Mari bangun masjid IAIN Padangsidimpuan
Klik Disini
Mari bangun masjid IAIN Padangsidimpuan
Klik Disini

Agama Menjadi Daya Perekat (Centripetal)

Disamping itu pada kisaran 2019 marak lagi kecaman terhadap ide Islam Nusantara yang banyak mengejeknya dan menyalah artikan sebagai agama baru. Padahal Islam Nusantara itu adalah sebagai wujud terjadinya proses akulturasi nilai ajaran Islam yang bersifat doktrin dengan sejarah jalannya atau realitas pengamalan ajaran agama didalam kehidupan masyarakat di Nusantara. Dalam bahasa Abdurrahman Wahid (Gus Dur) seperti dalam salah satu tulisannya.(Islam Nusantara, dari Usul Fiqih hingga Paham Kebangsaan, Ahmad Sahal dan Munawir Aziz: Editor, Bandung PT. Mizan Pustaka, 2015, hal. 33) beliau sebut dengan terminologi; Pribumisasi Islam.Hakikinya adalah bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang menggandeng budaya dan kearifan lokal sepanjang tidak bertentangan dengan doktrin Islam.
Tapi Paradigma Akbar itu digugat karena dikhawatirkan mengaburkan ajaran Islam artinya tidak mendapat tempat di Nusantara ini sebab gagasan brilian yang muncul ini mendapat anti tesis. Padahal ide itu muncul sebagai tawaran bersifat alternatif lazimnya diskursus pada masyarakat terpelajar dan tujuannya tidak lain sebagai usaha tetap terjalinnya ukhuwah. Kenapa bisa demikian ?. Sebab paham Agama selalu menjadi sumber konplik karena salah menafsirkan dan menempatkan.
Dalam konteks ini sangat relevan pikiran Nasaruddin Umar bahwa: Agama memiliki dua kekuatan utama, yaitu sebagai faktor kekuatan daya penyatu (centripetal) dan faktor kekuatan daya pemecah belah (centrifugal). Lihat buku Islam Fungsional_revitalisasi dan reaktualisasi Nilai-nilai keislaman, Jakarta, PT. Elex Media Komputindo, 2014, hal. 80). Sikap inklusiv dalam beragama adalah sebuah pilihan yang paling selamat. Bila tidak, adanya aliran (dalam pemahaman teologi), dan perbedaan soal pemahaman tentang dosa, kafir, takdir dsb bagi sebagaian menjadi pankal keributan (bisa baca mjunculnya golongan Syiah, Maturudiyah, Khawarij dsb. Juga menjadi mazhab (beda pandangan hukum fiqih), politik dsb, sangat berpotensi menjadi sumber memecah belah dan telahn terpampang dalam catatan sejarah peradaban. Inilah makna kekuatan agama sebagai sumber permecahan. Padahal beda pemahaman adalah sebuah khazanah yang memperkaya makna agama sendiri yang selalu ditelaah tanpa henti, sepanjang manusia itu punya keperdulian pada ajaran agamanya yang bersifat dinamis ia akan ada pemahaman yang berobah.


Kontributor :
Fotografer :
Editor :

About the author

Pengelola Sub Bagian Humas dan Informasi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.