Mari bangun masjid IAIN Padangsidimpuan
Klik Disini
Mari bangun masjid IAIN Padangsidimpuan
Klik Disini

Agama Menjadi Daya Perekat (Centripetal)

Agama sebagai pemersatu harus diutamakan dan sebagai sumber pemecah belah mesti dirontokkan sebab tidak mungkin agama hanya satu, apalagi pemahaman terhadap ajaran agama itu.Maka yang mempersatukan adalah nilai kemanusiaan, kebersamaan, keluhuran budi, dan kesatuan tekat membentuk kehidupan damai.Manusia ditakdirkan memiliki perbedaan. Sangat bernas Allah nyatakan bahwa manusia diciptakan berbeda beda dengan banyak dimensi (Q.S. Alhujrat ayat 3).Tapi saat dimensi spritualitas manusia (kesadaran sesama ciptaan Tuhan) yang dikedepankan akan muncul keterbukaan dan tautan kebersamaan dan jiwa kosmopolitan sebab merasa satu rumah (popularitas bumi). Bila spiritual dan mental tertata akan terkondisi kesadaran bahwa ilmu dan pemahaman yang ia miliki adalah amanah dan sangat tidak layak merendahkan pendapat yang lain sebab sama sama penerima amanah dan anugerah yang datang Ilahi pemilik ilmu.
Nabi Muhammad saw adalah contoh satu satunya yang memimpin manusia yang plural menjadi menyatu, konsekwensi dari sikap santun, keteladanan, pikiran yang visioner, semangat humanitas dan sosok yang tampil sebagai poblem solver, mengangkat martabat kemanusiaan, sehingga agama Tauhid yang bergerak dalam aplikasi hidup yang transformatif membuat agama Islam menjadi diminati bukan di-fobia-i hingga menekan sikap destruktif dari agama lain. Kata Komaruddin Hidayat: “Nilai egalitarianime dalam pesan tauhid tidak hanya mengubah karakter sosial masyarakat Arab, tapi juga mengubah orientasi mereka dalam menjalani hidup”. Lihat buku: Iman Yang Menyejarah, Jakarta, PT. Mizan Publika, 2018, hal. 101). Kenapa sedemikian sebab jiwa dan kesadaran mereka sama-sama merasakan bahwa “Tuhanlah As-Somad” yakni pemegang ketentuan.
Dalam konteks masyarakat kita di Indonesia kecendrungan menista agama oranglain adalah sikap yang kontra produktif dan sangat bertentangan bukan saja terhadap ajaran agama itu sendiri, juga bagi dasar bernegara kita yakni Pancasila dan UUD 1945, yang sudah mengakomodir pluralitas. Oleh karena itu sikap terbuka dan dialogis dengan berpantang membuka hal-hal yang sifatnya aliran, kepercayaan, beda pemahaman dan pengamalan ajaran adalah sebuah keniscayaan. Mempertemukan kesamaan dan mengabaikan perbedaan adalah jauh lebih maslahat. Bila sikap itu sebagai usaha menghindari konplik antar umat beragama, juga secara internal inter umat beragama juga penting dilaksanakan.
Seringnya muncul para pemuka agama seperti pemegang otoritas kebenaran ajaran agama perlu dikaji ulang.Sebab setiap manusia ilmunya tidak lebih sebagai capaian persepsi akal bersifat relative justru Allah-lah sebagai pemegang otoritas.Bila tidak saling menyadari sifat relativitas manusia maka saling tonjok bertekak urat leher menjadi tontonan biasa hingga saling mengkafirkan yang mata rantainya tidak putus sejak zaman Ali ra dengan Muawiyah bin Abi Sofyan hingga kini dan masa dating.Mata rantai konplik itu tidak mesti berlanjut dan bisa berhenti bila saling menyadari diri. Merasa bahwa pandangannya paling benar boleh saja, akan tetapi dakwakanlah sebagai sebuah alternative tanpa memutlakkannya.


Kontributor :
Fotografer :
Editor :

About the author

Pengelola Sub Bagian Humas dan Informasi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.