GENERASI YANG ADAPTIF TERHADAP PERUBAHAN

Ade Suhendra, M.Pd

Dosen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Tahun 2020 telah kita jalani menuju periode akhir, kini kita telah berada pada bulan Agustus, tepat 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.Tahun ini, seluruh penduduk dunia sama-sama disibukkan dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang telah melanda hampir seluruh negara di dunia dan telah menelan korban meninggal hingga 700rb lebih di seluruh dunia. Tahun 2020 tampaknya akan dikenang sangat lama dan akan membekas dalam ingatan manusia.

Halaman 1

Halaman 2

Halaman 3

Halaman 4

Hal menarik yang bisa kita renungkan bersama adalah fakta yang semakin membuktikan bahwa manusia pada momen ini sangat membutuhkan kepastian, kepastian kapan pandemi ini berakhir, kapan vaksinnya ditemukan, bulan berapa, tanggal berapa, dan seterusnya.Manusia kurang terbiasa dalam menghadapi perubahan yang pada dasarnya terjadi setiap saat dan kehidupan yang serba ketidakpastian.

Pada akhirnya, pandemi Covid-19 ini bisa kita jadikan saat dimana kita merenung kembali tentang kehidupan, menjauhkan diri dari ketamakanhidup yang tak ada habisnya, sembari belajar untuk menghadapi ketidakpastian dalam hidup, dan terbiasa menghadapi perubahan-perubahan yang senantiasa terjadi dalam kehidupan kita.

Perjalanan Bangsa Pasca Kemerdekaan

75 tahun pasca kemerdekaan Republik Indonesia tentu bukan waktu yang singkat untuk dilewati sebagai sebuah negara. Setidaknya kita telah melewati serangkaian sejarah panjang, mulai Orde Lama (Periode Bung Karno), saat di mana kita disibukkan dengan upaya mempertahankan kemerdekaan. Lalu kemudian kita melewati Orde Baru (Periode Suharto), saat di mana kita mulai menjadi bangsa yang utuh dan stabil. Setelahnya, kita kini berada dalam Era Reformasi, saat di mana kita telah melangkah menuju era keterbukaan informasi.

Perjalanan panjang ini tentu belum seberapa jika dibandingkan dengan sejarah panjang yang telah dilalui oleh negara lain seperti Amerika Serikat, yang telah merdeka hingga ratusan tahun lamanya, atau juga Perancis, Inggris, dsb. Bahkan sebenarnya ada beberapa negara lain yang usianya lebih muda dari negara kita seperti Singapore, Kambodja, dsb. Bahkan ada juga beberapa negara yang usianya jauh lebih muda dari Indonesia seperti Timor Leste, Ceko, Slovakia, Serbia, Montenegro, dsb.

Baiklah, kita kembali pada pembahasan awal bahwa 75 tahun telah kita lewati, tentu banyak hal telah kita jalani dan hadapi sebagai sebah negara yang seharusnya bisa dijadikan sebagai pelajaran penting untuk menatap masa depan, seperti ungkapan latin yang sering kita dengarkan “historia vitae magistra” bahwa sejarah itu membawa atau memberikan sebuah kebijaksanaan jika kita petik sebagai pelajaran dari sebuah perjalanan hidup.

Maka kita tak heran juga, kenapa Al-Quran banyak berisikan peristiwa-peristiwa dan sejarah-sejarah umat di masa lampau, hal ini semata untuk menjadi bahan renungan dan pelajaran bagi kita untuk melangkah menghadapi masa depan.

Maka dari itu,  25 tahun ke depan atau tepatnya pada tahun 2045, kita akan memasuki tepat 1 abad kemerdekaan Republik Indonesia. Apa yang sudah kita persiapkan kepada generasi bangsa ini untuk menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi di hadapan kita?

Era Internet of Things (IoT)

Kalau kita coba melihat pada setiap dekade awal, mulai dari 1980-an awal mula berkembangnya komputer, 1990-an awal mula internet berkembang di dunia, 2000-an, periode di mana handphone mulai marak dimiliki oleh hampir seluruh kalangan, hingga 2010-an dimana smartphone telah meningkatkan kualitas komunikasi jarak jauh manusia, maka 2020-an ini merupakan lanjutan dari periode sebelumnya bahwa kita tengah menghadapi era yang disebut sebagai era “Internet of things”, di mana semua aktivitas kita kini mulai terhubung dengan internet.

Di era “Internet of things” ini, banyak aktivitas mulai beralih ke internet dan tentunya telah menghilangkan banyak jenis pekerjaan. Inilah yang disampaikan Prof. Rhenald Kasali, Ph.D dalam salah satu karyanya yang mendapat sambutan luar biasa pada tahun 2017 lalu yaitu “Disruption”. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendisrupsi banyak aktivitas manusia, dari yang offline menuju online, dari manusia menuju mesin, dari ekonomi kepemilikian (owning economy) menuju ekonomi berbagi (sharing economy), dsb.

Banyak di antara pemain lama kurang menyadari perubahan yang telah terjadi, hingga ambruk dengan sendirinya seperti kasus Nokia yang pernah menjadi handphone sejuta umat, lalu kemudian menghilang dari peredaran. Seperti diungkapkan mantan CEO Stephen Elop mereka, “we didn’t do anything wrong, but than we losed”. Kasus yang sama dihadapi oleh Kodak yang kini menghilang dari pasaran. Juga taxi-taxi yang dulu berkeliaran, kini mulai digantikan oleh taxi online seperti Gojek, Grab, dsb. yang jauh lebih murah dan mudah terjangkau oleh pelanggan.

Ke depan, perubahan-perubahan itu akan semakin jelas terlihat dengan semakin berkurangnya peran manusia dalam setiap aktivitas kehidupan, mulai dari dari teller di Bank yang akan semakin digantikan dengan mesin ATM dan mesin yang ada di Gerai Link, bayar Tol secara non tunai, bahkan sebagaimana rencana besar Apple yang akan membuka gudang besar di langit yang kemudian dikirimkan kepada pelanggan melalui drone, dsb.

Bahkan layanan kesehatan juga nanti akan terbiasa dilakukan via online melalui smartphone antara dokter dengan pelanggannya, atau bahkan mobil yang berjalan secara otomatis melalui ponsel pintar, layanan bank yang bisa dengan mudah diakses, dsb.

Generasi yang Adaptif Terhadap Perubahan

Manusia telah melewati banyak perubahan-perubahan, waktu ke waktu yang telah dilalui sepanjang sejarah manusia. Pada awal abad ke-20 misalnya, kehidupan manusia telah dihadapkan pada proses perkembangan ilmu pengetahuan menuju meningkatnya fungsi mesin dalam kehidupan manusia. Kenderaan yang mulanya menggunakan kereta kuda, kemudian berganti menuju penggunaan mesin pada mobil dan motor, lalu kemudian di era “Internet of things” ini, akan berkembang mobil yang berpusat pada penggunaan internet. Betul, siap tidak siap, suka tidak suka, kita akan berada di sana pada masa yang akan datang.

Di setiap perubahan tentu memiliki konsekuensi-konsekuensi masing-masing, seperti misalnya perubahan dari kereta kuda menuju sepeda motor dan mobil, tentu jenis pekerjaan manusia menjadi berubah dari berbasis alam menuju mesin, keterampilan manusianya juga berubah, yang tentu harus disikapi dengan baik.

Perubahan-perubahan yang terjadi ini seperti diungkapkan oleh Rhenald Kasali, membuat orang terbagi pada dua kelompok dalam menghadapinya, yaitu: pertama, yang menerima kemudian bersedia belajar kembali, kedua, menolak kemudian tidak mau belajar.

Hal ini juga sesuai seperti yang diungkapkan oleh futurolog dahulu Alvin Tovler bahwa buta aksara di abad 21 bukan lagi tidak bisa membaca, tetapi mau atau tidak mau belajar. Dalam hal inilah kita perlu mempersiapkan generasi yang mau belajar dan beradaptasi untuk menghadapi gelombang perubahan yang akan kita hadapi ke depan.

Oleh karena itu, kita memerlukan sikap yang mau belajar seperti yang diistilahkan Carool S. Dweck sebagai pola pikir tumbuh (growth mindset), untuk dapat menghadapi masifnya perubahan-perubahan yang terjadi disekitar kita ke depan. Mau belajar menjadi kata kunci penting yang menjadi modal bagi kita untuk mempersiapan generasi bangsa ke depan yang adaptif terhadap perubahan. Pola pikir tumbuh (growth mindset) merupakan kebalikan dari sikap yang kedua yang diungkapkan Rhenald Kasali yaitu sikap menolak untuk belajar atau pola pikir tetap (fixed mindset).

Pola pikir tetap (fixed mindset)bermula dari sikap yang memandang bahwa kemampuannya sudah tetap, bisa saja memiliki intelegensi tinggi juga bisa rendah, namun dipandang tetap atau tidak tumbuh sehingga enggan untuk belajar kembali. Kurang memiliki kemauan untuk menghadapi tantangan baru atau perubahan baru yang terjadi di sekitarnya. Pola pikir tetap (fixed mindset) ini akan menghindari hal-hal yang berada di luar zona nyamannya, sehingga cenderung mengalami masalah dalam menghadap perubahan.

Berbeda halnya dengan pola pikir tumbuh (growth mindset) yang memandang perubahan sebagai tantangan yang mesti dihadapi, memiliki semangat yang tinggi untuk belajar menghadapi sesuatu yang berada di luar kebiasaannya, senang menghadapi sesuatu yang berada di luar zona nyamannya.

Upaya Menyiapkan Generasi yang Adaptif Terhadap Perubahan

Institusi pendidikan mulai dari tingkat dasar hingga pendidikan tinggi memiliki tanggungjawab untuk mempersiapkan generasi yang adaptif terhadap perubahan. Upaya ini memerlukan proses sistematis dan terencana secara integratif untuk membiasakan sikap adaptif ini.

Modal utama menyiapkan generasi yang adaptif terhadap perubahan ini adalah pendidik yang memiliki pemahaman yang utuh terkait sikap adaptif ini. Sebab, pendidik merupakan role of model (uswatun hasanah) untuk dapat memimpin perubahan ke depan.

Sudah saatnya kita tidak memandang peserta didik hanya soal kemahiran dalam aspek pengetahuan saja, apalagi yang bersifat hapalan, tetapi bagaimana peserta didik memiliki kompetensi untuk bersikap kritis dalam menghadapi ragam persoalan yang dihadapi di dalam kehidupannya.

Sehingga peserta didik diharapkan memiliki sikap untuk terus tumbuh, terus belajar, dan terbuka terhadap perkembangan yang ada, lalu kemudian memiliki sikap berani menghadapi perubahan dan mengambil keputusan. Kita tidak mau generasi kita adalah generasi yang mudah menyerah, mudah patah semangat, dan tidak berani menghadapi tantangan yang berada di luar zona nyamannya, dan tidak berani dalam mengambil keputusan.

Upaya ini harus tergambarkan secara jelas pada setiap tingkatan pendidikan mulai tingkatan dasar hingga pendidikan tinggi, sehingga kita dapat menyiapkan generasi yang adaptif terhadap perubahan dan mampu memimpin bangsa ini untuk berkompetisi di kancah internasional.

Penutup

Pada akhirnya, gelombang perubahan yang senantiasa terjadi secara eksponensial ini menuntut kita untuk memiliki sikap yang terbuka untuk terbiasa menghadapi perubahan. Pengetahuan yang kita miliki senantiasa ditumbuhkan secara terus menerus. Inilah yang dimaksudkan sebagai proses belajar sepanjang hayat, “uthlubul ‘ilma minal mahdi ila allahdi” atau “tuntutlah ilmu dari buayan hingga akhir hayat”.

Dengan demikian, proses belajar tidak mengenal kata berhenti (fixed). Harus tumbuh (growht), dan nilai inilah yang perlu dipersiapkan kepada generasi ke depan untuk bisa adaptif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupannya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Butuh Bantuan?