Idhul Adha Di Kala Covid-19: Momentum Memaknai Pentingnya Konsumsi Halal Bagi Keluarga

Aliman Syahuri Zein, MEI

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Idhul Adha merupakan hari raya yang ditunggu dengan rasa gembira oleh umat Muslim di seluruh penjuru dunia, termasuk Muslim Indonesia. Namun Idhul Adha tahun ini, bertepatan dengan tahun 1441 H sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Dimana, perayaan Idhul Adha tahun ini dilakukan di saat hampir seluruh negara di dunia dihadapkan pada pandemi Corona Virus Disease (covid)-19. Menurut sebahagian masayarakat, covid-19 selalu dikaitkan dengan kebiasaan masyarakat Wuhan, Tiongkok (sebagai daerah pertama penyebaran virus covid-19) yang gemar mengkonsumsi segala jenis makanan. Meskipun demikian, hari raya Idul Adha selalu saja menjadi sebuah rekonstruksi sejarah masa lalu. Sejarah kehidupan para kekasih Allah Swt, yaitu nabi Ibrahim As, nabi Ismail As, dan seorang ibu yang luar biasa, dialah Siti Hajar.

Halaman 1

Halaman 2

Halaman 3

Halaman 4

Ada satu prosesi dalam sejarah tersebut yang selalu mengharubirukan umat manusia, yaitu perintah dan pelaksanaan penyembelihan yang dilakukan oleh Nabiyullah Ibrahim As pada putra tercinta Nabi Ismail AS yang akhirnya oleh Allah Swt diganti dengan seekor qibas (kambing).
Sebagaimana kita ketahui bahwa nabi Ibrahim As adalah seorang Nabi dan Rasul paling mulia dan paling utama sesudah Nabi Muhammad Saw. Allah Swt menyebut nama Ibrahim di dalam Alquran tidak kurang dari 82 kali. Beliau adalah seorang Nabi dan Rasul yang ikhlas mengorbankan putranya, Nabi Ismail As semata-mata untuk memperoleh ridha Allah Swt, maka sangat wajar ketika Allah Swt memberikan predikat kepadanya sebagai “Khalilullah” (kekasih Allah), QS. al-Nisa’ ayat 125. Artinya “dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya” Selain meraih predikat “Khalilullah”, Nabi Ibrahim As juga mendapat predikat “Abu Al-Anbiya’” (nenek moyang para nabi). Karena seluruh nabi dari Bani Israil adalah anak cucu beliau melalui Nabi Ishaq As. Demikian juga Nabi Muhammad As juga keturunan beliau melalui Nabi Ismail As.
Banyak hikmah yang bisa kita petik dari sirah dan kehidupan keluarga nabi Ibrahim As sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah Swt (al-taqarrub ila Allah) serta dalam upaya membangun keluarga sejahtera (sakinah mawaddah wa rahmah). Diantara hikmah yang bisa dipetik tersebut adalah; pertama; Allah Swt bertanya pada Nabi Ibrahim, “fa aina tadzhabun”, dalam QS. At-Takwir: 26. Maka dalam suatu riwayat pertanyaan tersebut beliau jawab dengan, “Inni dzahibun ila rabbi sayahdin” Artinya: “Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan dia memberi petunjuk padaku”. Padahal di saat itu, nabi Ibrahim As dikenal sebagai seseorang yang kaya-raya dengan kepemilikan seribu ekor domba, tiga ratus ekor lembu, dan seratus ekor unta. Namun ternyata, bagi seorang Ibrahim, tujuan akhir dari hidup manusia bukanlah setumpuk harta dan kekayaan atau pangkat dan jabatan tinggi menjulang kelangit. Akan tetapi tujuan hidup manusia hanyalah Allah Swt.

Perlu disadari juga bahwa pertanyaan Allah Swt kepada nabi Ibrahim As merupakan sebuah pertanyaan moral yang mengandung banyak makna. Jika pertanyaan itu dibawa kedalam bahasa yang lebih sederhana, maka pertanyaannya akan menjadi; Hendak dibawa kemana harta kita? Hendak dibawa kemana jabatan kita? Hendak dibawa kemana pangkat kita? Hendak dibawa kemana ilmu kita? Hendak dibawa kemana tubuh kita?. Maka ditengah kesibukan kita dengan berbagai aktivitas duniawi, menjadi sangat penting untuk selalu menanyakan kembali pertanyaan tersebut pada diri dan hati kita sendiri. Karena tanpa kita sadari, dewasa ini banyak diantara kita yang hanya mengejar kehidupan materi duniawi belaka, tanpa memperhatikan tujuan kita sesungguhnya, yaitu Allah Swt. Padahal diberbagai kesempatan sering kita sampaikan bahwa, “Inna shalati wa nusuki wamahyaya wa mamati lillahi rabbil alamin”. “Sesungguhnya sholatku, matiku, hidup dan matiku adalah untuk Allah”.

Hikmah Kedua; tujuan tertinggi manusia sebagaimana tersirat dari doa Nabi Ibrahim As. “Rabbi hab li minasshalihin”. “Ya Allah anugrahkan kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang sholeh” Dalam doanya, nabi Ibrahim ternyata meminta agar  diberi anak yang sholeh. Bukan seorang anak yang pintar, seorang anak yang kaya raya, seorang anak yang tampan. Juga bukan seorang anak yang punya jabatan luar biasa, punya pangkat yang tinggi. Akan tetapi yang beliau minta hanyalah “anak yang sholeh”.

Untuk mewujudkan anak yang sholeh, tentu bukan sebuah hal yang mudah. Akan tetapi sirah keluarga Ibrahim As dapat kita tauladani dalam mewujudkan harapan tersebut.  Hal-hal yang dapat ditauladani dalam konteks keluarga antara lain, pertama: menjadikan keluarga sebagai madrasah pertama bagi anak dengan mengajarkan pendidikan agama sejak dini. Sebagaimana yang dilakukan oleh nabi Ibrahim dan Siti Hajar yang telah berjibaku dan bekerjasama membentuk karakter Ismail sedemikian rupa sejak belia. Kedua; memberi keteladanan (uswah) pada anak-anak. Karena kunci sukses model pendidikan nabi Ibrahim adalah melalui metode “keteladanan” yang ditunjukkan. Dalam Alquran terdapat dua ayat yang menjelaskan bahwa nabi Ibrahim As merupakan uswatun hasanah bagi umatnya, termasuk bagi anak-anaknya. Secara psikologi, anak dalam masa perkembangan, akan cenderung meniru (imitatif) kepada orang-orang yang ada disekitarnya. Orang yang paling dekat dan mudah untuk ditiru tentulah orang tua dan keluarganya. Di sinilah diperlukan keteladanan orang tua bagi anak. Keteladanan dimaksud bisa soal keimanan, ketaatan beribadah, sikap, maupun perilaku sehari-hari. Dalam hal ini nabi Ismail As banyak meniru sifat nabi Ibrahim As, diantaranya memiliki sifat “halim”, yaitu santun dan sabar. Ketiga, memperhatikan pola makan. Siti Hajar dan Ibrahim As merupakan orang tua yang sangat memperhatikan pola makan putranya. Hal ini karena faktor makanan dapat  menentukan karakter, sifat dan prilaku seseorang sebagaimana pada firman Allah dalam Qs. Saba’ ayat 24. Artinya: “Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya”. Asupan makanan yang dimakan oleh seseorang akan mempengaruhi perangai dan perilaku. Seperti halnya istilah ‘You are what you eat’? ini bukanlah sebuah istilah tanpa makna, akan tetapi apa yang “kita” konsumsi akan mewakili “kita” yang sesungguhnya. Walaupun secara umum efek yang ditimbulkan memang tidak terlihat dan berdampak secara langsung, tapi akan dapat dirasakan pada masa yang akan datang. Konsep inilah yang ditanamkan oleh nabi Ibrahim As untuk selalu memperhatikan kehalalan makanan yang dikonsumsi keluarganya, sebagaimana firman Allah dalam Qs. Al Mu’minun ayat 51. Artinya; “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang thoyyib (yang baik), dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani al-Jawi dalam kitabnya “Nashoihul Ibad” menjelaskan, suatu ketika ada umat nabi Ibrahim yang bertanya kepada beliau, “Wahai Ibrahim, atas dasar apa atau amalan apa yang menyebabkan Allah Swt menjadikan Engkau sebagai “Khalilullah”? dari kesimpulan jawaban nabi Ibrahim ternyata ada 3 (tiga) hal yang menyebabkan Allah Swt menjadikan belia sebagai kekasih-Nya, yaitu; pertama, Beliau selalu lebih memprioritaskan urusan atau perintah Allah Swt dibanding yang lain. Hal ini dapat kita buktikan ketika nabi Ibrahim As sangat menginginkan agar Ismail anak yang kehadirannya telah ditunggu bertahun-tahun dapat hidup hingga dewasa dan bisa melanjutkan perjuangannya. Tetapi ketika Allah Swt memerintahkan agar Ibrahim menyembelih Ismail, beliau laksanankan dengan ikhlas tanpa sedikitpun ada keraguan. Kedua; beliau sangat bertawakkal kepada Allah Swt atas jaminan rizki terhadap para hambaNya. Kisah nabi Ibrahim As telah mengingatkan kita kepada Siti Hajar, dimana Allah Swt memerintahkan nabi Ibrahim As agar menempatkan putranya yang masih bayi bersama istrinya Siti Hajar di kota Makkah. Suatu wilayah tandus tanpa penduduknya, tanpa air dan tumbuh-tumbuhan sebagai sumber kehidupan. Akan tetapi dengan penuh tawakkal, Nabi Ibrahim As melaksanakan perintah Allah Swt tersebut. Seraya berdoa sebagaimana pada firman Allah dalam QS. Ibrahim ayat 37. Artinya; “Ya Tuhan Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan. Mudah-mudahan mereka bersyukur” Berkat sikap tawakkal dari nabi Ibrahim As disertai dengan usaha yang maksimal dari Siti Hajar, maka Allah Swt menganugerahkan “Air Zamzam” sebagai sumber kehidupan, dan bahkan air tersebut tidak akan pernah kering hingga hari kiamat. Ketiga; beliau sangat dermawan, menurut suatu riwayat beliau tidak pernah makan siang atau malam, kecuali pasti mengajak tamu untuk makan bersama. Dikisahkan bahwa nabi Ibrahim As tidak segan-segan berjalan satu mil atau satu setengah kilo meter mencari teman yang mau diajak makan, jika tidak ada tamu yang datang. Bahkan setiap tahun beliau berkurban dengan menyembelih 1000 ekor kambing dan 300 ekor onta untuk dibagi-bagikan kepada fakir miskin.

Maka satu diantara faktor penyebab nabi Ibrahim As mampu membangun keluarga sejahtera (sakinah mawaddah wa rahmah) adalah karena sebagai seorang Rasul, beliau hanya berusaha mengkonsumsi makanan dan minuman yang halal. Karena makanan dan minuman yang halal akan mendorong seseorang untuk beramal shaleh. Sebagaimana firman Allah dalam Qs. al-Mukminun ayat 51. Artinya: “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“.

Meskipun pada dasarnya, seluruh makanan dan minuman yang ada di muka bumi, baik di daratan maupun lautan, yang berasal dari tumbuh-tumbuhan maupun hewan adalah halal karena memang diperuntukkan bagi manusia (taskhir). Namun demikian, ada beberapa jenis makanan dan minuman yang diharamkan Allah karena membahayakan kehidupan manusia. Allah Swt telah menjelaskan kriteria makanan dan minuman yang halal dikonsumsi, yaitu setiap makanan dan minuman yang halalan thayyiban. “halalan” maksudnya makanan dan minuman yang diperbolehkan oleh Islam untuk dikonsumsi, dan tidak tergolong dari jenis hewan atau tumbuh-tumbuhan yang diharamkan. Sedangkan “thayyiban” artinya bahwa makanan dan minuman yang dikonsumsi dapat memberi manfaat bagi manusia karena telah memenuhi syarat-syarat kesehatan, tidak najis atau mutanajjis (terkena najis), tidak memabukkan, tidak menimbulkan mafsadah (kerusakan/bahaya) bagi kesehatan fisik dan psikis, serta diperoleh dengan cara yang halal. Hal ini sebagaimana didasarkan pada firman Allah Swt pada Qs. al-Maidah ayat 4. Artinya; “Mereka bertanya kepadamu; (Makanan) yang bagaimanakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah: Dihalalkan bagimu (makanan) yang baik-baik”. Selain itu, Allah juga berfirman dalam Qs. al-A’raf ayat 157. Artinya; “Dia menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk”. Allah juga berfirman dalam Qs. Al-Baqarah ayat 168. Artinya; “Wahai umat manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di muka bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. Beberapa firman Allah Swt di atas memberikan petunjuk kepada manusia, bahwa makanan dan minuman yang halalan thayyiban akan mengandung manfaat bagi manusia, sedangkan yang haram akan menimbulkan mudlarat (bahaya) serta merusak kesehatan jasmani dan rohan. Di samping itu, ayat di atas juga memberikan petunjuk bahwa mengkonsumi makanan dan minuman yang halalan thayyiban merupakan ibadah, sedangkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram dinilai sebagai perbuatan syetan yang harus dihindari. Makanan dan minuman yang dikonsumsi manusia mempunyai pengaruh yang sangat luas dalam kehidupannya. Diantaranya adalah pertama; mempengaruhi pertumbuhan fisik dan kecerdasan akal. Kedua, mempengaruhi sifat dan perilaku manusia. Ketiga; mempengaruhi anak-anak yang akan dilahirkan. Keempat, mendorong manusia melakukan perbuatan tertentu.
Islam menginginkan manusia mencapai dan memelihara kesejahteraannya (maslahah) yang merupakan tujuan hukum syara’ yang paling utama. Menurut Imam Shatibi, maslahah adalah sifat atau kemampuan barang dan jasa yang mendukung elemen-elemen dan tujuan dasar dari kehidupan manusia dimuka bumi ini. Ada lima elemen dasar terkait maslahah, yakni: kehidupan atau jiwa (al-nafs), properti atau harta benda (al-mal), keyakinan (al-din), intelektual (al-aql), dan keluarga atau keturunan (al-nasl). Islam telah memberikan arahan yang sangat indah dengan memperkenalkan konsep israf (berlebih-lebih) dalam membelanjakan harta dan juga tidak bersikap kikir, akan tetapi harus memiliki gaya hidup sederhana
Dengan demikian, aktivitas konsumsi bukanlah suatu hal yang dilarang dalam Islam, hanya saja konsumsi dalam persfektif Islam dan konvensional berbeda. Dimana dalam Islam sangat ditekankan agar konsumsi yang dilakukan bertujuan untuk kejayaan (al-falah) manusia di dunia dan akhirat, karena segala sesuatu sumber daya yang ada di bumi ini diciptakan untuk manusia. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka Allah menetapkan sejumlah prinsip dan etika yang harus dipenuhi seorang Muslim dalam hal konsumsi (sebagaimana penjelasan di atas). Dengan demikian bahwa terdapat korelasi yang sangat erat antara makanan dan perbuatan manusia. Oleh karena itu, kita harus berusaha semaksimal mungkin agar makanan dan minuman yang akan kita konsumsi benar-benar halal dan baik (halalan thayyiban), sehingga amal ibadah kita diterima oleh Allah Swt dan berdampak terhadap masa depan keluarga.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Butuh Bantuan?