Mari bangun masjid IAIN Padangsidimpuan
Klik Disini
Mari bangun masjid IAIN Padangsidimpuan
Klik Disini

MATEMATIKA AMAL DI BULAN RAMADHAN

Dr. Suparni, S.Si., M.Pd.

Ketua Program Studi Tadris Matematika pada FTIK

Baru saja umat Islam memasuki bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, yang penuh keutamaan dibanding bulan yang lain. Pada bulan ini umat Islam melaksanakan ibadah utama yang merupakan ibadah wajib, yakni berpuasa. Berpuasa berarti menahan diri dari makan dan minum dan yang membatalkannya mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Selain menahan haus dan lapar, umat Islam juga menahan nafsu yang dapat membatalkan pahala puasa tersebut.

Halaman 1

Halaman 2

Halaman 3

Halaman 4

Setiap orang, ketika beribadah dan beramal tentu tujuannya adalah ingin mendapatkan pahala dari Allah SWT. Seberapa besar pahala yang akan diperoleh tentu bergantung pada bagaimana ibadah dan amal itu dilakukan. Bagaimana kualitas amal serta ibadah dan berapa kuantitas ibadah dan amal yang dikerjakan. Bahkan juga tergantung pada tinggi rendahnya kepayahan (masyaqah) dalam melaksanakannya. Bagi umat Islam ada satu anugerah yang sangat besar yang tidak diberikan kepada umat sebelumnya, yaitu berupa anugerah satu bulan yaitu bulan Ramadhan yang di dalamnya banyak keistimewaan dan keutamaan jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Bahkan Nabi Muhammad SAW pernah bersabda sbb “Jika umatku tahu nilai yang ada dalam bulan Ramadhan, maka pasti mereka berharap seluruh bulan menjadi bulan Ramadhan”. Rasulullah SAW juga bersabda, “Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipatgandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipatgandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.” (HR Muslim).

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia yang selalu dinanti-nanti oleh umat Islam. Pada bulan Ramadhan ini banyak sekali keutamaan-keutamaan yang bisa didapatkan oleh umat Islam. Selaku umat Islam sudah selayaknyalah mengetahui apa saja keutamaan-keutamaan atau fadhilah dari setiap amalan ibadah yang dilaksanakan di bulan Ramadhan ini. Dengan memahami keutamaan atau fadhilah amal ini hendaknya akan menjadi penyemangat atau menambah motivasi/ dorongan diri kita dalam meningkatkan kualitas atau memperbanyak ibadah di bulan mulia yang penuh berkah dan keutamaan ini. Ini semua tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT.

Bulan ramadhan disebut juga sebagai bulan syahrun mubarak. Hal ini adalah berdasarkan pada  hadist Nabi Muhammad SAW yang artinya :”Sungguh telah dating kepada kalian bulan yang penuh berkah. Pada bulan ini diwajibkan puasa kepada kalian..” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi). Dan juga bahwa setiap ibadah yang dilakukan di bulan Ramadhan, maka Allah akan melipat gandakan pahalanya.

Setiap ibadah dan amal shaleh umat Islam semuanya terukur secara matematis, seperti disebutkan dalam firman Allah (QS. 2:261), rumus satu amal ibadah digandakan Allah menjadi kelipatan 10, dan 10 ditambahkan menjadi 70, lalu 70 dikalikan 10, sehingga tatkala seorang melakukan 1 amal ibadah, dia memperoleh penghargaan (pahala) total 700 kali lipat. Betapa Allah maha kaya dan maha pemurah,  Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “ Dalam bulan biasa, pahala setiap kebajikan dilipat gandakan 10 kali lipat, namun dalam bulan Ramadhan pahala amalan wajib dilipat gandakan 70 kali lipat dan amalan yang sunah disamakan pahalanya dengan pahala amalan wajib di luar Ramadhan.” (HR Muslim). Janji Allah ini tentu adalah pasti kebenarannya, diatas perhitungan kita manusia di muka bumi ini, tidak mungkin kita ragukan dan disangsikan lagi tentunya. Semua perhitungan Allah  tercatat dan terdata dengan baik dan sempurna, tidak berkurang sedikit pun.

Analogi sederhana berikut barangkali dapat membuat lebih mudah memahami kemurahan Allah dan kemuliaan bulan Ramadhan. Jika pahala itu diasumsikan dengan uang, jika di bulan bias kita beramal sebesar Rp 5.000, maka Allah akan membalas/mengganti dengan Rp 50.000, maka pada bulan Ramadhan, amal sebesar Rp 5.000 akan Allah balas dengan RP.350 000. Itu baru Rp 5.000 kita beramal, bagaimana jika kita beramal Rp 100.000 di bulan Ramadhan ini, maka kelak kita akan peroleh balasan/ganti sebesar Rp.7.000.000. Tentu saja bagi yang kelak ingin memperoleh pahala yang besar, misalnya sebesar Rp.1.000.000.000 (1 Milyar, maka dibulan Ramadhan ini cukup beramal sebesar kurang dari Rp 15 Jt. Bayangkan hanya bermodal Rp.15 juta kelak akan perolah uang sebesar yang dapat dibelikan mobil mewah sekelas Pajero sport baru sebanyak 3 unit. Akan tetapi hitung-hitungan matematis di atas hanya ilustrasi betapa mulianya amal di bulan Ramadhan dengan tujuan untuk memotivasi dan mendorong dalam meningkatkan amal dan kebajikan selama bulan Ramadhan ini. Jika setiap orang yakin dengan seyakin-yakinnya akan janji Allah ini, tentu mereka akan selalu mengisi setiap detik atau pun menit dalam bulan Ramadhan ini dengan amal kebajikan dan ibadah.

Sekali lagi, bahwa amal ibadah sunah yang dikerjakan di bulan Ramadhan akan diberi pahala senilai pahala ibadah wajib di luar bulan Ramadhan. Amal ibadah wajib yang dikerjakan  pada bulan Ramadhan akan diberi pahala70 kali lipat. Ini dapat juga diasumsikan dengan logika hitungan matematika sederhana sbb ;seseorang yang mengerjakan ibadah wajib sholat ashar misalnya, satu kali di bulan Ramadhan, nilainya akan sama dengan sholat ashar selama 70 hari atau selama 2 bulan lebih 10 hari di luar bulan Ramadhan. Selanjutnya jika diasumsikan bahwa bulan ramaadhan itu genap selama 30 hari, dan selama 30 hari itu tidak ada sholat ashar yang tertinggal, berarti seseorang tsb telah melaksanakan 30 kali sholat ashar selama bulan Ramadhan. Tentu pahala yang diperolehnya akan sama  dengan pahala mengerjakan sholat ashar sebanyak (30 x 70) = 2.100 kali sholat ashar di luar bulan Ramadhan atau sama dengan mengerjakan sholat ashar selama kurang lebih 70 bulan atau  5,7 tahun. Subhanallah.

Belum lagi dikaji bila sholat ashar tersebut dilaksanakan secara berjamaah di masjid. Sebagaimana kita ketahui bahwa sholat berjamaah di masjid memiliki derajat yang lebih besar yaitu 27 kali lipat, seperti hadis nabi Muhammad SAW  “Sholat berjamaah lebih afdhal dari pada sholat sendirian sebanyak 27 kali lipat.” (H.R Bukhari dan Muslim). Berarti jika kita sholat ashar pada bulan Ramadhan dan dikerjakan berjamaah di masjid, maka perbandingan nilainya akan sama dengan(70×27) = 1.890 kali nilai sholat ashar sendirian di rumah di luar bulan Ramadhan. Atau dengan kata lain satu kali melaksanakan sholat ashar secara berjamaah di bulan Ramadhan, akan sama nilainya dengan melaksanakan sholat ashar sendirian di luar bulan Ramadhan selama 5,25 tahun. Tentu jika kita melaksanakan sholat ashar selama 30 hari selama bulan Ramadhan secara berjamaah di masjid, maka nilainya akan sama dengan (30x70x27) = 56.700. Artinya akan sama dengan nilai pahala sholat ashar sendirian di luar bulan Ramadhan selama 1.890 bulan atau 157 tahun, Subhanallah lebih dari dua kali lipat usia rata-rata manusia. Begitu mulianya dan utamanya bulan Ramadhan, belum lagi ditambah dengan sholat-sholat wajib yang lain, subuh, juhur, magrib, dan isya, sholat sunah yang banyak dikerjakan di bulan ini seperti sholat tarawih, witir, tahadjud, duha dan rawatif yang biasanya ditingkatkan pada bulan Ramadhan ini. Ini semua tentu dalam rangka meraih kemuliaan dan keutamaan Ramadhan ini.

Namun sekali lagi, ini adalah asumsi perbandingan pahala yang akan diperoleh seseorang, agar lebih termotivasi untuk banyak melaksanakan amal kebajikan seperti ibadah sholat berjamaah di bulan Ramadhan ini. Ilustrasi ini bukan berarti jika sudah melaksanakan sholat ashar selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka selama 5 tahun kemudian tidak perlu melaksanakan sholat ashar atau jika kita telah melaksanakan sholat ashar secara berjamaah dimasjid selama sebulan penuh di bulan Ramadhan maka kita tidak perlu sholat ashar lagi seumur hidup di luar Ramadhan, Ini tentu salah besar. Sekali lagi tujuan ilustrasi matematik di atas adalah untuk menunjukkan kemuliaan dana keutamaan dari bulan Ramadhan tersebut dengan memperbaiki kualitas ibadah melalui sholat berjamaah di masjid.

Satu lagi keutamaan yang paling dicari-cari atau ditunggu-tungu oleh umat Islam yaitu datangnya atau didapatkannya suatu malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Malam tersebut adalah malam lailatul qodar. Malam ini adalah malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan. Malam lailatul qodar biasanya datang di salah satu malam pada bulan Ramadhan, pada 10 malam-malam terakhir dan ganjil. Pada malam ini lah saat diturunkannya Al-Qur’anul Karim. Dalam  Al-Quran surat Al Qadr (97) ayat 1-5 disebutkan yang artinya : “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Quran) pada malam lailatul qadar. Tahukah kamu, apakah malam qadar itu? Malam qadar adalah lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu, turunlah malaikat- malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, (membawa segala urusan), (seluruh malam itu) sejahtera sampai terbit fajar.”

Sekali lagi dalam hal ini dapat kita dapat memberikan makna yang  serupa dengan ilustrasi/asumsi berikut ini. Melalui logika hitungan matematika sederhana berarti satu amal ibadah yang kita lakukan di malam lailatul qadar pahalanya tentu akan lebih besar dari pahala melakukan amalan sejenis selama 1000 bulan atau 83 tahun di luar malam lailatul qadar. Kita sholat, isya, sholat sunah rawatif, tarawih,witir,dan tahajud, di malam lailatul qadar, akan memperoleh nilai pahala yang lebih besar dari pahala yang kita peroleh dari melakukan sholat-sholat di atas di luar malam lailatul qadar selama 83 tahun.

Sekali lagi, bahwa malam lailatul qadar terjadi di dalam bulan Ramadhan, tentu berlaku pahala 70 kali lipat ibadah wajib yang dilakukan, juga berlaku lebih baik dari 1000 bulan (karena bertepatan dengan malam lailatul qadar), berarti terjadi dua kemuliaan yang bersaman pada malam tersebut, tentu berlaku kedua ketentuan secara bersamaan, yaitu ketentuan 70 kali lipat dan lebih baik dari 1000 kali lipat, menjadi lebih baik dari ( 70×1000) = 70000 kali lipat. Artinya nilai pahala sholat isya yang kita laksanakan bertepatan pada malam lailatul qadar akan lebih besar dari nilai pahala 70.000 kali sholat isya di malam malam di luar bulan Ramadhan. Atau melaksanakan sholat isya di malam lailatul qadar memperoleh nilai pahala yang lebih besar dari pahala melaksanakan sholat isya selama 191 tahun. Subhanallah. Dan jika logikakan sholat isya yang dilaksanakan di malam lailatul qadar secara berjamaah, tentu berlaku irisan 3 ketentuan, yaitu kebaikan 70 kali lipat (bulan Ramadhan), lebih baik dari 1000 bulan (malam lailatul Qadar) dan 27 kali lipat( sholat berjamaah). Tentu akan lebih baik dari (70x1000x27) = 1.890.000 kali lipat. Dapat diasumsikan, pahala melaksanakan sholat isya secara berjamaan di malam lailatul qadar akan lebih besar dari pahala melaksanakan sholat isya di luar bulan Ramadhan selama 1.890.000 hari atau selama 5.178 tahun atau lebih dari 82 kali lipat usia rata-rata umat Nabi Muhammad SAW. Subhanallah, sudah mulia bulan Ramadhan tetapi ditambah lagi dengan kemuliaan malam lailatul qadar. Mudah-mudahan kita tergolong orang-orang yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas amal kebajikan, rajin membaca Al-Quran, selalu berbagi dengan sesame melalui pemberian pebukaan kepada orang yang berpuasa misalnya, selalu menjaga waktu sholat kita secara berjamaah  di masjid,  dapat menjaga dan berjaga untuk dapat bertemu dengan malam lailatul qadar.

Berbahagialah orang-orang yang dapat masuk dan lolos dalam kompetisi Ramadhan yang penuh berkah, rahmat dan ampunan ini, apalagi memperoleh atau menjumpai malam lailatul qadar, sehingga akan memperoleh sejumlah bilangan pahala amal ibadah yang luar biasa di mata Allah SWT, dengan jumlah yang tak terhingga atau tanpa batas. Orang yang akan masuk dan lolos dalam kompetisi Ramadhan ini tentunya orang yang selalu menjaga kualitas dan kinerja amal ibadah puasa Ramadhan dengan seluruh secara baik, yang selain meninggalkan makan, minum dan syahwat, juga meninggalkan semua dusta, ghibah,  fitnah dan konflik antar sesama. Orang-orang yang tidak dapat menjaga hal tersebut tentu akan gugur dalam kompetisi Ramadhan ini, mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya ini, kecuali hanya lapar dan dahaga. Semoga kita tergolong pada orang-orang dapat selalu meningkatkan kualitas dan kuantitas amal ibadah kita selama bulan Ramadhan ini hingga sampai akhir Ramadhan dan pada 1 syawal nanti kita akan memperoleh kemenangan fitrah.

Selanjutnya setelah hari raya Idul fitri, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan puasa 6 hari di bulan syawal, yang biasa kita sebut puasa 6. Sebagai mana hadis nabi Muhammad SAW, berikut “Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh”.  Hal ini juga dapat dijelaskan secara matematis bagaimana puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan ditambah puasa 6 hari di bulan syawal dianggap telah berpuasa selama setahun. Di awal tulisan ini telah disampaikan bahwa setiap amal kebajikan akan dibalas Allah dengan 10 kali lipat di luar bulan Ramadhan (QS. 2:261), puasa selama satu bulan atau 30 hari di bulan ramadahan tentu akan diberi ganjaran atau dinilai kebaikan oleh Allah selama 10 bulan (1 bulan x 10 kali lipat menjadi 10 bulan) atau 300 hari (30 hari x 10 kali lipat menjadi 300 hari) ditambah 6 hari di bulan syawal akan dinilai sebagai kebaikan 60 hari (6 hari x 10 kali lipat = 60 hari) atau sama dengan 2 bulan, maka total menjadi 10 + 2 = 12 bulan = satu tahun

Demikian tulisan ringan ini menurut pengkajian dan penafsiran penulis, kebenarannya hanya Allah saja yang tahu, jikalau ada kesalahan tentu karena keterbatasan penulis. Dengan tulisan ini semoga bermanfaat dan dapat mendorong pembaca khususnya umat Islam dalam melaksanakan ibadah Ramadhan ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitasnya.

About the author

Pengelola Sub Bagian Humas dan Informasi

Related Posts

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.