0634-22080

Telepon Kantor

MENGHADAPI COVID 19 DENGAN METODE TASLIYAH

MENGHADAPI COVID 19 DENGAN METODE TASLIYAH
 \  Artikel  \  MENGHADAPI COVID 19 DENGAN METODE TASLIYAH

MENGHADAPI COVID 19 DENGAN METODE TASLIYAH

DR. SEHAT SULTONI DALIMUNTHE.

Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat

sehat sultoni

Catatan Penulis:

Tasliyah biasa diterjemahkan dengan “hiburan”. Di Pondok Modern Gontor, ada kegiatan latihan pidato. Yang  tampil dalam latihan itu bisa 5 atau 6 orang dalam satu kelompok. Jika telah tampil 3 orang, terkadang, mereka ada yang melakukan “tasliyah” dengan beragam cara, di antaranya lewat bernyanyi.

Prof. Dr. Abd Hayy al-Farmawi dalamTafsir al-Sahl al-Mufîdfî Tafsîr al-Majîd menyebutkan kata “tasliyah :تسلية” untuk menghibur Nabi Muhammad Saw. Ketika mendapatkan cobaan berupa hinaan, ejekan, dan bahkan “penganiayaan”  dari kaum kafir Quraish sebelum hijrah ke Madinah.

Nabi Muhammad Saw. Sejak kelahirannya sampai awal kerasulan,  sangat dicintai oleh masyarakat Mekah. Begitu datangnya kenabian dan kerasulan, maka yang mencintai, sebagian berbalik memusuhinya, termasuk dari anggota keluarganya yang terkenal Abu Lahab. Walaupun persaingan Bani Hasyim dan Banu Umayyah telah terjadi kata Haikal (2006: 9) 100 tahun sebelum kelahiran Nabi  Muhammad Saw, namun setelah kerasulan, Abu Lahab dan istrinya tampil orang nomor satu yang paling memusuhi Rasulullah Saw.

Kalau bukan perlindungan Bani Hasyim, seperti Abu Thalib, Abbas, dan Hamzah kepada Nabi Muhammad Saw. Niscaya kafir Quraish akan lebih mudah mengganggu dan melukainya. Setelah wafatnya Abu Thalib dan Khadijah, Nabi Muhammad Saw.mendapat perlakuan yang lebih buruk lagi dari kafir Quraish (Haikal/2005:151-152). Pernah kafir Quraish menyiram tanah keatas kepala Rasullullah Saw. Puncak usaha buruk kafir Quraish terhadap Nabi Muhammad Saw. Adalah mereka ingin membunuhnya pada saat beliau akan hijrah ke Madinah.

وَلَقَدِ اسْتُهْزِىءَ بِرُسُلٍ مِّن قَبْلِكَ فَحَاقَ بِالَّذِينَ سَخِرُواْ مِنْهُم مَّا كَانُواْ بِهِ يَسْتَهْزِؤُونَ

Artinya, “Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (`azab) olok-olokan mereka.” (Q.S. al-An`am/6:10).

Ayat ini ditafsirkan oleh Prof. Dr. Abdul Hayy al-Farmawi dalam al-Sahlu al-Mufid fi Tafsir al-Majid, “Wahai Nabi! Bukan kamu saja yang diperolok-olokkan umatnya, nabi-nabi sebelummu pun diperolok-olokkan oleh umatnya juga. Pada ayat lain, Allah berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَى مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلاَ مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللّهِ وَلَقدْ جَاءكَ مِن نَّبَإِ الْمُرْسَلِينَ

Artinya, Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai dating pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu. (Q.S. al-An`am/6:34).

Al-Farmawi mengatakan, “bukan kamu saja Muhammad yang didustakan oleh umatnya, nabi-nabi sebelumnya juga pernah didustakan umatnya. Menyebutkan penderitaan nabi-nabi sebelum Nabi Muhamammad  Saw. dalam mendakwakan ajaran Allah adalah cara menghibur beliau agar tidak larut dalam kesedihan.  Membandingkan penderitaan, kesengsaraan, kesedihan  yang lebih berat dari yang kita alami adalah salah satu metode konseling Islam yang disebut dengan “tasliyah”.

Ketika kita menderita, kita mencari tahu bahwa ada orang lain yang lebih berat penderitaannya. Ketika kita bersedih, kita membaca penderitaan orang lain yang lebih berat lagi. Ketika kita gagal, kita mendengar, ada orang lain yang berkali-kali gagal. Ketika kita miskin, masih ada orang lain yang lebih miskin lagi. Begitu dan seterusnya membandingkan keburukan untuk menghibur diri (tasliyah).

Dalam sejarah Islam, tahun 17 H, Ibn Katsir (2018: 240-242) mengatakan, virus (thâ`un) mewabah  diseluruh Syam (sekarang Palestina, Yordania, Suria, dan Libanon) yang bersumber dari wilayah Amawas, antara al-Quds dan Ramalah. Musibah itu dikenal dengan Virus Amawas, mewabah selama 9 bulan dan manewaskan 25.000 orang dan sumber lain menyebut 30.000 orang. Jika kita ambil 30.000, maka per bulan korban meninggal sekitar 3.333 orang. Sementara dengan covid 19 yang meninggal di Indonesia per 1 Juni 2020, rata-rata per bulan 547 orang. Dengan demikian, kita pantas terhibur, bahwa bukan kita saja yang pernah menderita dengan virus. Orang-orang terdahulu pun sudah pernah menderita bahkan lebih lebih dahsyat dari kita. Metode ini sudah sering dipraktekkan ketika berta`ziyah dalam musibah.

Terhadap musibah kita dituntut untuk bersabar (`ala al-balâishâbirîn). Sabar bukanlah kosa kata  yang bermakna lemah. Bukan ungkapan pesimisme, juga bukan aksi yang passif. Sabar adalah kekuatan (power) yang menghasilkan keteguhan, ketenangan, dan bahkan kebahagiaan.

Al-Raghib al-Ashfahani (t.t.: 273) menyebut sabar berarti menahan dengan susah. Lebih lanjut disebutkan bahwa sabar menahan diri dengan kekuatan akal dan syariat. Di sini jelas sekali hasil dari sabar itu adalah kemenangan atau kebaikan. Untuk itulah al-Qur’an menyebutkan orang-orang yang sabar diberi kabar gembira (Q.S. al-Baqarah/2:155). Tafsir dari salah satu kabar gembira itu adalah kemenangan atau kebaikan.

Covid 19 hendaknya melahirkan kesabaran yang berbuah pada sikap kesehatan yang baik. Pertama, kebersihan tangan. Kedua, jangan menyentuh wajah, khususnya mata, hidung, dan mulut, kalau tangan tidak bersih. Ketiga, menutup mulut ketika batuk dan menutup hidung ketika bersin. Keempat, pakai masker. Kelima, Jaga jarak. Keenam, isolasi mandiri. Ketujuh jaga kesehatan. Ketujuh protocol kesehatan itu bermuara pada dua hal, yaitu menjaga kepentingan diri dan tidak merugikan orang lain. Ini manusia komensalis, kualitas yang paling rendah.

Covid 19 hendaknya juga melahirkan kesabaran yang berbuah pada sikap perduli terhadap sesama.Pada kondisi work from home, dimana interaksi manusia diminimalisir, maka ada pihak-pihak yang tidak bias mencari nafkah secara normal, sehingga mereka menjadi lemah. Angka kemiskinan pasti bertambah. Kesabaran kita harus membuahkan hasil ketaatan mengeluarkan zakat. Sebagian kecil dari harta yang kita miliki adalah milik orang lain, termasuk fakir dan miskin (Q.S. al-Dzariyat/51:19).

Untuk membantu sesama, tidak saja menggunakan fasilitas zakat, juga harus mengaktivasi etos tangan di atas lainnya, yaitu infak, sedekah, dan wakaf. Konsepnya, kualitas kemanusiaan itu bertambah baik dengan zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISW). Jika ini yang dilakukan, maka mereka menjadi manusia mutualis, yaitu menguntungkan diri sendiri dan juga orang lain. Bukankahsudah ada janji Allah, bahwa perbuatan baik yang ikhlas,akan dibalas oleh Allah berlipat ganda (Q.S. al-Baqarah/2:261).

Related Posts

1 Comment

  1. Diploma of Informatics Telkom University

    I am very happy to find & read your blog. thanks for sharing these points, very useful for me. Thanks again for the insight
    Regards

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Butuh Bantuan?