Islam dan Identitas

Zilfaroni. M.A

Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi

بسم الله الرحمن الرحيم

           

إنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ(190)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ سَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ(191)91

Atinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. ( Ali Imran 190-191)

Halaman 1

Halaman 2

Halaman 3

Halaman 4

Teknologi adalah ilmu tentang cara menerapkan  sains untuk memanfaatkan alam bagi kesejahteraan dan kenyamanan manusia. Hampir dapat dipastikan bahwa setiap pekerjaan manusia di abad modern tidak satu pun yang tidak melibatkan teknologi. Jika tidak mempergunakan mesin. Bahkan bagi kemajuan sebuah universitas tidak hanya sebatas itu, akan tetapi semua yang muncul dari hasil pemikiran manusia ilmuwan, juga adalah teknologi. Teknologi berada posisi netral. Ibarat sebilah pisau dapur yang berguna untuk merajang sayur atau memotong daging, namun pisau juga dapat dipergunakan untuk membunuh orang lain. Jika ada orang yang mempergunakan pisau untuk membunuh, itu bukan berarti salah pisau, tapi adalah salah orang yang mempergunakannya.  

            Identitas masyarakat Islam, adalah masyarakat yang menyeimbangkan antara kehidupan material dengan spiritual (immateri), hanya saja lebih menekankan bahwa identitas masyarakat Islam adalah yang berbudaya dan telah mampu membudayakan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negaranya kepada budaya yang sesuai dengan kemanusiaan secara rasional.. Faktor immaterial yang kita maksudkan adalah nilai-nilai spiritual. Nilai spiritual itu adalah kredo yaitu suatu keyakinan yang mesti ada pada manusia Islam bahwa manakala ia gagal atau tidak menemukan solusinya, maka ia meyakini adanya suatu kekuatan yang lebih dahsyat diluar dirinya. Itulah Dia Allah Azza wa Jalla. Allah pencipta semua yang maujud ini. Sehingga mereka butuh kepada sesuatu yang berada diluar diri dan kemampuannya. Islam mengenalnya dengan ungkapan iman, akidah, keyakinan atau tauhid.

            Agama Islam dinyatakan oleh al-Qur’an sebagai agama yang ajarannya sesuai dengan kejadian atau fitrah manusia ( al-Rum ;30 ). Secara ideal Islam memberikan jawaban dan pedoman terhadap kebutuhan manusia baik jasmaniah maupun rohaniah. Statement ini diungkap oleh Yusuf Qardhawi “Islam adalah agama yang relevan sepanjang waktu dan zaman”. Dalam bentuk tertulis, al-Qur’an mengungkap bahwa manusia adalah khalifah di bumi, sekaligus dilengkapi dengan ilmu untuk jabatan itu, baik ilmu bersifat sosial, maupun yang berorientasi kepada fenomena alam yang secara bertahap berkembang dari masa kemasa. akhirnya sampai kepada apa yang disebut dengan pengetahuan modern (sains).

Dunia ditandai oleh besarnya peranan sains dan teknologi. Produk nalar manusia telah berhasil membuat hidup menjadi mudah dan menyenangkan. Alam ditundukkan dan dikendalikan untuk kepentingan manusia. Padang pasir disulap menjadi ladang gandum yang subur. Air laut disuling menjadi air tawar, air sungai dipotensikan untuk pembangkit tenaga listrik, organ tubuh manusia dibongkar pasang bagaikan onderdil mobil. Alat transportasi dan komunikasi canggih membuat faktor jarak sepertinya tidak menjadi problem. Fisik manusia semakin sehat akibat makanan bergizi dan protein, namun juga tidak dapat pula di pungkiri  berbagai penyakit bermunculan dalam berbagai bentuknya, sehingga sangat sulit mencari dokter pengobatnya.

            Kemajuan pengetahuan modern yang spektakuler itu dipuja-puja hampir menyudutkan pemujaan kepada Allah, bahkan abad ini disebut dengan abad pemujaan dan penuhanan sains. Manusia dinilai dengan serba kebendaan (materialis), kehidupan sehari-hari ditandai dengan lahirnya sikap individualis dan agama dipandang sebagai kehidupan pribadi. Manusia semakin brutal, sadis, kejam, hilang rasa perisa, harga-menghargai dan rasa malu. Manusia menjadi budak nafsu, serakah, egoisme, ambisiusme, kegelisahan hidup, merasa diri superior. Manusia semakin acuh dengan lingkungannya. Dimana-mana terdapat terdapat korupsi, kolusi dan nepotisme, kemiskinan merajalela, baik miskin ilmu, ekonomi, agama, moral dan amal. Pencurian, pembunuhan, penjarahan dan unjuk rasa seolah-olah telah menjadi tradisi dan tawuran anak-anak antar sekolah hampir tak terkendali serta hukum tidak berjalan. Bahkan para birokrat memperebutkan jabatan, berbagai jalanpun juga mereka dilakukan yang hampir tak terelakan.

            Umat Islam semestinya sudah sadar, bila berhadapan dengan kemajuan sains moderen, karena kemajuan barat modern adalah karena mereka meninggalkan agamanya, sebab menurut mereka agama tidak rasional. Sedangkan dalam Islam agama mendorong berfikir rasional dengan mempergunakan akal semaksimal mungkin. Iqbal membuktikan bahwa kebenaran lewat akal saja tanpa wahyu, akan membawa manusia brutal tanpa kendali. Oleh sebab itu Sayid Qutub menambahkan bahwa keyakinanlah yang dapat mengilhami dan menyirami manusia untuk meningkatkan harakatnya  menjadi manusia luhur, mulia dan ikhlas.

            Berangkat dari kenyataan di atas, Murthada Muthahhari mengungkap bahwa pengetahuan moderen memberi kepada manusia kekuatan dan pencerahan, sedangkan keyakinan (agama) memberikan cinta, harapan dan kehangatan. Pengetahuan moderen membuka momentum, sementara keyakinan kepada agama memberikan arah, pengetahuan yang menunjuk di mana arah, juga menentukan yang mesti dilakukan. Pengetahuan adalah revolusi eksternal, keyakinan adalah revolusi internal. Pengetahuan memperluas cakrawala, sedangkan keyakinan meningkatkan hubungan dengan Allah secara vertikal. Pengetahuan mencetak ulang alam raya ini, sementara agama mencetak manusia sebagai pengelola alam. Sains dan agama keduanya memberi kekuatan yang potensial kepada manusia. Agaknya dapat perlu disadari bahwa pengetahuan tidak dapat menggantikan agama dalam memberikan kedamaian, kebahagiaan, cinta dan harapan untuk menunjang tujuan identitas Islam yang ideal lagi fitri. Pengetahuan modern tanpa agama seperti seorang memegang sebilah pedang di tangan seorang yang sedang mabuk. Dengan demikian kebutuhan kepada teknologi sama dengan kebutuhan kepada agama. Dalam Islam kedua aspek ini seimbang serasi dan sejalan.

Upaya merasionalisasikan Islam dalam menghadapi dunia baru, adalah menata kembali di mana penyebab umat Islam tertinggal dan mundur dalam kancah kemajuan teknologi, apakah ajarannya yang tidak relevan dengan kemajuan teknologi atau manusia yang memahaminya yang tidak merelevansikannya dengan perkembangan zaman. Muhammad Abduh memberi jawaban bahwa salah satu penyebab mundurnya umat Islam, menjadi manusia terbelakang  dan terisolir dari dunia modern adalah karena mereka meninggalkan tradisi cinta kepada agamanya. Padahal agama Islam memotivasi penganutnya mempergunakan akal, fikir, dan nalar untuk mengelola alam. Kerena alam itu tidak akan memberi makna sama sekali tanpa intervensi akal, fikir dan nalar manusia memanfaatkannya.

            Memperhatikan sejarah munculnya identitas Islam di Madinah, al-Farabi salah seorang filosuf Islam jauh sebelumnya telah menyebutnya dengan istilah al-Madinah al-fadhilah (budaya masyarakat utama), al-madinah al-jahilah (budaya masyarakat terkebelakang) dan al-madinah al-fasiqah ( budaya masyarakat tak punya kepedulian). Masyarakat al-fadhilah adalah masyarakat yang dalam kehidupannya selalu menciptakan kebaikan kepada Allah dan orang lain, masyarakat yang melakukan keseimbangan antara aspek luar dan dalam, aspek lahir dan batin, aspek dunia dan akhirat. Jika kebaikan itu telah sampai kepada tingkat yang lebih tinggi, tidak perlu lagi adanya pemimpin, karena manusia sudah sama-sama melakukan kebaikan. Kalau ada pemimpin hanya bertugas sebagai penyelenggara negara, bukan merusak negara. Itulah sebenarnya idenitas Islam. Sedangkan masyarakat al-jahilah adalah masyarakat yang tidak tahu menahu dengan kebaikan, tetapi juga tidak tahu menahu dengan keburukan, sehingga mereka hidup bebas sesuka hatinya, tanpa mau diatur, tapi juga tidak pandai mengatur. Sementara  masyarakat al-fasiqah adalah masyarakat yang selalu membuat kekacauan dalam masyarakat, jika kekacauan itu tidak ada, maka mereka menciptakan dan mencari bagaimana kekacauan itu muncul dalam masyarakat. Bila kekacauan sudah terjadi, maka kesempatan itu mereka pergunakan untuk tujuan-tujuan mereka. Dengan kata lain mereka mencari kesempatan dalam kesulitan, baik secara terbuka ataupun dengan cara-cara tersembunyi dengan prinsip menghalalkan  segala cara untuk mencapai tujuannya.

            Kenyataan telah membuktikan bahwa idenitas Islam adalah masyarakat yang seimbang dan serasi antara temuan fisik (materi) dengan temuan non fisik (spritual). Kemajuan fisik saja tanpa diimbangi dengan kemajuan non fisik, akan membawa manusia kepada dunia kekeringan dan kehausan, atau sebaliknya kemajuan non fisik saja tanpa diimbangi dengan kemajuan fisik, akan melahirkan manusia-manusia pembohong, rakus dan individualis. Dalam upaya menyembatani antara kedua faktor di atas, umat Islam perlu menyumbangkan pikiran-pikiran yang berguna untuk menyelamatkan manusia dari deviasi kebudayaan dan virus peradaban. Deviasi dan virus itu adalah menyemput kembali ketertingalan umat Islam dibidang teknologi pada satu sisi dan penanggulangan pemahaman Islam secara parsial pada sisi lainnya. Gerakan-gerakan keseimbangan ini kemudian dikenal dengan gerakan masyarakat Islam modern, yang mengganti pandangan materialisme, rasionalisme dan humanisme yang sempit dengan pandangan yang holistik universalistik utuh dan menyeluruh (kaffah).

Kalau di atas dikatakan oleh ilmuan bahwa sains dan teknologi bebas dengan nilai, nampaknya Islam belum sepakat, karena tidak ada satu pun yang bebas dari nilai, sebab Islam bukan agama yang hanya mengutamakan persoalan duniawi, dan bukan juga mengutamakan persoalan ukhrawi, tetapi Islam adalah agama yang memadukan antara kehidupan duniawi dan ukhrawi yang seimbang. Upaya solusi menciptakan keseimbangan tersebut diperlukan adanya pemimpin yang baik, yaitu pemipin yang bertugas sebagai sosial kontrol dalam masyarakat, baik terhadap masyarakat yang dipimpinnya, maupun terhadap pengaruh luar yang datang mewarnai masyarakat itu sendiri, seperti bahaya laten, bahaya yang dimunculkan oleh sains dan teknologi ataupun bahaya yang merusak keutuhan nilai-nilai moral bangsa dan negara.

            Oleh karenanya sains dan teknologi, bagi Islam bukan sebagai musuh dan penghalang, akan tetapi adalah sebagai mitra kerja dalam memudahkan semua aktivitas manusia dalam mencapai tujuannya. Langkah ke arah terciptanya keseimbangan itu diperlukan adanya lembaga  amar ma’ruf nahi munkar yang bertugas sebagai sosial kontrol dalam masyarakat. Tanpa adanya lembaga ini, agaknya sains dan teknologi jauh lebih mempengaruhi sikap dan perilaku manusia kepada aspek duniawi dan mengabaikan aspek ukhrawi. Artinya bila sains dan teknologi dibiarkan berjalan dengan tanpa adanya badan yang mengontrol, tidak ubahnya seperti penumpang perahu besar. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad Saw, artinya :

Perumpamaan orang yang menetapi ketentuan Allah dengan  orang yang melanggarnya adalah seperti suatu kaum yang berada di atas perahu, sebagian mereka ada di bagian atas dan sebahagian lagi ada  pada bagian bawah,  orang-orang yang berada di bagian bawah, apabila mengambil  air melewati orang-orang yang berada di atas, lalu mereka berkata;  bagaimana seandainya  kita  membuat suatu lubang ditempat kita ini dan  kita  tidak perlu izin kepada orang yang berada di atas kita, maka seandainya  orang yang  berada di bagian atas membiarkannya, semuanya akan  binasa,  dan apabila mencegahnya mereka akan selamat semuanya. (H.R. Bukhari)

Kenyataan  hadits ini relevan sekali, bahwa umat ini tak  ubahnya seperti penumpang perahu, jika orang yang bagian atas membiarkan orang yang bagian bawah membuat suatu lubang di tempatnya, dengan dalil adalah kebebasan pribadi bagi mereka (HAM), maka hasilnya akan mengakibatkan tengge­lamnya  kapal  dan binasanya mereka semua. Seandainya orang  yang di bagian  atas mencegahnya dengan mengatakan kebebasan pribadi jangan sampai  membahayakan semua orang, maka hasilnya adalah semuanya  akan selamat. Demikianlah kondisi suatu umat, mana kala  perahu  kemungkaran itu berada dalam suatu umat, maka secara keseluruhan umat tersebut akan menerima sengsaranya.

 

Eksistensi Islam sebagai identitas, adalah yang mampu memanfaatkan dan mempergunakan teknologi sebagai alat mempercepat seseorang mendekati Allah, bukan sebagai alat yang melalaikan atau melambatkan seseorang jauh dengan ajaran agamanya. Karena Allah dalam al-Qur’an mengingatkan dalam surat al-Takatsur yang artinya :

Artinya : Bermega-megahan telah melalaikan kamu – sampai kamu masuk ke dalam kubur – Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu) dan jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui.

Kata alha pada ayat ini semakna dengan lahwun, la’ibun, dan ghurur. Perbedaannya adalah la’ibun masih dalam tahab bermain-main, lahwun melebihi dari itu yaitu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, sedangkan ghurur adalah bermegah-megah dengan materi, sehingga Tuhan mereka adalah materi dengan serta merta yang dicarinya adalah materi pula.

            Banyak kenyataan yang dapat dilihat, bahwa mereka benar-benar larut dengan kehidupan materi yang melahirkan teknologi, seolah mereka tidak akan mati, kata Allah jangan begitu, materi adalah alat hidup bukan tujuan hidup. Ayat ini memberi peringatan kepada manusia agar berhati-hati terhadap teknologi, karena hasil temuan manusia itu akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah di akhirat nantinya.

            Untuk itu, peranan teknologi dalam Islam, adalah menjadikan kemajuannya sebagai media untuk mendapatkan redha Allah Swt. bukan sebagai alat penderitaan dan kesengsaraan bagi masyarakat. Dengan kata lain teknologi adalah alat untuk mempercepat seseorang sampai kepada Allah. Itulah ciri-ciri masyarakat Islam dan identitas Islam. Sebaliknya, jika seseorang lambat dalam mendekati Allah, demikian itu adalah ciri masyarakat Yahudi. Renungkanlah, semoga bermanfaat. Amin.

Related Posts

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Butuh Bantuan?