MEMBANGUN BUDAYA MUTU DAN BUDAYA KERJA

Dra. Asnah, M.A

WD II FASIH

Catatan Penulis:

“Sejak High Education Long Term (HELT) diluncurkan, maka masing-masing perguruan tinggi mulai berbenah untuk melakukan sistem jaminan mutu. Sistem jaminan mutu terdiri dari mutu internal dan eksternal. Secara internal dimulai dari dalam organisasi lembaga pendidikan tinggi tersebut. Jika suatu perguruan tinggi ingin merealisasikan visi melalui misinya, mampu memenuhi kebutuhan stakeholders seperti pemenuhan pendidikan, kebutuhan sosial, kebutuhan dunia pekerjaan dan kebutuhan profesional, maka budaya mutu harus diwujudkan, bukan hanya sebagai slogan atau hanya untuk kepentingan akreditasi, tetapi harus benar-benar direalisasikan dalam wujud budaya kerja (aktivitas pendidikan dan manajemen) di perguruan tinggi. Hal ini merupakan tanggung jawab institusi pendidikan kepada negara, masyarakat dan orangtua mahasiswa.

Pendahuluan

Saat ini mutu pelayanan telah menjadi perhatian utama dalam memenangkan persaingan. Mutu pelayanan dapat dijadikan sebagai salah satu strategi lembaga untuk menciptakan kepuasan konsumen. Menurut Gaspersz mutu merupakan satu satunya kekuatan terpenting yang dapat membuahkan keberhasilan di dalam organisasi baik di skala besar maupun di skala kecil, hal ini juga bisa diterapkan di dalam penyelenggaraan pelayanan mutu pendidikan. Terdapat beberapa istilah yang digunakan berkaitan dengan mutu, khususnya jika berkaitan dengan manajemen, di antaranya Manajemen Mutu Terpadu (MMT) atau Total Quality Management (TQM) yang juga dikenal dengan istilah Total Quality Control atau Pengendalian Mutu Terpadu.

Mutu pendidikan tinggi adalah tingkat kesesuaian antara penyelenggaraan pendidikan tinggi dengan standar pendidikan tinggi yang terdiri atas Standar Nasional Pendidikan Tinggi dan Standar Pendidikan Tinggi. Mutu seringkali dikaitkan dalam bentuk mutu layanan. Menurut pengertiannya mutu layanan adalah upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan penyampaiannya untuk mengimbangi harapan pelanggan.

Suatu pendidikan bermutu tergantung pada tujuan dan yang akan dilakukan dalam pendidikan. Mengelola Perguruan Tinggi dengan benar adalah amanah negara, masyarakat dan orangtua mahasiswa. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam rangka mendorong institusi selalu meningkatkan kapasitas diri melalui penguatan mutu, relevansi dan daya saing serta penguatan kelembagaan. Bentuk penguatan yang dimaksudkan dapat melalui tata kelola, akuntabilitas dan pencitraan publik serta pemerataan dan perluasan akses kepada masyarakat untuk menikmati pelayanan pendidikan tinggi.

A. Membangun Budaya Mutu

Menurut Nasution (2005), karakteristik organisasi yang memiliki budaya mutu adalah: 1. Komunikasi yang terbuka dan kontinu, 2. Kemitraan internal yang saling mendukung, 3. Pendekatan kerja sama tim dalam suatu proses dan dalam mengatasi masalah, 4. Obsesi terhadap perbaikan terus menerus, 5. Pelibatan dan pemberdayaan karyawan secara luas, 6. Menginginkan masukan dan umpan balik/feedback. Budaya mutu menurut Goetsh dan Davis adalah sistem nilai organisasi yang menghasilkan suatu lingkungan yang kondusif bagi pembentukan dan perbaikan mutu secara terus menerua. Budaya mutu terdiri dari filosofi, keyakinan, sikap, norma, tradisi, prosedur dan harapan untuk meningkatkan kualitas. Pelibatan dan pemberian wewenang karyawan secara luas.

Untuk dapat membangun budaya mutu, pimpinan, seluruh dosen dan tenaga kependidikan harus memberikan komitmen untuk melakukan peningkatan mutu berkesinambungan. Perguruan tinggi harus memiliki sistem manajemen mutu yang dapat menjamin pelaksanaan peningkatan mutu berkesinambungan. Penjaminan mutu dilakukan bukan karena terpaksa, melainkan karena dorongan untuk memperbaiki diri.

Membangun budaya mutu tidak berhenti hanya pada menyusun dokumen SPMI belaka, namun justru penerapannya yang harus ditekankan dengan harapan hasilnya berdampak pada peningkatan budaya mutu pendidikan tinggi.

B. Budaya Kerja

Bentuk budaya sangat komplek, untuk membentuk budaya organisasi, diperlukan kepercayaan dan nilai saling mendukung dan melengkapi satu sama lain. Membangun budaya mutu diperlukan etos kerja dan budaya kerja dan kualitas kerja yang baik. Sebagaimana sebuah bangunan yang memiliki konstruksi dimulai dari pondasi, batu bata, campuran semen pengikat, dan atap. Begitu juga dengan manajemen mutu, memiliki beberapa elemen penting yang saling terkait, yaitu:

  1. Etika
  2. Integritas
  3. Kepercayaan
  4. Pelatihan
  5. Kerja Tim
  6. Kepemimpinan
  7. Komunikasi

Selanjutnya kedelapan elemen di atas, dianalogikan sebagai sebuah bangunan yang diklasifikasikan ke dalam empat bagian yaitu:

  1. Pondasi

Pondasi mencakup etika, integritas dan kepercayaan. Ketiga elemen tersebut merupakan pondasi bagi terbangunnya budaya mutu dan budaya kerja. Etika, integritas dan kepercayaan membantu perkembangan keterbukaan, keadilan dan ketulusan, serta menghargai keterlibatan semua individu. Hal ini merupakan kunci untuk membuka potensi pokok budaya mutu dan budaya kerja.

  1. Batu Bata.

Dengan didasari oleh pondasi yang kuat dari etika, integritas, dan kepercayaan, selanjutnya batu bata untuk membangun dinding budaya mutu dan budaya kerja bisa diletakkan diatasnya sampai pada dasar atap dari pengakuan atau penghargaan, dimana batu bata itu meliputi; pelatihan, kerja tim dan kepemimpinan.

  1. Campuran Semen Pengikat

Campuran semen pengikat mencakup komunikasi. Komunikasi akan mengikat segala sesuatu secara bersama-sama. Dimulai dari pondasi sampai ke atap dari suatu bangunan budaya mutu dan budaya kerja, semua elemen diikat oleh campuran semen pengikat berupa komunikasi. Ia bertindak sebagai sebuah mata rantai penghubung antara semua elemen. Komunikasi berarti sebuah pemahaman bersama terhadap satu atau sekelompok ide-ide antara pengirim dan penerima informasi. Budaya mutu dan budaya kerja yang sukses harus dibangun melalui komunikasi dengan, dan/atau diantara, semua anggota organisasi dan juga pelanggan (stakeholders).

  1. Atap

Atap merupakan penutup atau pelindung untuk menaungi bangunan. Dalam membangun budaya mutu dan budaya kerja yang menjadi atapnya adalah penghargaan. Penghargaan adalah elemen terakhir dari keseluruhan sistem manajemen mutu. Begitu para personil organisasi ini dihargai, mereka akan dapat mengalami perubahan yang sangat besar dalam hal penghargaan diri, produktivitas, mutu dan sejumlah karya, yang pada akhirnya mendorong seseorang untuk berusaha lebih giat dalam tugas sehari-harinya.

Kesimpulan

Membangun budaya mutu atau quality culture di perguruan tinggi perlu rencana dan tahapan yang jelas. Kejelasan dimulai dari langkah Penetapan, Pelaksanaan, Evaluasi, Pengendalian, dan Peningkatan dalam hal kebijakan, manual, standar yang digunakan dalam Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI), dan berbagai formulir yang didokumentasikan dalam Dokumen SPMI. Demikian pada mulanya tahapan membangun budaya mutu melalui penerapan SPMI, tidak berhenti hanya pada menyusun dokumen SPMI belaka namun justru penerapannya yang harus ditekankan dengan harapan hasilnya berdampak pada peningkatan budaya mutu pendidikan tinggi.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked.*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Jalan T. Rizal Nurdin, Km. 4,5 Sihitang. Padangsidimpuan, Kode Pos 22733.

Untuk info lebih lanjut:

Telp. (0634) 22080

Fax. (0634) 24022

humas@iain-padangsidimpuan.ac.id