Peran Kontrol Pimpinan dalam Menumbuhkan  Perilaku Proaktif Pegawai

Peran Kontrol Pimpinan dalam Menumbuhkan Perilaku Proaktif Pegawai

H. Aswadi Lubis, SE., M.Si

Satuan Pengawas Internal IAIN Padangsidimpuan

Pendahuluan

Perkembangan teknologi dan informasi yang begitu pesat saat ini menyebabkan persaingan begitu ketat sehingga menuntut perubahan cara pengelolaan organisasi. Peranan pimpinan dalam suatu organisasi itu sangatlah penting karena keberadaan pimpinan yaitu menjadi salah satu ujung tombak dari keberhasilan perubahan dalam berorganisasi.

Dalam kondisi saat ini perlunya mendorong pegawai untuk berperilaku proaktif serta merangsangnya untuk berkontribusi demi keberhasilan organisasi yang pada akhirnya mendapatkan keuntungan kompetitif

yang berkelanjutan (Frese & Fay, 2001). Oleh karena diharapkan manajemen dapat mempengaruhi tingkat perilaku proaktif pegawai dan kinerja organisasi secara keseluruhan.

Perilaku proaktif adalah tindakan inisiatif diri dan berorientasi pada masa depan yang bertujuan untuk mengubah dan memperbaiki situasi diri (Parker, Williams & Turner, 2006). Menurut Bindl & Parker, 2010) bahwa perilaku proaktif pegawai terbukti memiliki efek yang sangat besar dapat peningkatan kinerja. Penelitian Crant (1995) menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara perilaku proaktif pegawai dan kinerja penjualan pada sebuah organisasi. Lebih lanjut Crant mengatakan bahwa kinerja akan muncul karena pegawai  lebih proaktif dalam menciptakan situasi yang akan memberikan kontribusi untuk kinerja yang lebih baik.

Pengertian Pemimpin dan Kepemimpinan

Masalah kepemimpinan merupakan hal yang sangat luas dan menyangkut bidang yang sangat luas dan memainkan peran yang sangat penting dalam berbagai bidang, diantaranya bidang pemasaran, pendidikan, industri, organisasi sosial bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam setiap masyarakat timbul dua kelompok yang berbeda peranan sosialnya, yaitu yang memimpin sebagai golongan kecil yang terpilih dan kelompok yang dipimpin adalah orang kebanyakan. Tanpa adanya seorang pemimpin maka tujuan organisasi yang dibuat tidak akan ada artinya karena tidak ada orang yang bertindak sebagai penyatu terhadap berbagai kepentingan yang ada.

Jika melihat perkembangan berbagai teori mengenai kepemimpinan yang ada, maka timbul suatu kesadaran bahwa perkembangan teori kepemimpinan telah berkembang sedemikian pesat sejalan dengan perkembangan kehidupan yang ada. Kepemimpinan tidak lagi dipandang sebagai penunjuk jalan namun sebagai partner yang bersama-sama dengan anggota lain berusaha mencapai tujuan.

Bermula dari pengertian kepemimpinan itu sendiri, sejak awal mula telah begitu banyak ahli mencoba mendefinisikannya dengan berbagai aspek dan pendekatannya. Istilah ini pun telah sangat dikenal dalam kehidupan sehari-hari karena menyangkut bidang yang sangat luas. Menurut Stogdill (1974) kepemimpinan dianggapnya sebagai proses atau tindakan untuk mempengaruhi aktivitas suatu kelompok organisasi dalam usaha mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Fiedler (1967) menyatakan bahwa kepemimpinan pada dasarnya merupakan pola hubungan antara individu-individu yang menggunakan wewenang dan pengaruhnya terhadap sekelompok orang agar bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan.

Dari dua definisi yang telah diajukan tersebut secara jelas menunjukkan bagaimana kepemimpinan tersebut diartikan, yaitu berkaitan usaha mempengaruhi dan menggunakan wewenang. Pengertian tersebut memberi suatu pemikiran bahwa pemimpin dipandang sebagai orang yang memiliki kecakapan lebih dalam usaha untuk memotivasi orang melakukan sesuatu seperti yang diharapkan pemimpin.

Kontrol atau Pengawasan

Controlling atau pengawasan dan pengendalian (wasdal) adalah proses untuk mengamati secara terus menerus pelaksanaan kegiatan sesuai dengan rencana kerja yang sudah disusun dan mengadakan koreksi jika terjadi. Controlling atau pengawasan adalah fungsi manajemen dimana peran dari personal yang sudah memiliki tugas, wewenang dan menjalankan pelaksanaannya perlu dilakukan pengawasan agar supaya berjalan sesuai dengan tujuan, visi dan misi perusahaan. Di dalam manajemen perusahaan yang modern fungsi control ini biasanya dilakukan oleh divisi audit internal. Pengawasan merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi manajemen yang lain, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Dalam hal ini, Louis E. Boone dan David L. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai: “the process by which manager determine wether actual operation are consistent with plans”.

Sementara itu, Robert J. Mocker sebagaimana disampaikan oleh T. Hani Handoko (1995) mengemukakan definisi pengawasan yang di dalamnya memuat unsur esensial proses pengawasan, bahwa: “pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan – tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan-penyimpangan, serta mengambil tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan dipergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.”

Dengan demikian, pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan yang diperlukan untuk mengatasinya.

Perilaku Proaktif Pegawai

Perilaku proaktif diartikan sebagai proses pengambilan inisiatif untuk membuat situasi sekarang menjadi lebih baik, dan tidak pasif beradaptasi dengan situasi tetapi berusaha untuk merubahnya. Perilaku proaktif merupakan bentuk perilaku tertentu termotivasi ditempat kerja (Bateman & Crant, 1998).

Parker (2006) merumuskan konsep proaktif, dalam konseptualisasi mereka, perilaku proaktif diartikan sebagai tindakan antisipatif yang pegawai ambil yang akan berdampak bagi diri mereka sendiri dan/ atau lingkungan mereka. Dalam Kamus disebutkan bahwa perilaku proaktif sebagai sesuatu yang menciptakan atau mengendalikan situasi dengan mengambil inisiatif  atau mengantisipasi peristiwa.

Pegawai yang proaktif dapat diharapkan mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah mereka sendiri dan menunjukkan inisiatif pribadi ditempat kerja (Crant, 2000). Frese dan Fay (2001) menunjukkan perilaku proaktif ada ketika pegawai dapat menetapkan tujuan mereka sendiri, dapat melampaui tugas yang telah ditetapkan dan memiliki focus jangka panjang  pada pekerjaan mereka.

Peran Pimpinan dalam Menciptakan Perilaku Proaktif Pegawai

Popper (2003) menyebutkan bahwa para pemimpin seperti halnya orangtua, adalah tokoh-tokoh yang berperan dalam membimbing, mengarahkan, mengambil alih dan merawat orang lain yang menjadi bawahan mereka dan yang nasibnya sangat bergantung pada mereka. Penelitian Wu & Parker menunjukkan bahwa pimpinan dapat berfungsi sebagai dasar untuk meningkatkan kompetensi dan motivasi pegawai untuk mengeksplorasi dan perilaku proaktif ditempat kerja. Argumen utama untuk dukungan pimpinan terhadap sikap proaktif adalah bahwa dukungan dari pemimpin akan meningkatkan kompetensi dan kemauan pegawai untuk memulai perubahan yang berfokus pada masa depan. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa dukungan pemimpin positif mempengaruhi berbagai bentuk perilaku proaktif, antara lain implementasi nilai (Axtell, 2000), kreatifitas (Madjar, 2002), inisiatif pribadi (Ohly, Sonnentag & Pluntke, 2006) dan inisiatif untuk lingkungan (Ramus & Steger, 2000).

Pimpinan yang ingin menginspirasi perilaku proaktif akan menyoroti pentingnya misi dan agenda organisasi. Tujuannya harus untuk memiliki orang-orang diseluruh perusahaan yang memiliki komitmen untuk agenda strategis dengan percaya bahwa perilaku proaktif adalah unsur penting untuk keberhasilan organisasi secara keseluruhan. Dalam hal ini pimpinan dapat mengambil tindakan yang konsisten dengan kata-kata mereka, memberikan beberapa kebebasan yang lebih luas pada bawahan, dan tidak menghukup upaya proaktif yang didasari niat baik namun tidak berhasil.

Catatan Penulis

Pimpinan yang ingin menginspirasi perilaku proaktif akan menyoroti pentingnya misi dan agenda organisasi. Tujuannya harus untuk memiliki orang-orang diseluruh perusahaan yang memiliki komitmen untuk agenda strategis dengan percaya bahwa perilaku proaktif adalah unsur penting untuk keberhasilan organisasi secara keseluruhan.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked.*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Agenda IAIN Padangsidimpuan

IAIN Padangsidimpuan
Cerdas dan Berintegritas

RSS Info Kemenag RI

  • An error has occurred, which probably means the feed is down. Try again later.

Archives

Jalan T. Rizal Nurdin, Km. 4,5 Sihitang. Padangsidimpuan, Kode Pos 22733.

Untuk info lebih lanjut:

Telp. (0634) 22080

Fax. (0634) 24022

humas@iain-padangsidimpuan.ac.id

%d bloggers like this: