PENELUSURAN TERAPI MURSYID

Komunitas pengamal tasawuf-tarekat semakin hari semakin ramai, seiring perkembangan masa dan waktu, populasi manusia yang semakin pesat, tidak jarang persulukan semakin berada di tengah khalayak ramai, para lanjut usia (lansia) mencarinya selain mempersiapkan hari kematian juga semakin beraneka ragamnya kegelisahan rohani, kekosongan spiritual dari standar oprasional/prosedur kehidupan orang beriman yang telah pandai membandingkan dan mempersiapkan kehidupan lain.

Seorang pedagang mendatangi mursyid meminta modal agar dagangan dan jualannya lancar, dapat menabung tidak dimakan oleh tuyul. Demikian juga seorang yang mencalon anggota legislatif meminta restu dan usaha agar cita-cita dan perjuangannya mulus terus dan dapat meraih apa yang diidam idamkan, sampai rakyat jelata, petani buruh datang meminta agar hasil ladang, kebun dan pertaniannya tidak diganggu hama, dan buruh nakal. Demikian juga salah satu penelitian skripsi Rafiqah mahasiswi Universitas Syekh Ali Hasan Ahmad Addary bahwa dewasa ini bukan saja para lanjut usia yang menyisihkan waktu dalam memperhatikan dan memasuki dunia spiritual alias tarekat, para remaja akhir (usia 20-25 tahun) dewasa ini di Simaninggir Siabu Mandailing Natal ,telah banyak mengikuti pembelajaran dan kegiatan dari seseorang mursyid.Artinya selain dari ketokohan agama mursyid kerap kali dimintakan masyarakat memberikan pengobatan, bukan saja mengobati penyakit mental spiritual melainkan juga perihal lain yang tidak berhubungan secara langsung dengan fisik mental atau spiritual.

Mursyid dalam pandangan publik
Sosok seorang mursyid sering dipandang superman karena melihat dan memperhatikan bermacam ragamnya orang datang dan memerlukannya. Kemudian seorang mursyidpun kelihatannya penuh ketenangan, kedamaian, kebahagiaan dan keseimbangan hidup, seorang mursyid dibutuhkan orang di tengah masyarakatnya membuatnya dihormati, disegani dan ditokohkan sebagai tokoh agama. Kegiatan bermasyarakat dan beribadah terangkum, terlaksanakan dan tidak terabaikan. Di daerah ini seorang mursyid bila diperhatikan dengan saksama, sosialnya dengan tingkat ekonominya masih seimbang dan tidak ada mursyid sombong karena kekayaannya dan ibadahnya sehingga mengabaikan masyarakat atau memusuhinya. Yang kerap terjadi, masyarakat sering memandang tingkatan ekonomi seorang mursyid, kenapa bisa ekonominya lumayan padahal kerja menetapnya bukan pegawai negeri, bukan pula seorang manajer atau pedagang sukses lainnya, kata mereka.

About the author

Pengelola Sub Bagian Humas dan Informasi

Related Posts

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.