LIVING AL-QUR’AN DI LINGKUNGAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN

Hasiah, M.Ag

Dosen Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum (Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir)

Interaksi antara umat Islam dengan kitab suci al-Qur’an dalam lintas sejarah Islam selalu mengalami perkembangan yang dinamis. Bagi umat Islam al-Qur’an tidak saja berperan sebagai kitab suci yang menjadi pedoman hidup akan tetapi juga sebagai penyembuh (syifa’), penerang (nur) dan pembawa kabar gembira (busyra). Oleh karena itu, mereka berusaha untuk selalu berinteraksi dengan al-Qur’an dengan cara mengekspresikannya melalui lisan, tulisan maupun perbuatan, baik berupa pemikiran, pengalaman maupun spiritual.

Halaman 1

Halaman 2

Halaman 3

Halaman 4

Setiap muslim berkeyakinan bahwa ketika dirinya berinteraksi dengan al-Qur’an maka ia akan merasakan kebahagiaan yang amat sangat. Untuk memperoleh petunjuk dari al-Qur’an, muslim berupaya untuk membaca, memahami dan mengamalkannya. Meskipun membacanya saja sudah dipandang sebagai ibadah. Pembacaan al-Qur’an yang dilakukan umat Islam menghasilkan pemahaman yang beragam sesuai dengan kemampuan mereka. Selanjutnya pemahaman tersebut melahirkan berbagai macam prilaku.
Ada berbagai model pembacaan al-Qur’an yang diterapkan oleh umat Islam, mulai dari yang berorientasi pada pemahaman dan pendalaman makna seperti yang banyak dilakukan oleh para ahli tafsir, sampai yang sekedar membaca al-Qur’an sebagai ibadah ritual atau untuk memperoleh ketenangan jiwa. Bahkan ada model pembacaan al-Qur’an yang bertujuan untuk mendatangkan kekuatan magis atau terapi pengobatan seperti membacakan ayat al-Qur’an lalu dihembuskan ke dalam segelas air putih atau menghembuskannya ke tapak tangan lalu menghusapnya keseluruh tubuh. Demikianlah cara umat Islam dalam membumikan al-Qur’an tergantung bagaimana mereka memahaminya.
Usaha umat Islam dalam menghidupkan al-Qur’an tidak hanya dilakukan di rumah rumah, Mesjid, Mushalla, Pondok Pesantren akan tetapi juga dilaksanakan di Lembaga Pemasyarakatan. Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat di mana manusia kehilangan kemerdekaannya akan tetapi ada hak hak mereka yang dilindungi, seperti hak untuk memperoleh pembinaan rohani atau ketrampilan. Sehingga ketika mereka terbebas dari masa hukuman mereka memiliki skill dan ketenangan hati dalam menjalankan hidup selanjutnya. Tidak ada dendam dan sakit hati yang ada hanya keinginan menjalankan hidup sebaik mungkin. Sesuai dengan tuntunan yang diperoleh selama berada di Lembaga Pemasyarakatan.

Di Lembaga Pemasyarakatan narapidana berhak memperoleh pengetahuan dan pemahaman tentang al-Qur’an, baik bagaimana bacaannya maupun kandungan yang terdapat di dalamnya. Sehingga dikemudian nanti mereka mampu mengaplikasikannya ke dalam kehidupan sehari-hari.
Upaya Lembaga Pemasyarakatan dalam mengajarkan al-Qur’an merupakan salah satu cara menghidupkan atau membumikan al-Qur’an. Ada beberapa hal yang patut untuk dilaksanakan dalam membumikan al-Qur’an di Lembaga Pemasyarakatan, di antaranya :

1. Bimbingan Rohaniah
Mengenalkan al-Qur’an kepada narapidana dalam hal ini para penghuni Lembaga Pemasyarakatan dapat dilakukan melalui bimbingan rohani. Mereka dikenalkan tentang Tauhid atau tentang Allah SWT, selanjutnya kewajiban umat Islam terhadap sang Khalik dan memberikan pemahaman tentang perbuatan yang berkaitan dengan amar ma’ruf nahi munkar dan memberikan penanaman moral kepada mereka serta mengingatkan juga untuk selalu sabar dalam menjalankan ujian Allah SWT.
Bimbingan rohaniah ini tentu dilakukan oleh tenaga ahli sehingga ketika narapidana mendengarkan bimbingan ini mampu mendatangkan respon yang baik kepada pendengarnya. Karena biasanya mereka yang menjadi narapidana adalah orang orang yang mengalami kekosongan hati dan amarah yang berlebihan.

Rohaniah juga memberikan nasihat-nasihat kepada narapidana untuk tidak harus membuat pembalasan dendam kepada orang yang terlibat di dalam tindakan yang menyebabkan ia menjadi narapidana. “Maaf” merupakan langkah mulia di sisi Allah SWT dan Allah SWT. akan memberikan pahala kepada hamba-Nya yang benar-benar bertaubat. Pernyataan ini tentu disertakan dengan dalil yaitu ayat al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah SWT penerima taubat walau sebesar apapun kesalahan hamba-Nya. Ayat al-Qur’an yang dijadikan dalil di sini bertujuan menghantarkan narapidana dalam mengenal ayat al-Qur’an.

2. Pembelajaran al-Qur’an beserta isi dan kandungannya.
Materi yang disampaikan dalam pembelajaran al-Qur’an adalah berkaitan tentang al-Qur’an baik tartil, tajwid, maupun iramanya dalam membaca al-Qur’an dan kandungan yang terdapat didalam al-Qur’an. Proses pembelajaran al-Qur’an diawali dengan membaca dan memperdengarkan bacaannya. Selanjutnya secara bersama-sama narapidana membacanya berulang-ulang, Kemudian dilanjutkan dengan cara memasukan tajwidnya dan diiringi dengan bagaimana cara membaca hurufnya satu persatu.
Huruf Hijaiyah yang terdapat di dalam ayat al-Qur’an berbeda dengan huruf latin karena apabila salah atau berbeda dalam pengucapannya tentu akan berdampak kepada bacaan ayat al-Qur’an. Mengucapkan huruf hijaiyah satu persatu dibutuhkan keseriusan dan kehati-hatian. Ini membuktikan bahwa al-Qur’an merupakan kitab mulia sehingga membacanya dengan benar akan menjadi ibadah yang paling baik bagi umatnya.

Pembelajaran selanjutnya adalah menyampaikan isi dan kandungan ayat ayat al-Qur’an yang telah dibaca dan menyampaikan hikmah atau rahasia dan motivasi serta istinbath hukum yang terdapat di dalamnya kepada narapidana dengan menafsirkan ayat ayat tersebut.
Untuk tetap terjaganya bacaan al-Qur’an para narapidana tersebut maka mereka mesti menyetorkan bacaannya secara bergantian kepada para pelatih secara terus menerus. Tujuannya agar bacaan mereka tetap terpelihara dan mereka semakin termotivasi untuk membacanya.
3. Merutinitaskan Bacaan al-Qur’an
Kegiatan membaca al-Qur’an selanjutnya ditingkatkan dengan merutinitaskan satu atau dua surat bahkan sampai tiga surat. Ada yang dibaca sekali seminggu dan ada juga dibaca setiap dhuha dan ada yang membaca di tengah malam. Kegiatan ini dimotivasi dengan memberitahu bahwa ayat ayat al-Qur’an memiliki keutaman-keutamaan, jadi, sebaiknya dibaca secara rutinitas.

4. Tahfidz al-Qur’an
Selain mempelajari tata cara membaca al-Qur’an dan bagaimana pengucapan huruf serta memahami kandungan dari ayat yang dibaca, para narapidana juga menghapal ayat ayat al-Qur’an. Dalam hal ini ada yang menghapal ayat per ayat dan ada juga menghapal ayat dari juz terakhir. Ini tentu disesuaikan atas kenyamanan di mana ayat yang lebih dahulu mereka menghapalnya. Karena Islam sendiri tidak menginginkan pemeluknya merasa kesulitan dalam mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an.
Dalam menyampaikan hapalannya para narapidana ini tentunya dibimbingan oleh seorang yang prfesional di bidang ini, yaitu hafiz al-Qur’an. Sehingga proses penghapalan al-Qur’an terlaksana dengan baik dan memberi nilai atau mtivasi terbaik bagi si narapidana. Dan tentunya akan menambah minatnya juga dalam meningkatkan hapalannya terhadap al-Qur’an. Al-Qur’an akan menjadi mentor terbaik bagi hidupnya.
5. Pelatihan Menulis ayat al-Qur’an/ Pelatihan Kaligrafi al-Qur’an
Ayat al-Qur’an memiliki keunikan tersendiri terutama dalam penulisan huruf-hurufnya. Sehingga untuk menulis al-Qur’an sampai ketingkat “seninya” dibutuhkan waktu untuk mempelajarinya. Bagi narapidana yang memiliki jiwa seni maka dia akan menulis al-Qur’an sesuai dengan yang dilatih di Lembaga Pemasyarakatan. Kemampuannya ini dalam menulis ayat ayat al-Qur’an tentu akan menjaga kefasihan bacaannya. Karena apa yang ia baca akan ia tuliskan sesuai dengan bacaannya.
6. Shalat berjama’ah
Penghuni Lembaga Pemasyarakatan dituntun untuk tetap melaksanakan shalat lima waktu dengan cara berjama’ah dan ini merupakan salah satu usaha mempertahankan hapalan dan bacaan ayat ayat al-Qur’an mereka. Karena di dalam pelaksanaan shalat tentu mereka akan membaca ayat ayat al-Qur’an.
7. Memperingati Hari-hari besar yang bercerita tentang peristiwa yang terdapat di dalam al-Qur’an.
Di dalam al-Qur’an banyak peristiwa yang patut untuk diketahui dan disebar luaskan dan ini juga merupakan sarana untuk tetap menjaga terpeliharanya bacaan dan hapalan, khususnya narapidana yang ada di Lembaga Permasyarakatan. Seperti al-Qur’an bercerita tentang kelahiran Rasulullah SAW. dan ini terdapat di dalam Q. S. al-Fil, Kewajiban puasa pada bulan Ramadhan, diatur di dalam Q. S. al-Baqarah : 183-185, Hari Raya Idil adha diceritakan di dalam Q. S. al-Maidah : 27 dan banyak lagi cerita cerita yang termaktub di dalam al-Qur’an.
Demikianlah beberapa upaya yang dapat dilaksanakan umat Islam dalam menghidupkan al-Qur’an terutama di Lembaga Pemasyarakatan. Tempat ini merupakan salah satu lokasi yang dikhawatirkan oleh kalangan masyarakat. Mengingat manusia yang berada di dalamnya adalah orang orang yang telah melakukan tindak kejahatan tidak peduli sebesar apa kesalahannya yang telah dilakukan dan tidak peduli benar atau salahkah mereka yang berada di sana. Masyarakat berhak memberikan penilaian kepada mereka (narapidana) namun masyarakat tidak berhak memfonis mereka sebagai manusia yang akan memperbaiki jalan hidupnya.
Untuk narapidana ada solusi terindah yang ditawarkan oleh al-Qur’an yaitu kembali kepada-Nya (Allah SWT) dan laksanakan perbuatan perbuatan baik yang sudah diatur di dalam a-Qur’an. Ini semua tentu telah mereka peroleh selama di penjara melalui proses pembelajaran terhadap ayat ayat al-Qur’an, baik dengan membaca, mendengar, menghapal dan lain sebagainya.
Apabila kegiatan ini dilaksanakan secara berkelanjutan tentu al-Qur’an akan hidup di dada umat Islam, terutama mereka yang terjebak di Lembaga Pemasyarakatan atau narapidana. Banyak cara untuk menghidupkan al-Qur’an dimana dan kapan saja. Yang terpenting adalah umat Islam tetap melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan al-Qur’an.

About the author

Pengelola Sub Bagian Humas dan Informasi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.