Mari bangun masjid IAIN Padangsidimpuan
Klik Disini
Mari bangun masjid IAIN Padangsidimpuan
Klik Disini

PERKAWINAN ANAK DI INDONESIA

[vc_row][vc_column][vc_custom_heading text=”Dr. Ikhwanuddin Harahap, M.Ag.” font_container=”tag:h2|text_align:center|color:%233faa05″][vc_text_separator title=”Wakil Dekan Bid. Akademik FASIH IAIN Padangsidimpuan” color=”vista_blue” style=”shadow” border_width=”9″][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column width=”1/3″][vc_single_image image=”12036″ img_size=”medium” alignment=”center” style=”vc_box_shadow_3d”][/vc_column][vc_column width=”2/3″][vc_wp_text]Catatan Penulis:

[upside_sticky class=”sticky-note sticky-pink”]

Indonesia mendekati level ”darurat perkawinan anak”. Data menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-7 di dunia dan ke-2 di ASEAN soal angka perkawinan anak tertinggi. Praktik perkawinan anak di Indonesia berdasarkan data BPS 2017 menunjukkan angka 25,2 persen. Artinya, 1 dari 4 anak perempuan menikah pada usia anak, yaitu sebelum mencapai usia 18 tahun. Sedangkan pada tahun 2018, BPS mencatat sebesar 11,2 persen, artinya 1 dari 9 perempuan usia 20-24 tahun menikah sebelum usia 18 tahun. Selain itu, ada 20 provinsi dengan prevalensi perkawinan anak di atas angka nasional. [/upside_sticky][/vc_wp_text][/vc_column][/vc_row][vc_row][vc_column][vc_tta_tabs style=”modern” shape=”square” color=”green” spacing=”4″ gap=”1″ autoplay=”3″ active_section=”1″ pagination_style=”flat-square” pagination_color=”sandy-brown”][vc_tta_section title=”Halaman 1″ tab_id=”1543573635766-28f62ff5-0821″][vc_wp_text]Pemerintah Indonesia mengambil langkah reformatif dalam mengantisipasi perkawinan usia dini melalui Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang merupakan pembaharuan hukum keluarga yaitu Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam undang-undang ini disebutkan bahwa usia perkawinan bagi perempuan yaitu dari 16 tahun sebagaimana terdapat pada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 menjadi 19 tahun. Ketentuan ini merupakan titik kulminasi dari perjalanan panjang upaya reformasi usia perkawinan.

Ketentuan mengenai batas usia minimal dalam perkawinan ini memberikan perlindungan hukum bagi anak khususnya perempuan, di mana perkawinan anak yang selama ini menjadi ”hantu” yang menakutkan bagi mereka. Melalui ketentuan ini, anak perempuan Indonesia memperoleh haknya seperti hak pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi dan hukum.

 

Faktor-faktor Penyebab Perkawinan Anak

Perkawinan anak dilakukan oleh pasangan muda karena beberapa faktor yaitu 1. Tradisi/adat, 2. Pendidikan rendah, 3. Perjodohan, 4. Seks pra-nikah. Selain itu faktor lain adalah a. Kemauan sendiri, karena keduanya merasa sudah saling mencintai dan sehingga mereka yang telah mempunyai pasangan atau kekasih terpengaruh untuk melakukan pernikahan di usia muda. b. Ekonomi, pernikahan usia muda karena keadaan keluarga yang hidup digaris kemiskinan, untuk meringankan beban tuanya maka anak perempuannya dinikahkan dengan orang yang dianggap mampu. c. Pendidikan,  rendahnya tingkat pendidikan maupun pengetahuan orang tua, dan masyarakat, menyebabkan adanya kecenderungan menikahkan anak masih di bawah umur. d. Keluarga, karena orang tua tidak sanggup menyekolahkan anaknya sehingga ia cepat-cepat dinikahkan, juga karena kurangnya kemauan anak untuk melanjutkan sekolah dan faktor takut jadi perawan tua, maka satu-satunya jalan keluar adalah dinikahkan secepatnya manakala ada jodohnya . e. Tradisi, pernikahan usia muda terjadi karena masih memandang hal yang wajar apabila pernikahan dilakukan pada usia anak-anak atau remaja, bahwa sudah menjadi tradisi yang sulit untuk dihilangkan dalam lingkungan masyarakat tersebut.[/vc_wp_text][/vc_tta_section][vc_tta_section title=”Halaman 2″ tab_id=”1543573635766-d19060a5-b125″][vc_wp_text]Dampak Perkawinan Anak

Perkawinan pada usia anak menimbulkan masalah hukum. Di antaranya terjadi peningkatan angka perceraian akibat nikah di bawah umur sangat tinggi. Secara medis, sosial, dan ekonomi, perkawinan anak telah dibuktikan berbagai penelitian lebih menimbulkan mudarat daripada manfaat. Selain itu, pernikahan anak di bawah umur memang sangat berisiko. Beberapa kasus kesehatan yang terjadi pada pernikahan terlalu muda adalah, kejadian perdarahan saat persalinan, anemia, dan komplikasi saat melahirkan. Selain itu, perempuan yang hamil pada usia muda berpotensi besar untuk melahiran anak dengan berat lahir rendah, kurang gizi dan anemia.

Terdapat korelasi yang tinggi antara fenomena menikah dini dengan tingginya angka  kematian ibu akibat persalinan di Indonesia. Saat ini rata-rata angka kematian ibu melahirkan di negeri kita cukup tinggi, yaitu 228 kematian per 100 ribu kelahiran hidup. “Kalau rata-rata itu dikalkulasikan, rata-rata setiap satu jam terdapat dua kasus kematian ibu. Jika diakumulasikan dalam setahun mencapai 17.520 kasus. Menurut WHO, anak perempuan usia 10-14 tahun memiliki risiko lima kali lebih besar untuk meninggal dalam kasus kehamilan dan persalinan daripada perempuan usia 20-24 tahun, dan secara global kematian yang disebabkan oleh kehamilan merupakan penyebab utama kematian anak perempuan usia 15-19 tahun. Selain masalah pendidikan dan kesehatan, ada juga masalah psikologis.

Pelbagai kajian menunjukkan bahwa anak perempuan yang menikah pada usia dini memiliki risiko tinggi untuk mengalami kecemasan, depresi, atau memiliki pikiran untuk bunuh diri, sebagian dapat disebabkan mereka tidak memiliki status, kekuasaan, dukungan, dan kontrol atas kehidupan mereka sendiri. Selain itu mereka juga kurang mampu untuk menegosiasikan hubungan seks aman, sehingga meningkatkan kerentanan mereka terhadap infeksi menular seksual seperti HIV. Kajian lain juga menunjukkan bahwa pengantin anak memiliki peluang lebih besar untuk mengalami kekerasan fisik, seksual, psikologis, dan emosional, serta isolasi sosial, yang merupakan akibat dari kurangnya status dan kekuasaan mereka di dalam rumah tangga mereka.

Dampak perkawinan anak atau di bawah umur sangat berbahaya, baik terhadap jiwa terutama jiwa seorang ibu yang akan melahirkan maupun berbahaya terhadap keturunan. Di antara dampak yang sering terjadi adalah

1. Remaja yang hamil akan lebih mudah menderita anemia selagi hamil dan melahirkan, salah satu penyebab tingginya kematian ibu dan bayi.

2. Kehilangan kesempatan mengecap pendidikan yang lebih tinggi. Pada kondisi tertentu, anak yang melakukan pernikahan dini cenderung tidak memperhatikan pendidikannya, apalagi ketika menikah langsung memperoleh keturunan, ia akan disibukkan mengurus anak dan keluarganya, sehingga hal ini dapat menghambatnya untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.

[/vc_wp_text][/vc_tta_section][vc_tta_section title=”Halaman 3″ tab_id=”1543573649072-afb08758-6439″][vc_wp_text]

Namun hal ini dapat diminimalisir dengan dukungan keluarga penuh, serta ada bantuan dalam kepengasuhan anak, akan dapat meminimalisir pasangan pernikahan dini untuk dapat terus malanjutkan studinya.

3. Interaksi dengan lingkungan teman sebaya berkurang. Sempitnya peluang mendapat kesempatan kerja yang otomatis mengekalkan kemiskinan (status ekonomi keluarga rendah karena pendidikan yang minim).

Selain dampak terhadap sang ibu, dampak perkawinan anak terhadap anak yang dilahirkan adalah

1. Lahir dengan berat rendah, sebagai penyebab utama tingginya angka kematian ibu dan bayi

2. Cedera saat lahir

3. Komplikasi persalinan yang berdampak pada tingginya angka kematian.

Penambahan Usia; Langkah Reformatif

Deklarasi Hak Asasi Manusia di tahun 1954 secara eksplisit menentang pernikahan anak. Ironisnya, praktek pernikahan anak masih berlangsung di berbagai belahan dunia dan hal ini merefleksikan perlindungan hak asasi kelompok usia muda yang terabaikan. Deklarasi ini seringkali tidak efektif dan terpatahkan oleh adat istiadat serta tradisi.

Negara-negara muslim sangat concern terhadap usia perkawinan. Misalnya di Aljazair usia perkawinan laki-laki dan perempuan adalah 21;18, Bangladesh 21;18, Irak 18;18, Libanon 18;17, Libya 18;16, Malaysia 18;16, Maroko 18;18, Mesir 18;16, Pakistan 18;16, Somalia 18;18, Suriah 18;17, Tunisia 19:17, Turki 17;15, Yaman Selatan 18;16, Yaman Utara 15;15, Yordania 16;15 dan Indonesia 19;19.

Indonesia sangat resposif terhadap fenomena perkawinan anak. Aspirasi datang dari berbagai kalangan untuk memperbaharui ketentuan tentang usia nikah, seperti dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementerian pemberdayan perempuan dan perlindungan anak. Setelah melalui diskusi dan dialog panjang, akhirnya pemerintah Indonesia merevisi usia nikah dari 16 tahun sebagaimana pada Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjadi 19 tahun sebagaimana terdapat pada Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019.[/vc_wp_text][/vc_tta_section][vc_tta_section title=”Halaman 4″ tab_id=”1577780438728-a0c00674-ea6f”][vc_wp_text]

Di antara pertimbangan pemerintah dalam menetapkan ketentuan mengenai batas usia nikah ini antara lain adalah bahwa: a. negara menjamin hak warga negara untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah, menjamin hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; dan b. bahwa perkawinan pada usia anak menimbulkan dampak negatif bagi tumbuh kembang anak dan akan menyebabkan tidak terpenuhinya hak dasar anak seperti hak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, hak sipil anak, hak kesehatan, hak pendidikan, dan hak sosial anak.

Penutup

            Penambahan usia nikah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia merupakan langkah reformatif dan responsif yang mengakomodasi kepentingan anak bangsa. Melalui Undang-Undang No. 16 Tahun 2019, anak Indonesia akan memperoleh hak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sebagaimana yang terjadi selama ini sebagai akibat perkawinan anak. Selain itu, anak juga akan memperoleh hak sipil anak, hak kesehatan, hak pendidikan, dan hak sosial anak yang sering terabaikan ketika terjadi perkawinan anak.

[/vc_wp_text][/vc_tta_section][/vc_tta_tabs][/vc_column][/vc_row]

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.