Membangun Pendidikan Berkualitas

Membangun Pendidikan Berkualitas

Samsuddin, M.Ag

Lembaga Penjamin Mutu IAIN Padangsidimpuan

Pendahuluan
Pendidikan berkualitas adalah amanah Undang-undang, yang tertuang dalam Undang-undang Sisdiknas tahun 2003. Pada pasal 3 disebutkan bahwa:“ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. (UU Sisdiknas 2003 pasal 3).

Mewujudkannya juga harus dilakukan dengan strategi yang berkualitas. Faktor guru/Kepala Sekolah memegang peran sangat penting dalam mengantarkan sekolah menjadi sekolah berkualitas.

Oleh karena itu penjaringan, pengelolaan dan Pemeliharaan guru harus dilakukan serius. Mereka harus dijamin ketenangan dan kenyamanan hidup dan masa depannya, agar mereka memiliki komitmen yang tinggi terhadap tugasnya. Oleh karena itu untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan kita akan diturunkan pembahasan seputar dengan strategi membangun kualitas pendidikan kita.

Konsep Pendidikan Berkualitas
Belakangan banyak bermunculan sekolah-sekolah yang berlebel unggulan, sebagai manifestasi dari harapan untuk mewujudkan UU sisdiknas tersebut. Pada hakekatnya semua sekolah berkewajiban menjadikan sekolahnya unggul/berkualitas atau unggulan dalam arti setiap sekolah harus:

Pertama mampu memberikan layanan optimal kepada seluruh anak dengan berbagai perbedaan bakat, minat & kebutuhan belajar;selain itu mampu meningkatkan secara signifikan kapabilitas yang dimiliki anak didik menjadi aktualisasi diri yang memberikan kebanggaan.

Kedua mampu membangun karakter kepribadian yang kuat, kokoh dan mantap dalam diri siswa. Paradigma sekolah mengembangkan aspek-aspek pendidikan secara dangkal harus diabaikan dan harus mengarah sekolah berkualitas yang mampu mengembangkan dimensi kognitif, dimensi ketrampilan, dimensi nilai, dimensi hubungan: hubungan yang dibangun oleh keluaran pendidikan (outcome) terutama dunia kerja dan masyarakat.

Ketiga Keunggulan sekolah terletak pada bagaimana cara sekolah merancang-bangun sekolah sebagai organisasi. Maksudnya adalah bagaimana struktur organisasi pada sekolah itu disusun, bagaimana warga sekolah berpartisipasi, bagaimana setiap orang memiliki peran dan tanggung jawab yang sesuai dan bagaimana terjadinya pelimpahan dan pendelegasian wewenang yang disertai tangung jawab.

Keempat dalam implementasinya membangun sekolah bermutu perlu pendalaman konsep yang harus komprehensif, tidak bisa hanya satu atau dua elemen sistem yang berjalan melainkan antara komponen satu dengan yang lainnya bisa saling menguatkan dan bersinergis untuk bisa menggapai tujuan yang hendak dicapai, diawali dengan visi, misi dan tujuan sekolah yang jelas dan terukur, daya dukung yang kuat dan pengelolaan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan tentu ini menjadi bagian yang harus diperhatikan. Dewasa ini dalam istilah manajemen untuk menuju pengelolaan yang menyeluruh dan berorientasi pada mutu, sering dikenal dengan istilah Manajemen Mutu Total (MMT) lebih populer dalam dunia industri dengan istilah Total Quality Manajemen (TQM). Pendekatan yang dapat digunakan untuk menjelaskan karakteristik MMT di sekolah adalah pendekatan input, proses , output dan outcome.

Restrukturisasi Sekolah bermutu.
Konsep sekolah bermutu harus segera direstrukturisasi. Restrukrutisasi sekolah bermutu yang ditawarkan adalah sebagai berikut:

Pertama, program sekolah unggulan kelas harus dibuat heterogen sehingga anak yang memiliki bakat keunggulan bisa bergaul dan bersosialisasi dengan semua orang dari tingkatan dan latar berlakang yang beraneka ragam. Pelaksanaan pembelajaran harus menyatu dengan kelas biasa, hanya saja siswa yang memiliki bakat keunggulan tertentu disalurkan dan dikembangkan bersama-sama dengan anak yang memiliki bakat keunggulan serupa.

Kedua, dasar pemilihan keunggulan tidak hanya didasarkan pada kemampuan intelegensi dalam lingkup sempit yang berupa kemampuan logika-matematika seperti yang diwujudkan dalam test IQ. Keunggulan seseorang dapat dijaring melalui berbagai keberbakatan seperti yang hingga kini dikenal adanya 8 macam kecerdasan, linguistik, logika, visual, musik, interpersonal, komunikasi interpersonal kinestetik, dan natural.

Ketiga, sekolah unggulan menjaring semua anak yang memiliki bakat keunggulan dari semua kalangan. Berbagai sekolah unggulan yang dikembangkan di Amerika justru untuk membela kalangan miskin. Misalnya Effectif School yang dikembangkan awal 1980-an oleh Ronald Edmonds di Harvard University adalah untuk membela anak dari kalangan miskin karena prestasinya tak kalah dengan anak kaya. Demikian pula dengan School Development Program yang dikembangkan oleh James Comer ditujukan untuk meningkatkan pendidikan bagi siswa yang berasal dari keluarga miskin. Accellerated School yang diciptakan oleh Henry Levin dari Standford University juga memfokuskan untuk memacu prestasi yang tinggi pada siswa kurang beruntung atau siswa beresiko. Essential school yang diciptakan oleh Theodore Sizer dari Brown University, ditujukan untuk memenuhi kebutuhan siswa kurang mampu.

Keempat, sekolah unggulan harus memiliki model manajemen sekolah yang unggul yaitu yang melibatkan partisipasi semua stakeholder sekolah, memiliki kepemimpinan yang kuat, memiliki budaya sekolah yang kuat, mengutamakan pelayanan pada siswa, menghargasi prestasi setiap siswa berdasar kondisinya masing-masing, terpenuhinya harapan siswa dan berbagai pihak terkait dengan memuaskan. Itu semua akan tercapai apabila pengelolaan sekolah telah mandiri di atas pundak sekolah sendiri bukan ditentukan oleh birokrasi yang lebih tinggi. Saat ini amat tepat untuk mengembangkan sekolah unggulan karena terdapat dua suprastruktur yang mendukung.

Pertama, UU No. 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dimana pendidikan termasuk salah satu bidang yang didesentralisasikan. Dengan adanya kedekatan birokrasi antara sekolah dengan Kabupaten/Kota diharapkan perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan sekolah unggulan semakin serius.

Kelima, adanya UU No. 25 tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004 yang didalamnya memuat bahwa salah satu program pendidikan pra-sekolah, pendidikan dasar dan pendidikan menengah adalah terwujudnya pendidikan berbasis masyarakat/sekolah. Melalui pendidikan berbasis masyarakat/sekolah inilah warga sekolah akan memiliki kekuasaan penuh dalam mengelola sekolah. Setiap sekolah akan menjadi sekolah unggulan apabila diberi wewenang untuk mengelola dirinya sendiri dan diberi tanggung jawab penuh. Selama sekolah-sekolah hanya dijadikan alat oleh birokrasi di atasnya (baca: dinas pendidikan) maka sekolah tidak akan pernah menjadi sekolah unggulan. Bisa saja semua sekolah menjadi sekolah unggulan yang berbeda-beda berdasarkan pontensi dan kebutuhan warganya. Apabila semua sekolah telah menjadi sekolah unggulan maka tidak sulit bagi negeri ini untuk bangkit dari keterpurukannya.

Penutup
Demikian pemikiran ini diluncurkan agar menjadi konstribusi bagi penyelenggara pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan menuju pencerdasan anak bangsa yang ke depannya akan menjadi pewaris dan pemegang kekuasaan dan pengendali pemerintahan untuk tercapainya tujuan dasar negara kita sejahtera adil dan makmur

Catatan penulis:

Meningkatkan kualitas pendidikan menuju pencerdasan anak bangsa yang ke depannya akan menjadi pewaris dan pemegang kekuasaan dan pengendali pemerintahan untuk tercapainya tujuan dasar negara yang lebih kokoh dan bermutu

Tags:

Related Posts

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked.*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jalan T. Rizal Nurdin, Km. 4,5 Sihitang. Padangsidimpuan, Kode Pos 22733.

Untuk info lebih lanjut:

Telp. (0634) 22080

Fax. (0634) 24022

humas@iain-padangsidimpuan.ac.id