0634-22080

Telepon Kantor

MERDEKA BELAJAR DI ERA KENORMALAN BARU

MERDEKA BELAJAR DI ERA KENORMALAN BARU
 \  Artikel  \  MERDEKA BELAJAR DI ERA KENORMALAN BARU

MERDEKA BELAJAR DI ERA KENORMALAN BARU

Maulana Arafat Lubis, M.Pd.

Dosen Prodi PGMI

maulana arafat

Berbicara tentang COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) tak pernah ada habis-habisnya. Kasus Covid-19 di Indonesia sampai hari ini semakin melonjak. Data menunjukkan sebanyak 49.009 positif, 2.573 meninggal, dan 19.658 orang yang sembuh (covid19.go.id). Terus berjuang mencari cara agar Covid-19 sirna masih jauh dari harapan, karena angka kasus Covid-19 semakin meningkat. Berbagai cara mulai dilakukan dengan memberikan himbauan kepada masyarakat untuk selalu menggunakan sabun/hand sanitizer, menyemprot disinfectant, menggunakan masker, dan helm APD (Alat Pelindung Diri). Selain itu, menerapkan sistem PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) juga dilakukan. Semua sector terkendala akibat PSBB, mulai dari pariwisata, ekonomi, pendidikan, dan lainnya. Alhasil Indonesia bisa saja goyang jika terus-menerus takut menghadapi Covid-19.

Akhirnya Ir. H. Joko Widodo (Presiden Republik Indonesia) menyatakan bahwa masalah ini harus dihadapi dengan saling gotong-royong, keputusan itu disebut New Normal (kompas.com, 2020). Keputusan ini dilakukan untuk menstabilkan situasi perekonomian yang mulai goyang akibat Covid-19. Akan tetapi, semua aktivitas tetap berpedoman pada protocol kesehatan untuk selalu menjaga kesehatan jasmani dan rohani bangsa.

Berbicara kalimat New Normal ternyata ditanggapi serius oleh para pakar bahasa. Pembahasan tersebut menghasilkan keputusan bahwa Badan Bahasa sudah mengindonesiakan “New Normal” menjadi “Kenormalan Baru” (detik.com, 2020). Kenormalan Baru adalah scenario membentuk tatanan baru setelah Covid-19 dalam semua aspek kehidupan (kesehatan, ekonomi, sosial, pendidikan, dan lain-lain).Covid-19 mengharuskan masyarakat untuk beradaptasi dengan keadaan kenormalan baru, seperti memakai masker setiap keluar rumah, selalu mencuci tangan, dan menjaga jarak fisik ketika berada di tempat keramaian.

Kenormalan Baru adalah tatanan, kebiasaan, dan perilaku yang baru berbasis pada adaptasi dengan kondisi yang ada. Keterkaitannya dengan pendidikan di kampus adalah adanya penyesuaian dengan model pembelajaran yang berbasis teknologi. Diperlukannya pembiasaan baru dalam pembelajaran di era Kenormalan Baru. Sebuah pembiasaan baru yang tak pernah diramalkan sebelumnya, ini terjadi karena lahirnya makhluk mini yang tak terlihat langsung oleh mata.

Keputusan Nadiem Anwar Makarim (Mendikbud Republik Indonesia) pada tanggal 15 Juni 2020 merupakan kebijakan yang tepat dalam memikirkan kesehatan jasmani maupun rohani para peserta didik, pendidik, dan tenaga kependidikan. Kebijakan kenormalan baru dalam dunia pendidikan tetap dilakanakan sesuai aturan protocol kesehatan dengan tujuan untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 dan butuh kesadaran reflektif juga. Untuk itu, semua juga turut saling bergotong-royong. Prioritas yang terpenting agar siap menghadapi kenormalan baru ialah kesehatan dan mental.

Selama masa Covid-19, aktivitas belajar mengajar beralih dari tatap muka ke daring. Tatap muka secara langsung berubah menjadi tidak langsung dengan memanfaatkan layanan aplikasi yang mempertemukan antara dosen dan mahasiswa di area jagad maya. Pola pembelajaran berubah dan strategi juga turut ikut berubah. Pembelajaran jarak jauh melalui sistem daring kemungkinan besar berlanjut di masa pasca pandemi dan akan menjadi role model pelaksanaan pembelajaran di era Kenormalan Baru. Covid-19 meningkatkan urgensi transformasi dunia pendidikan, sejalan dengan arus revolusi digital 4.0. Akan tetapi, yang paling penting ialah materi perkuliahan tersampaikan dan dapat dipahami oleh mahasiswa. Hal ini bias menjadikan kebijakan merdeka belajar semakin matang.

Merdeka belajar adalah system pembelajaran yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu yang fleksibel karena belajar dan mengajar bisa di mana saja dan kapan saja, tetapi tetap berada pada koridor kurikulum. Merdeka belajar merupakan wujud pembelajaran yang otonom dan fleksibel sehingga tercipta kultur belajar yang inovatif, tidak mengekang, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa. Merdeka belajar memberikan kesempatan kepada dosen dan mahasiswa bebas memilih dalam melaksanakan hak maupun kewajibannya sebagai pemelajar juga pembelajar. Merdeka belajar memiliki tujuan untuk meningkatkan kompetensi lulusan dengan soft skills maupun hard skills untuk lebih siap dan relevan dengan kebutuhan saat ini dan masa depan, serta menyiapkan lulusan sebagai pemimpin masa depan yang unggul dan berkepribadian mulia.

Perguruan tinggi sebagai pelopor pelaksanaan distance learning yang memiliki peran strategis dalam mendukung pelaksanaan dan perbaikan pembelajaran jarak jauh di era Kenormalan Baru. Persiapan pembelajaran dalam menghadapi kenormalan baru harus memenuhi tahapan seperti berpedoman pada protocol kesehatan, pembelajaran daring, dan peningkatan literasi digital.

Banyak perubahan sejak lahirnya Covid-19 dalam perspektif pendidikan, salah satunya pembelajaran nyata menjadi maya, dosen nyata menjadi maya, kampus menjadi kampus maya, seminar-seminar menjadi maya, riset harus menggunakan fitur maya. Akan tetapi, semua akan kembali normal sedia kala; dari maya menjadi nyata. Pembelajaran daring juga harus ada outcome seperti pengetahuannya, skill keterampilannya, karakternya, dan social skill. Maka dosen harus menguasai formula 6C (Computational thinking, Creative, Critical thinking, Collaboration, Communication, Compassion) di era Kenormalan Baru. Untuk itu dosen harus menjadi seseorang great lecture. Melalui pengamalan 6C dapat memotivasi mahasiswa dalam menggali problem solving dan menghasilkan project based learning, karena itu salah satu tujuan dari merdeka belajar.

William Arthur Ward (Lafendry, 2018) menyatakan ada beberapa tipe pendidik ketika melaksanakan kegiatan pembelajaran, yaitu: Mediocre Lecture: dosen yang ketika mengajar sekadar menyampaikan materi melalui ceramah (tanpa media dan model pembelajaran) serta cenderung tidak peduli dengan pemahaman peserta didik. Dosen tipe ini akan menjadikan pembelajaran yang monoton dan jenuh sehingga mahasiswa mudah mengantuk.

Good Lecture: dosen tipe ini terlihat ahli dalam menjelaskan materi. Namun, gaya mengajarnya masih bersifat teacher center (berpusat pada dosen). Artinya, dosen kurang melibatkan aktivitas mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran. Dosen sangat memahami materi pelajaran, tapi tidak memahami keadaan mahasiswa dalam belajar. Jika dosen hanya lihai dalam menyampaikan materi saja tanpa memikirkan seberapa luas pengetahuan yang dipahami mahasiswa, maka suatu saat dosen tidak lagi menjadi garda utama sebab akan tergantikan oleh media teknologi.

Superior Lecture: dosen yang mendemonstrasikan materi kepada mahasiswa. Dosen superior selalu membawa media atau pun alat pembelajaran untuk didemonstrasikan oleh mahasiswa. Dosen mampu melahirkan pembelajaran student centered (berpusat pada peserta didik), artinya dosen mengajak mahasiswa untuk belajar secara saintifik. Dosen berfokus untuk menimbulkan suasana pembelajaran yang aktif sehingga mahasiswa mudah memahami materi.

Great Lecture: dosen yang keberadaannya selalu memberi motivasi dan inspirasi. Bukan hanya berkompeten dalam bidang keilmuan, tetapi menjadi contoh atas perilakunya. Dosen tipe inilah yang sangat dibutuhkan oleh dunia pendidikan saat ini. Dosen tipe ini selalu menjadikan pekerjaannya sebagai ladang ibadah dan merasa gelisah jika tidak bisa memotivasi maupun menginspirasi mahasiswanya. Dosen tipe ini juga tidak menunjukkan keegoisannya, tetapi ia memikirkan bagaimana melahirkan pembelajaran yang aktif, efektif, efisien, inovatif, produktif, mengasyikkan, dan menggembirakan.

Dari keempat tipe dosen di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa menjadi dosen merupakan profesi pilihan setiap orang. Menjadi dosen adalah pekerjaan yang mulia karena mampu membawa seseorang untuk mengubah diri dan orang lain menuju lebih baik. Oleh karena itu, mahasiswa membutuhkan dosen yang great, artinya bukan hanya sekadar pintar, tetapi juga mulia akhlaknya. Menjadi seorang dosen itu berat, tidak semudah membalikkan telapak tangan. Maka dari itu jadilah dosen yang diinginkan mahasiswa, bukan yang kita inginkan. Jadilah dosen yang disukai dan jadilah dosen yang dirindukan oleh mahasiswa. Dosen yang great ialah pendidik yang selalu mengajar dengan menerapkan CINTA:

  • Care: peduli kepada mahasiswa untuk masa depannya yang lebih
  • Intimacy: memupuk keakraban kepada
  • Nuance: menimbulkan suasana yang menyenangkan dan mengasyikkan.
  • Trigger: mengajak mahasiswa untuk mentransformasikan materi yang diperoleh.
  • Appreciation: memberikan apresiasi kepada mahasiswa walau sekecil apapun proses yang dikerjakannya.

Selain mengajar, dosen juga harus belajar demi melaksanakan Tri Darma (mengajar, meneliti, mengabdi di masyarakat). Artinya, dosen juga harus menerapkan merdeka belajar dengan cara menghasilkan sebuah karya. Prinsip berkarya, yaitu manfaatkan waktu untuk membaca dan menulis, jadikan tulisan bermanfaat untuk orang lain, berpikir positif bahwa sesuatu yang ditulis dibaca orang lain. Filsafat dalam berkarya, yaitu buatlah sesuatu hal yang kreatif sehingga menghasilkan karya monumental dengan catatan perlu keseriusan. Apapun karya dari buah tangan kita, yakinlah dapat menghantarkan manfaat bagi orang lain.

Situasi Covid-19 bukanlah benteng penghalang bagi kita untuk tidak kreatif, produktif, serta inovatif. Situasi ini hadir sebagai tantangan bagi kita, maka kita harus hadapi rintangan ini dengan sabar karena ini hanyalah sementara. “Setiap perjuangan tidak akan mengkhianati tujuan”. Ada hikmah sejak lahirnya Covid-19, salah satunya menimbulkan imajinasi para pendidik untuk menghadirkan pembelajaran yang menarik. Banyak para pendidik yang menjadi Youtuber maupun Programmer  di masa Covid-19, ini semua bertujuan untuk mengembangkan dan memajukan pendidikan di Indonesia dengan cara baru.

Keadaan tidak bisa disalahkan, ini adalah tantangan yang mau tidak mau harus dihadapi. Mau tidak mau para dosen harus belajar dan terus belajar hal-hal yang baru termasuk menguasai teknologi, guna materi pembelajaran tersampai dengan optimal. Banyak cara menuju roma walaupun dengan sistem daring. Walaupun dengan sistem daring, pembelajaran bisa juga dibuat menyenangkan dan mengasyikkan. Semua tergantung ide cemerlang dosen dalam menciptakan pembelajaran menarik.

Semua dilakukan karena cinta, andai bukan karena cinta, mungkin seluruh pendidik di Indonesia sudah mogok ngajar. Akan tetapi, ini dilakukan atas pesan para leluhur kita yang sudah tertuang dalam UUD 1945 bahwa mencerdaskan kehidupan bangsa perlu dilaksanakan. Era Kenormalan Baru berarti harus menciptakan paradigm baru dalam pembelajaran untuk Indonesia maju. Bukan hanya tenaga kesehatan, pendidik juga menjadi garda terdepan dalam menegakkan cita-cita bangsa, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka, mari kita sama-sama bergotong-royong memajukan pendidikan Indonesia demi masa depan anak bangsa yang gemilang.

Related Posts

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Butuh Bantuan?