PENELUSURAN TERAPI MURSYID

Pengaruh globalisasi pernah membuat manusia melepas diri dari Tuhan berani mengatakan Tuhan telah mati meskipun artinya dia tidak merasa perlu lagi Tuhan sebab dia sendirilah yang menentukan dirinya. Apa saja yang diinginkannya bersama Tuhan atau tidak, sama saja bahkan menurutnya bertuhan yang selalu di agungkan ternyata nihil secara realitas. Paham emperis materialis tersebut telah berkembang pada abad pertengahan di Eropa menuju ideologi sekularisme. Berubah kemudian setelah melihat dan merasakan kekosongan jiwa dari ajaran spiritual yang mengakibatkan banyak di Eropa, Amerika dan di Jepang terjadi bunuh diri massal padahal kemajuan, kesuksesan, kemakmuran dan lainnya telah mereka raihdan miliki. Akhirnya kehidupan materialisme itu cenderung berubah kepada kehidupan spiritualisme.


Paham spiritualisme mengakui adanya Tuhan tetapi tidak mau diberati oleh perintah dan larangan agama- Nya yang lebih terkenal dengan motto Spiritual Yes! Religion No! permasalahan tersebut berkembang kembali dewasa ini bukan saja dalam satu agama melainkan lintas agama dengan pluralisme agama. Mereka mencari cari kebahagiaan itu di berbagai aktivitas hidup bersama dengan kajian ketuhanan yang sangat mendalam, tidak jarang pula membentuk grup grup kesenian yang dapat menggugah perasaan dan menutupi kejenuhan serta hidupberpoya poya bersama.

Di sisi lain, islam yang dibangun dengan ajaran dasar iman sebagai akumulasi dari tasdiq, ikrar dan action yang harus menyatu dalam kepatuhan dan pengabdian menyatukan dimensi esoterik dan eksoterikmasih juga sulit dilakukan secara totalitas, namun umat muslim tetap memegang agamanya dan melaksanakan perintah Rasul SAW. Bahkan sampai pada fatwa dan ajaran para gurunya. Dalam tataran ini eksistensi para agamawan termasuk seorang guru spiritual yakni mursyid amat diperlukan apalagi ajaran islam yang amat luas dan bercorak ragam sebagai pengembangan dari al Quran dan Sunnah Rasul SAW.

Seiring dengan kehadiran guru spiritual semakin menarik perhatian, mereka bukan saja berperan sebagai guru melainkan digiring oleh public kepada seorang yang memiliki multi profesi seperti konselor, psikiater, dukun, terafis atau pengobat lainnya meskipun dia sendiri tidak mau dipanggil dengan gelar gelar itu. Usaha yang dilakukannya didasarkan pada ajaran ajaran islam itu sendiri membantu mengatasi kekalutan mental, kesulitan kejiwaan dan bahkan datang dengan berbagai keluhan yang secara eksplisit tampaknya tidak berkaitan dengan pengobatan. (Djamaluddin Ancok & Fuad Nashori Suroso,2018:90).


Kontributor : Subroto Siregar
Fotografer : Subroto Siregar
Editor : H. Ratonggi, M. A

About the author

Pengelola Sub Bagian Humas dan Informasi

Related Posts

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.