Pencarian Kebenaran Sebagai Sikap Beragama Yang Hanif

Pencarian Kebenaran Sebagai Sikap Beragama Yang Hanif

Dr. Anhar, M.A

Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum Perencanaan dan Keuangan

Realitasnya tidak banyak kaum Muslim yang paham bahwa substansi (soal pokok) beragama yang hanif itu adalah pencarian kebenaran. Beragama kebanyakan kaum Muslim bersifat stagnan, yakni berhenti pada satu fase pemahaman dan pengamalan agama tertentu (ortodoksionis). Mereka lalu memandang pemahaman agama yang berhenti pada satu fase itu sebagai kebenaran final. Keadaan inilah yang melahirkan fanatisme yang kukuh dalam pemahaman agama. Meminjam bahasa Muhammad Arkoun, mereka itu terjebak kepada  taqdis al-afkar ad-diniy (pengkudusan pemikiran agama).

Corak pemahaman agama demikian  ini bertentangan dengan sifat atau natur Islam itu sendiri. Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari Islam. Oleh karena Islam itu tinggi, maka harus dicari terus-menerus. Ketinggian Islam itu sebagaimana ditunjukkan oleh Nabi Muhammad Saw dalam segenap ruhiyah, qalbiyah, ‘aqliyah, nafsiah dan jismiyah-nya.  Atau seperti ketinggian  ber-Islam Nabi Ibrahim a.s.

Adakah di antara umat Islam yang berani mengklaim dirinya telah menyamai kualitas ber-Islam para nabi itu? Atau, kalau kita berhenti (stagnan) pada satu fase beragama, yakinkah kita akan membawa kita berjalan ke arah Islam yang tinggi itu? Beragama yang stagnan tidak mungkin membawa kita ke arah beragama para Nabi (Islam yang tinggi).  Justru corak beragama seperti ini dalam perjalanan waktu (sejarah) bisa bersifat bertentangan dengan keber-Islam-an para Nabi itu sendiri. Di sisi lain, keberagamaan yang stagnan ini akan membuat agama dalam masa yang lama akan kehilangan vitalitas dan aktualitasnya di tengah peradaban universal umat manusia. Gejala demikian inilah yang dialami agama Kristen saat ini di Eropa. Gereja-gereja besar mengalami sepi jemaat di hari Minggu dan hari-hari kebaktian lainnya.

Keberislaman  yang stagnan biasanya menyandarkan sendi-sendi beragamanya secara alamiah kepada pemahaman agama yang telah terwariskan turun-temurun dari para pendahulu. Penerimaan kepada petunjuk Al-Qur`an dan Hadist hanya sebatas tidak bertentangan dengan paham agama yang telah terpelihara turun-temurun. Bahkan, faktanya  banyak di antara umat Islam yang memiliki keraguan mengamalkan petunjuk suatu hadis shahih, karena tidak terdapat rujukannya dalam pemahaman agama yang telah membudaya.  Sikap ini memiliki kesamaan dengan pengalaman orang-orang Quraisy jahiliyah ketika merespon ajakan Nabi Muhammad Saw agar mereka menerima agama yang hanif.  Dalam penolakan mereka kepada  ajakan Nabi, kaum Quraisy jahiliyah itu menegaskan bahwa mereka hanya mengikuti apa-apa yang diwarsikan oleh moyang mereka. Sikap fanatisme terhadap jahilisme itu sebagaimana terekam dalam surat Al-Baqarah ayat 170:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Beragama yang stagnan itu sebenarnya model atau corak beragama orang yang paling awam. Hal pokok yang disayangkan, corak beragama mereka ini mendapat pembenaran dari ulama atau intelektual muslim yang dipandang telah mumpuni dalam penguasaan ilmu agama. Alhasil, pembenaran ini menjadi alat ketahanan yang kokoh bagi muslim awam tersebut.

Mengapa pencarian kebenaran disebut sebagai substansi beragama yang hanif? Jawabannya karena yang demikian inilah bentuk atau corak beragama para nabi, terutama Nabi Ibrahim a.s., dan Nabi Muhammad Saw. Nabi Ibrahim adalah seorang Nabi yang terus-menerus mencari hakikat ber-Islam (pemasrahan diri) yang sebenar-benarnya. Puncak ke-Islam-annya (penyerahan dirinya) ia tunjukkan ketika ia sanggup dengan tulus-ikhlas melaksanakan perintah penyembelihan putra kesayangannya Isma’il a.s. Pengurbanan ini sekaligus juga bukti syahadah (persaksian) beliau yang paling tinggi. Menurut Ali Shariati, dengan  pengurbanan ini, Ibrahim a.s., telah berhasil mencapai maqam (posisi spiritual) paling tinggi yakni sebagai khalilullah (kesayangan Allah). Maqam ini beliau capai setelah berhasil menunjukkan secara nyata ¾dalam bentuk pengurbanan¾ di hadapan Allah, para malaikat dan manusia bahwa ia mencintai Allah melebihi kecintaannya kepada apa pun dan siapa pun. Tentu saja, beliau tidak serta merta sampai ke puncak ber-Islam ini. Perjalanan pencarian beliau sangat panjang. Ia bahkan berani “menyoal” Tuhan dalam beberapa hal. Suatu sikap pencarian kebenaran yang amat berani. Sebagai contoh pertanyaan Ibrahim  yang sangat berani  kepada Tuhan  berikut ini:

Artinya: Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum percayakah engkau?” Dia (Ibrahim) menjawab: “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap)”. Dia (Allah) berfirman, “Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (QS Al-Baqarah/2 ayat 260).

Allah SWT menegaskan bahwa corak atau model beragama Nabi Ibrahim a.s., adalah hanifan musliman (beragama yang hanif/lurus lagi berpasrah diri kepada Allah). Corak atau model beragama yang demikian ini menurut Nurcholish Madjid adalak corak atau model beragama yang lapang, toleran, terbuka dan tidak membelenggu jiwa. Hal ini dapat dipahami dari penegasan Allah bahwa bahwa Ibrahim itu bukan Yahudi atau Nasrani, akan tetapi beliau adalah hanifan musliman (muslim yang hanif). Kita mengetahui bahwa sikap beragama yang benar  dan lurus yang dicontohkan para nabi sejak nabi pertama hingga nabi terakhir adalah sikap penyerahan atau pemasrahan diri yang ikhlas kepada Allah. Dalam perjalanan waktu, Al-Qur`an menjelaskan bahwa pengikut Yahudi dan Nasrani membelokkan dan menukarnya menjadi agama komunitas tertentu (seperti komunitas Yahudi) dan berbagai formalisme ajaran tertentu pula (misalnya sistem gereja atau kependetaan) seperti Nasrani. Agama yang tadinya lapang, terbuka dan toleran itu mereka ubah menjadi agama yang sempit, tertutup, formal, rigid dan komunal. Suatu cara beragama yang telah lari dari sikap pemasrahan diri yang ikhlas hanya kepada Allah SWT.

Sikap beragama umat Islam yang stagnan dapat berubah menjadi model beragama Yahudi dan Nasrani itu. Dikatakan demikian, karena umat Islam dapat saja terjebak kepada suatu isme atau paham tertentu yang rigid. Sehingga, jikalau mereka berhenti pada fase itu, akibatnya mereka akan memandang bahwa kebenaran hanya ada pada isme atau paham yang mereka anut. Sampai pada tahap ini mereka sesungguhnya sudah terjebak pada formalisasi atau komunalisme agama. Sikap ini bertentangan dengan cara beragama Nabi Ibrahim a.s., dan Nabi Muhammad Saw.

Dalam surat Ali Imran ayat 68, Allah SWT menegaskan bahwa manusia yang  paling dekat kepada Ibrahim a.s. (yang sudah tentu cara beragamanya), adalah orang-orang yang mengikutinya, kemudian Nabi ini (هذ النبي), yakni Muhammad Saw dan orang-orang yang beriman. Orang-orang yang paling dekat kepada Ibrahim a.s., itu disebut juga sebagai orang-orang yang beragama terbaik (أحسن دينا). Allah SWT berfirman:

Artinya: Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya. (An-Nisa`/4 ayat 125)

Penegasan terakhir ini adalah peringatan bagi kita agar meneladani Ibrahim dalam beragama. Suatu cara beragama yang tidak terjebak pada simbolisme, formalisme dan komunalisme beragama, yaitu beragama yang hanifiyatussamhah, suatu corak beragama yang lurus dan lapang. Wallahu a’lam.

Catatan Penulis:

Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 170: Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi Kami hanya mengikuti apa yang telah Kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked.*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Ayo Berlangganan

Recent Posts

Jalan T. Rizal Nurdin, Km. 4,5 Sihitang. Padangsidimpuan, Kode Pos 22733.

Untuk info lebih lanjut:

Telp. (0634) 22080

Fax. (0634) 24022

humas@iain-padangsidimpuan.ac.id