FENOMENA EBOOK DALAM PERSPEKTIF ANTHONY GIDDENS

FENOMENA EBOOK DALAM PERSPEKTIF ANTHONY GIDDENS

Yusri Fahmi, S.Ag., S.S., M.Hum

Kepala UPT Pusat Perpustakaan

Catatan Penulis:

“Keberadaan ebook akan menimbulkan ketidakjelasan atau bahkan menghilangkan hak cipta para penulis terutama yang berkaitan dengan hak ekonomi mereka. Hal ini disebabkan oleh proses duplikasi ebook dapat dilakukan secara masif oleh siapa saja dan kapan saja dengan bantuan teknologi komputer. Inilah yang dimaksud oleh Anthony Giddens dengan istilah Manufactured uncertainty

Pendahuluan

Dalam buku The Consequences of Modernity  Giddens mengamati jalannya dunia sekarang ini dalam kondisi ketidakpastian. Ketidakpastian ini direkayasa oleh manusia sendiri berkat teknologi yang diciptakannya, atau yang dikenal dengan istilah ”Manufactured Uncertainy”. Dengan sebuah metafor Juggernaut (truk besar) yang meluncur tanpa kendali sehingga tidak ada satu manusia pun yang mampu meloloskan dari situasi seperti ini. Terlebih tidak ada satu pun manusia yang dapat mengendalikannya.

Salah satu produk teknologi informasi adalah ebook. Dalam jangka panjang ebook akan memberi efek mengejutkan bila kemudian muncul dengan halaman cover virtual. Apalagi bila kemudian itu akan tersambung ke internet sehingga akan mengubah banyak hal seperti cara membaca dan cara kerja di bidang perbukuan. Buku fisik hanya dapat dibuka untuk satu dunia kecil, sementara ebooks memungkinkan dibuka dari seluruh dunia dari genggaman tangan saja. Perkembangan ebook selanjutnya menimbulkan sejumlah masalah salah satunya ketidakpastian perlindungan hak cipta penulisnya terutama menyangkut hak moral dan ekonomi. Selain itu, keberlangsungan kehidupan penerbitan buku fisik akan terancam.

Makalah akan ini akan membahas permasalahan diatas dengan menggunakan konsep Manufactured Uncertainty Anthony Giddens.

Pembahasan

Pemikiran Anthony Giddens

Giddens adalah seorang teoritis social yang membangun teorinya secara elektik. Ia mengkritisi banyak toeri social yang menjadi warisan ‘trasdisi ortodoks’ sekaligus menggunakan bagian-bagiannya sebagai titik tolak kritis untuk membangun teorinya sendiri. Teori strukturasi dibagun dalam proses panjang kritis dan sintesis.

Giddens memusatkan perhatiannya pada upaya untuk merekonstruksi secara radikal teori social karena teori yang ada tidak memadai lagi untuk memahami kondisi masyarakat modern dan perubahan social yang terjadi di dalamnya. Ia mengkritisi teori social klasik, mengambil hal-hal yang berguna untuk membangun teori yang baru dan membuang yang dianggapnya tidak relevan. Namun Giddens juga membawa perubahan pada ilmu-ilmu social yang lain seperti sejarah, geografi dan ekonomi (Craib, 1992:2).

Di samping merevisi pemahaman terhadap sosiologi yang semula mengikuti model ilmu alam, Giddens juga memperbaharui pendekatan dalam membahas persoalan ‘struktur’ dan tindakan. Giddens memahami hal yang semula dianggap dualisme tersebut dengan menggunakan pendekatan dualitas, tersebut dengan menggunakan pendekatan dualitas, keduanya merupakan dua sisi dari mata uang yang sama. Pemikiran Giddens bias dianggap merupakan jalan tengah dari cara pendekatan lama dalam teori social, sebagaimana Giddens juga menawarkan jalan tengah dari cara pendekatan lama dalam teori social modern pada bukunya The Thrid Way (1998).

Di samping itu dalam teori strukturasi Giddens juga menggambarkan corak pemikiran yang cenderung ontologis dibanding epistomologis. Giddens mengkritisi kecenderungan sosiolog yang terlalu menaruh perhatian pada upaya menghasilkan pengetahuan yang ilmiah, atau dengan kata lain mempersoalkan kedudukan ilmiah sosiologi diantara ilmu-ilmu alam, dibanding melihat persoalan dalam social dan memutuskan apa yang harus menjadi bahasan sosiologi (Craib, 1992:3).

Dalam bukunya The Consequences of Modernity (1990), Giddens mengamati jalannya dunia sekarang ini dalam kondisi ketidakpastian. Ketidakpastian ini direkayasa oleh manusia sendiri berkat teknologi yang diciptakannya, atau yang dikenal dengan istilah ”Manufactured Uncertainy”.

Istilah Manufactured Uncertainy dimetaforkan dengan Juggernaut (truk besar) yang meluncur tanpa kendali sehingga tidak ada satu manusia pun yang mampu meloloskan dari situasi seperti ini. Terlebih tidak ada satu pun manusia yang dapat mengendalikannya.

Ebook : Implementasi dan kontroversi

Implementasi Ebook

Ebook adalah buku cetak yang diubah bentuk menjadi elektronik untuk dibaca dilayar monitor. Beberapa cara untuk mendapatkan ebook antara lain adalah dengan  membeli ebook via internet dan dibaca serta disimpan dengan alat bacanya (ebook readers). Cara lain dengan memperoleh dengan free down load dari internet yaitu dari situs-situs yang menyediakan ebook. Pada awal 1990an para penerbit sempat menanamkan modal  pada teknologi CD-ROM, dan berharap CD-ROM dapat memperlancar dalam pemasaran  berbagai macam karya dalam bentuk multimedia, tetapi setelah satu dekade tampaknya teknologi CD-ROM  tidak  populer, sampai kemudian hadir  teknologi yang lebih populer, yaitu internet. Perhatian pun beralih ke media baru ini, sehingga beberapa penerbit mulai beralih menawarkan buku lewat internet.  Dukungan pemerintah seperti di Inggris dan Cina, ikut  mendorong program “buku masuk internet”, khususnya untuk buku pendidikan  dan ilmu.

Alat pembaca buku elektronik (ebook readers) belum pernah mencapai tingkatan penjualan massal, tetapi para pelaku industri tampaknya tak berhenti mencoba. Di tahun 2006, raksasa elektronik Sony melepas ke pasar sebuah alat baca yang mampu menyimpan  sampai 8 judul dalam memori.

Pada tahun 2000, sebuah studi oleh University of California (Snowhill, 2001) menghasilkan kesimpulan bahwa walaupun buku elektronik punya potensi sangat besar untuk membantu dunia pendidikan, namun dunia akademik masih harus menghadapi beberapa isu penting. Walaupun  penelitian itu sudah cukup lama, namun isunya sampai sekarang masih serupa dan belum banyak berubah, yaitu dalam hal :

  • Kandungan isi buku
  • Protokol/standar perangkat lunak dan kertas
  • Hak cipta dan pemakaian – Digital Rights Management
  • Akses
  • Penyimpanan atau pengarsipan
  • Hak Pribadi (privacy)
  • Fasilitas tambahan

Terlepas dari berbagai kelemahannya, kelebihan dari ebook yang dilanggan lewat perusahan penyedia (misalnya NetLibrary) tentu juga memikat pustakawan maupun pengguna. Karena, ebook mengurangi kebutuhan akan ruang penyimpanan, nyaris tidak membutuhkan ongkos untuk perbaikan fisik buku, mempermudah dan menurunkan ongkos tukar-menukar koleksi, menghilangkan kebutuhan mengembangkan sistem pengamanan dari pencurian buku, dan sangat cocok untuk sistem belajar tersebar atau sistem belajar jarak jauh.

Kontroversi Ebook : menghadirkan kegelisahan

Dalam bukunya The Consequences of Modernity (1990), Giddens mengamati jalannya dunia sekarang ini dalam kondisi ketidakpastian. Ketidakpastian ini direkayasa oleh manusia sendiri berkat teknologi yang diciptakannya, atau yang dikenal dengan istilah ”Manufactured Uncertainy”.

Istilah Manufactured Uncertainy dimetaforkan dengan Juggernaut (truk besar) yang meluncur tanpa kendali sehingga tidak ada satu manusia pun yang mampu meloloskan dari situasi seperti ini. Terlebih tidak ada satu pun manusia yang dapat mengendalikannya.

Sebuah kekuatan dimana manusia dapat menghelanya dengan baik tapi pada saat bersamaan mengancam kontrol atas kekuatan tersebut. Pengalaman modernitas kemudian menurut Giddens diartikan metafor mengendarai juggernaut, sebuah pengalaman penuh menggembirakan yang ambivalen, menyadari potensi sekaligus sulit mengontrol yang dikombinasikan dengan resiko, ketidakamanan, ketidakkuasaan, dan kegelisahan.

Penerbitan buku akan diambil alih oleh buku elektronik (ebook) – teks digital yang hadir di perangkat genggam digital. Dua halangan utama yang membatasi perkembangannya adalah bandwidth kecepatan tinggi yang memungkinkan waktu download lebih cepat dan teknologi layar yang memungkinkan pengguna ebook nyaman membaca. Menurut Steven Levy (2000), meluasnya penggunaan ebooks akan membuat buku hilang atau setidaknya jauh dari bentuk dominasi membaca. Sejumlah fenomena ditunjukkan Levy bahwa kini perkembangan teknologi telah berada dihadapan kita yakni chips yang makin cepat, baterai tahan lama, disk dengan kapasitas amat besar, dan internet kecepatan tinggi. Ini semua, tambah Levy, akan membawa ebooks menjadi popular.

Bila dilihat 50 tahun lalu, komputer telah berubah ribuan kali lebih powerful dan bentuk yang menciut dari sebesar lapangan bola basket menjadi perangkat genggam yang bisa dikantongi ke dalam saku. Soal skeptisme pada perkembangan ebook, dinyatakan Levy sebagai hal mengada-ada, karena perkembangan teknologi digital akan segera memperbaiki misalnya tampilan teks di layar hingga dukungan peranti lunak (software) yang makin baik. Dalam konteks yang lebih luas, tambah Levy, ebook tidak hanya mengubah model kerja pengarang dan penerbit tapi bisnis secara luas. Karena melibatkan distributor buku, maka biasanya penerbit hanya meloloskan buku yang dirasa akan banyak pembelinya. Sementara buku-buku yang dirasa tidak akan laku akan ada dalam antrian atau malah tidak akan diterbitkan. Di sinilah kemudian peluang besar yang dapat dimanfaatkan kalau kemudian buku-buku ini diterbitkan dalam format ebook.

Dalam jangka panjang, menurut Levy, ebook akan memberi efek mengejutkan bila kemudian muncul dengan halaman cover virtual. Apalagi bila kemudian itu akan tersambung ke internet sehingga akan mengubah banyak hal yaitu : Pertama, cara membaca akan berubah. Buku fisik hanya dapat dibuka untuk satu dunia kecil, sementara ebook memungkinkan dibuka dari seluruh dunia dari genggaman tangan saja. Kedua, adalah cara kerja di bidang perbukuan akan berubah, sebagian buku akan lenyap dan hanya sebagian kecil yang muncul dalam bentuk fisik. Dalam bahasa Levy, memang buku fisik tidak akan hilang begitu saja, ibarat kuda yang digantikan mobil. Kuda tidak pernah hilang, tapi berubah fungsi dari alat transportasi menjadi alat rekreasi.

Pada tahun 2004, Google mengumumkan rencana kerjasama dengan sejumlah perpustakaan utama untuk memindai (scanning) koleksi buku yang mereka miliki. Dalam proyek ebook Google bekerja sama dengan penerbit untuk mendapatkan koleksi digital dari buku-buku yang baru diterbitkan untuk menambah database Google Books (Asociation of  Research Libraries: 2009)

Inisiatif itu memicu kontroversi besar. Sejenak setelah proyek ini diumumkan, Authors Guild, asosiasi penerbit Amerika dan sejumlah pengarang menuntut class action kepada Google dengan usahanya memindai koleksi perpustakaan sebagai pelanggaran hak cipta. Sebuah penyelesaian (settlement) terhadap tuntutan itu diumumkan pada 28 Oktober 2008. Penyelesaian ini cukup kompleks dan fokus pada material yang diproteksi oleh hak cipta meskipun sudah tidak dicetak lagi. Penyelesaian ini tidak termasuk pada  buku di area publik; buku yang dilindungi hak cipta dan masih dicetak; dan sejumlah terbitan berkala termasuk jurnal profesional, majalah, dan koran. Penyelesaian ini harus disetujui oleh Pengadilan dan dengar pendapat final masih berlangsung hingga kini.

Tantangan lain terhadap inisiatif digitalisasi buku ini datang dari Uni Eropa (Guardiansaris Eropa untuk media dan pasar tunggal, Viviane Reding dan Charlie McCreevy melancarkan kampanye untuk standarisasi hak-hak penulis di tengah kekhawatiran proyek digitalisasi buku Google. Langkah ini penting setelah pemerintah Jerman dan Perancis menentang proyek digitalisasi buku Google ini. Persoalannya situasi di Eropa sendiri sedang bingung karena terdapat 27 rezim hak cipta nasional yang berbeda di Uni Eropa. Persoalan hak cipta di era digital, akses ebook, renumerasi adil bagi penulis, dan batas-batas nasional menjadi pertanyaan dari kedua komisaris ini.

Tapi meskipun digugat di beberapa negara, proyek pemindaian buku Google ini berjalan terus. Menghadapi gugatan mengenai hak cipta, ada penyelesaian yang dilakukan yakni dibentuknya Book Right Registry yang dibentuk oleh Google dan dijalankan bersama dengan penerbit dan pengarang. Lembaga ini menjadi mekanisme pengatur pemegang hak cipta yang didaftarkan ke Google, menjadi pengumpul dan pendistribusi pembayaran royalti ke pemegang hak cipta ketika teks bukunya dipajang oleh Google Books. Soal pembagian keuntungan, Google mematok 67% penghasilan akan diserahkan ke pemegang hak cipta, sisanya untuk Google. Upaya penyelesaian terakhir dihasilkan pada 13 November lalu yakni terjadi kesepakatan pembayaran $125 juta soal hak cipta pengarang yang bukunya dipindai dalam proyek Google Books.(Grimelman :2009)

Sejatinya, tidak hanya inisiatif Google Books yang memancing kontroversi. Beberapa situs yang memajang versi pembaca digital seperti Scribd secara terang-terangan membuat penggandaan buku menjadi dokumen digital. Contohnya seperti dirasakan Ursula K. Le Gun, pengarang novel The Left Hand of Darkness. Pengarang ini memergoki ada yang mengupload halaman novelnya ke situs Scribd yang dianggapnya sebagai pembajakan kasar berbentuk digital di dunia penulisan. Ini seperti yang dirasakan oleh musisi dan pembuat film yang berhadapan dengan masalah yang sama yakni pembajakan karya intelektual lewat jalur digital. Apalagi kini perangkat pembaca ebook seperti Kindle di Amerika Serikat kini menjadi sangat popular dan mampu mengunduh ebook dalam kecepatan tinggi lewat jaringan wireless ( The New York Times :  Print Books Are Target of Pirates on the Web:2009)

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa dalam perspektif Anthony Giddens, eksistensi ebook sebagai salah satu produk teknologi informasi yang pada awal penciptaanya dimaksudkan untuk memudahkan akses informasi yang murah dan cepat tetapi pada saat yang bersamaan menimbulkan permasalahan baru di kalangan penerbit, khususnya pengarang atau penulis yang secara moral bertanggung jawab atas isi intelektual ebook tersebut. Bagi penerbit buku tercetak (printed book) yang masih menggunakan kertas sebagai bahan bakunya tentu keberadaan ebook menjadi ancaman akan keberlangsungan hidup mereka karena dengan sejumlah keunggulan yang ditawarkan oleh produsen ebook tentu akan berpengaruh pada animo masyarakat tentang buku tercetak yang pada akhirnya akan menyebabkan masyarakat beralih ke ebook. Sedangkan bagi penulis, keberadaan ebook akan menimbulkan ketidakjelasan atau bahkan menghilangkan hak cipta para penulis terutama yang berkaitan dengan hak ekonomi mereka. Hal ini disebabkan oleh proses duplikasi ebook dapat dilakukan secara masif oleh siapa saja dan kapan saja dengan bantuan teknologi komputer. Inilah yang dimaksud oleh Anthony Giddens dengan istilah Manufactured uncertainty.

 Sumber Bacaan

 Asociation of Research Libraries dapat diakses: http://www.arl.org/sc/institute/ fair/settlement.shtml Pada tanggal 3 Desember 2009.

Beresaby, Rheinatus Alfonsus. Demokrasi dialogis dalam pemikiran Anthony Giddens. Tesis tidak diterbitkan. Depok: FIB-UI, 2004.

Craib, I. Anthony Giddens. London: Routledge, 1992.

Grimmelmen, James. Why it Matter. Publisher Weekly, New York vol 256 iss 47. November 2009.

Hidaya, Bambang Wahyu. Konsep keuasaan dalam teori strukturasi menurut Anthony Giddens: sebuah kajian filosofis. Tesis tidak diterbitkan. Depok: FIB-UI, 2004.

Istijar. Membaca Peperangan “Kiri” Dan “Kanan”. Di akses Tanggal 01 Desember 2009.  http://istijarok.blogspot.com/2007_07_21_archive.html.

Pendit, Putu Lexman. Perpustakaan Digital dari A-Z. Jakarta : Cita Karyakarsa Mandiri, 2008.

Pendit, Putu Lexman et.all. Perpustakaan Digital:perpekstif Perpustakaan perguruan tinggi (seri perpustakaan dan informasi 1), Universitas Indonesia. Jakarta : Sagung Seto, 2007.

Steven Levy. Living in the information age dalam It’s time to turn the last page. Editor P. Bucy. Wadsworth Thomson Learning London, 2002.

Suarni, Raisah & M. Sastrapratedja SJ. Teori strukturasi: telaah kritis terhadap pemikiran Anthony Giddens. Sosiohumanika, Volume  XV(1), Januari 2002. pp. 239-249.

Sutanta Edhy, Sistem Informasi Manajemen : Komputer dan hak sosial Jakarta : Graha Ilmu, 2003.

The Guardian. www.guardian.co.uk.  Diakses tanggal  7 September 2009.

The New York Time : Print Books Are target of Pirates on the Web. 12 Mei 2009.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked.*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jalan T. Rizal Nurdin, Km. 4,5 Sihitang. Padangsidimpuan, Kode Pos 22733.

Untuk info lebih lanjut:

Telp. (0634) 22080

Fax. (0634) 24022

humas@iain-padangsidimpuan.ac.id