur dan faktor penting terbentuknya karakter manusia adalah metode keteladanan.

Doni Kusuma mendefinisikan pendidikan karakter merupakan dinamika pengembangan kemampuan yang berkesinambungan dalam diri manusia untuk mengadakan internalisasi nilai-nilai sehingga menghasilkan diposisi aktif, stabil dalam diri individu.

Pendidikan karakter sebagai suatu proses pendidikan secara holistis yang menghubungkan dimensi moral dengan ranah sosial dalam kehidupan peserta didik sebagai pondasi bagi terbentuknya manusia berkualitas yang mampu hidup mandiri dan memiliki prinsip sebagai suatu kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Pendidikan karakter secara khusus pada dasarnya dibentuk oleh beberapa pilar yang saling berkaitan. Adapun pilar-pilar karakter ini adalah nilai-nilai luhur universal yang terdiri dari:


  • Cinta Tuhan dan alam semesta beserta isinya.
  • Tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian.
  • Hormat dan santun.
  • Kasih sayang, kepedulian, dan kerjasama.
  • Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah.
  • Keadilan dan kepemimpinan.
  • Baik dan rendah hati.
  • Toleransi, cinta damai, dan persatuan.

Mendidik agar manusia berkarakter.Al-Quran menyatakan bahwa dalam ajaran agama harus ada patron, agama Islam sebagai sebuah agama yang diakui dunia dengan jumlah umat yang sangat besar. Sebagai uswathun hasanah-nya adalah nabi Muhammad Saw. Sesuai dengan surah al-Ahzab ayat 21 sebagai berikut:

Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.

Pembinaan Karakter

Karakter sesuai dengan apa yang dikemukakan di atas meliputi, budi pekerti yang luhur, sikap hidup yang terpelajar Akal pikiran yang normal, fisik biologis yang sehat, kebiasaan hidup yang baik, senang memenuhi tugas dan kewajiban, disiplin, tekun bekerja dan ikhlas beramal yang sesuai dengan keinginan masyarakat.

Karakter harus mementingkan pembiasaan-pembiasaan yang pada akhirnya tercipta suatu perilaku yang telah melekat pada diri seseorang. Pembiasaan tersebut lama-kelamaan akan berubah menjadi budaya dan dapat juga disebut dengan budaya sekolah. Budaya sekolah adalah kualitas kehidupan sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan sprit dan nilai-nilai tertentu yang dianut sekolah. Lebih lanjut dikatakan budaya sekolah adalah keseluruhan latar fisik, lingkungan, suasana, rasa, sifat, dan iklim sekolah yang secara produktif mampu memberikan pengalaman baik bagi bertumbuhkembangnya kecerdasan, keterampilan, dan aktivitas siswa.

Pembiasaan sehingga menjadi budaya terlihat sangat penting dalam pembinaan manusia terutama mahasantriah yang dalam hal ini tentu memiliki standarisasi minimal keberhasilan dalam menanamkan karakter yang baik dalam diri mahasiswa.

Dalam pandangan Islam, proses pembentukan pribadi manusia tidak hanya diusahakan oleh manusia dengan berbagai teori sebagaimana teori Barat (nativisme, emprisme, dan konvergensi), melainkan juga ditentukan oleh hidayah dari Allah SWT.

Proses pendidikan dalam Islam digambarkan Nabi Muhammad SAW seperti proses bertani. Bahwa untuk menghasilkan produk pertanian yang baik diperlukan bibit yang unggul dan baik (nativisme: berdasarkan keturunan) dan tanah yang subur, pupuk yang cukup, cuaca yang tepat, air yang cukup, pemeliharaan yang telaten, dan cara menanam yang benar (emprisme: pengaruh luar, lingkungan). Namun semua ini belum menjamin bahwa pertanian tersebut akan berhasil dengan baik.

Metode Pendidikan Karakter

Pengajaran akhlak berarti pengajaran tentang bentuk batin seseorang yang kelihatan pada tindak tanduknya (tingkah lakuknya). Dalam pelaksanaannya, pengajaran ini berarti proses kegiatan belajar mengajar dalam mencapai tujuan supaya yang diajar berakhlak baik. Pengajaran akhlak salah satu bagian dari pengajaran agama, karena itu patokan penilaiannya adalah ajaran agama.

Sasaran pembicaraan pembinaan akhlak ialah pembinaan perbuatan seseorang pada diri sendiri seperti sabar, wara’, zuhud, ridha, qona’ah dan sebagainya. Begitu juga dengan perbuatan yang berhungan dengan orang lain seperti pemurah, penyantun, penyayang, benar, berani, jujur, patuh disiplin dan sebagainya.Adapun metode yang dapat digunakan dalam pembinaan karakter/akhlak antara lain: Metode teladan, Metode nasehat,Metode cerita, Metode kebiasaan, Metode penyaluran kekuatan, Metode mengisi kekosongan dan Metode hikmah suatu peristiwaز

REFERENSI:
Tuhana Taufik Andrianto, Mengembangkan Karakter Sukses Anak di Era Cyber Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011
Mardianto, Psikologi Pendidikan Medan: Perdana Publishing, 2012.
Muzayyin Arifin, Filsafat Pendidikan Islam Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
Haidar Putra Daulay, Pemberdayaan Pendidikan Islam di Indonesia Jakarta: Rineka Cipta, 2009
Zainal Efendi Hasibuan, dkk, Transformasi Pendidikan Berkarakter dalam Proses Pembelajaran dan Pengembangan Kurikulum Medan: Mitra, 2013.
Suprapto, dkk, Budaya Sekolah dan Mutu Pendidikan Jakarta: Pena Citasatria, 2008.
Chabib Thoha, Metodologi Pengajaran Agama Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999.

Akhlak merupakan bagian dari syari’at, juga bagian dari perintah dan larangan Allah. Syara’ telah memerintahkan untuk berakhlak baik dan melarang berakhlak buruk. Setiap muslim wajib berusaha sungguh-sungguh untuk menghiasi dirinya dengan akhlak yang baik, sesuai dengan hukum syara’ yang berkaitan dengan akhlak.

Tags:

Related Posts

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked.*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan Dengan Motto: "Cerdas dan Berintegritas"

Jalan T. Rizal Nurdin, Km. 4,5 Sihitang. Padangsidimpuan, Kode Pos 22733.

Untuk info lebih lanjut:

Telp. (0634) 22080

Fax. (0634) 24022

humas@iain-padangsidimpuan.ac.id

Kategori

  • Akademik
  • Administrasi Umum
  • Layanan Fakultas
  • Program Studi
  • Beasiswa
  • Kemahasiswaan
  • Lembaga dan UPT
  • Penelitian
  • Jurnal Dosen

Link Penting

  • UPT Perpustakaan
  • LPPM
  • LPM
  • SATGAS SPI
  • Humas
  • Mah'had Jami'ah
  • SEMA dan DEMA
  • UKM dan UKK
  • Lembaga Bahasa

download free uapkmod,action game apk mod, android apps apk mod