0634-22080

Telepon Kantor

PESAN-PESAN ISLAM MODERASI DALAM HATA SIMORA-MORA PADA PERNIKAHAN ADAT ANGKOLA

PESAN-PESAN ISLAM MODERASI DALAM HATA SIMORA-MORA PADA PERNIKAHAN ADAT ANGKOLA
 \  Artikel  \  PESAN-PESAN ISLAM MODERASI DALAM HATA SIMORA-MORA PADA PERNIKAHAN ADAT ANGKOLA

PESAN-PESAN ISLAM MODERASI DALAM HATA SIMORA-MORA PADA PERNIKAHAN ADAT ANGKOLA

Drs. Kamaluddin, M.Ag

Wakil Dekan AUPK FEBI IAIN Padangsidimpuan

Dalam adat pernikahan masyarakat Angkola di Tapanuli Selatan ditemukan satu bentuk kearifan lokal disebut dengan pemberian Hata Simora-Mora terhadap kedua mempelai yang baru saja melangsungkan pernukahan. Hata Simora-Mora secara sederhana diartikan sebagai Kata-Kata Nasihat yang disampaikan oleh orang tua, kaum kerabat dan tokoh masyarakat terhadap kedua mempelalai pada waktu pemberangkatan. Acara pemberangkatan ini dipandang sakral dan penuh rasa haru karena perpisahan dan ucapan selamat jalan serta pemberian nasihat-nesihat hidup ber-rumah tangga. Bagi boru (putri) yang akan pergi menuju rumah suaminya, acara ini merupakan perpisahan dengan orang-orang yang dicintainya. Di sinilah si boru dengan rasa sedih dan menangis meratap mengucapkan selamat tinggal kepada orang tua, saudara, kaum famili serta teman-teman sekalian sekaligus  mohon do’a restu dan mohon maaf atas segala kesalahan.

Latar Belakang

Menurut Geertz dalam Irmayanti (2016:2)  menyatakan: Local wisdom is part of culture. Local wisdom is traditional culture element thet deeply rooted in human life and community that related with human resources, sources of culture, economic, security and laws. Local wisdom can be viewed as a tradition that related with arming activities, livestock build house etc. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kearifan lokal atau “local wisdom” merupakan bagian dari budaya masyarakat yang mempengaruhi setiap kegiatan dalam kehidupan masyarakat. Kearifan lokal yang melekat dalam kehidupan masyarakat tersebut seperti menjadi acuan atau aturan dalam masyarakat.

Kearifan lokal Angkola bisa menjadi basis moderasi Islam di era milenial karena teruji dan mampu bertahan dalam waktu  yang lama. Agus Wibowo dan Gunawan, 2015:19) menyatakan bahwa kearifan dapat digali dan dijadikan basis moderasi Islam di era globalisasi. Itu karena kearifan memiliki hal-hal berikut: (1). Mampu bertahan terhadap budaya luar, (2). Memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar, (3). Mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli, (4). Mempunyai kemampuan mengendalikan, dan (5). Mampu memberi arah pada perkembangan budaya. Dalam kearifan lokal Angkola terdapat nilai-nilai moderasi seperti kebersamaan (saluppat saindege), toleransi, keseimbangan,  musyawarah (marpokat) serta kedamaian yang senantiasa dijunjung tinggi. Usman Pelly (1994:31) Kebudayaan merupakan orientasi nilai, norma, aturan dan pedoman tingkah laku sehari-hari anggota masyarakat.

Moderasi Islam dalam bahasa Arab disebut dengan al-Wasathiyyah al-Islamiyyah. Al-Qardawi (2001: 13) menyebut beberapa kosakata yang serupa makna dengannya termasuk kata Tawazun, I’tidal,  Tasamuh dan Muwathonah. Sementara dalam bahasa Inggris sebagai Islamic Moderation. Moderasi Islam adalah sebuah pandangan atau sikap yang selalu berusaha mengambil posisi tengah dari dua sikap yang berseberangan dan berlebihan, sehingga salah satu dari kedua sikap yang dimaksud tidak mendominasi dalam pikiran dan sikap seseorang. Dengan kata lain seorang muslim moderat adalah muslim yang memberi setiap nilai atau aspek yang berseberangan bagian tertentu tidak lebih dari porsi yang semestinya. Karena manusia, siapa pun ia tidak mampu melepaskan dirinya dari pengaruh dan bias, baik pengaruh tradisi, pikiran, keluarga, zaman dan tempatnya, maka ia tidak mungkin merepresentasikan atau mempersembahkan moderasi penuh dalam dunia nyata.

Dengan karakter inilah ajaran Islam beserta perangkat-perangkatnya akan selalu bersifat fleksibel (murunah) serta tidak usang dimakan zaman. Sebagaimana ditegaskan oleh Al Qardhawy,  salah satu karakteristik Islam yang menjadi faktor keuniversalan, fleksibilitas dan kesesuaian ajarannya di setiap zaman dan tempat adalah konsep wasathiyyah-nya.           

Ini menunjukkan bahwa ummatan washathan (Q.S. Al-Baqoroh :143) ialah ummat Islam yang tidak berlebihan (ghuluw) dalam satu aspek tetapi kurang (taqshir) dalam aspek lainnya. Sikap tawazun dimaknai dengan keseimbangan antara dunia dan akhirat (material dan spritual). Keseimbangan antara  ketuhanan (Ilahiyah), kemanusiaan (Insaniyah) dan alam lingkungan (eko sistem). Atau dengan kata lain, Islam moderasi ialah terintegrasinya aspek-aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, budaya seta ilmu pengetahuan dan teknologi dengan aspek ketuhanan (teologis).

Tulisan ini akan menguraikan secara ringkas bagaimana pesan-pesan Islam Moderasi dalam Hata Simora-Mora  pada  acara pemberangkatan boru dalam pernikahan adat Angkola.

Hata Simora-Mora Dalam Acara Pernikahan

Pemberian Hata Simora-Mora  menurut kearifan lokal telah berakulturasi dengan Islam yang mengandung nilai-nilai moderasi (wasathiyah) yang penting dalam mencapai tujuan pernikahan. Memberikan Hata Simora-Mora adalah istilah pada acara memberikan makan kepada kedua mempelai (Mangalehen Managan/ Mangan Mambutong-butongi) pada acara pemberangkatan (pabuatkon). Orang tua mempelai wanita serta seluruh keluarga (suhut) yang terdiri dari unsur-unsur Dalihan Natolu (Kahanggi, Anak Boru Dan Mora) serta tokoh-tokoh masyarakat hadir dalam acara tersebut.

Dalam acara ini kedua mempelai pria dan wanita memakai pakaian adat lengkap dan duduk di juluan (tempat terhormat) di dalam ruang utama. Keduanya duduk  di atas “amak lappisan” atau tikar pengantin khusus acara adat. Sebelum Hata Simora-Mora disampaikan, kepada kedua mempelai dihidangkan makanan khusus disebut Hasaya atau pangupaHasaya atau makanan tersebut terdiri dari nasi, telur ayam, ayam jatan atau kambing jantan atau kerbau, ikan dan sayur mayur. Hewan yang dijadikan media (landasan) tersebut tergantung kepada besar kecilnya kemampuan orang tua. Hidangan makanan ditutup dengan daun pisang ujung (bulung ujung) yang menandakan berakhirnya masa remaja serta dimulainya hidup ber-rumah tangga.

Tujuan Acara Pemberian Hata Simora-Mora

Tujuan acara adat pabuat boru dan pemberian Hata Simora-Mora ialah:

  1. Untuk menunjukkan perasaan kasih sayang dan kegembiraan. (Patidahon Holong ni Ama-Ina). Sesuai dengan falsafah “Holong Dan Domu” (Kasih sayang dan keharmonisan) yang direalisasikan dalam bentuk struktur Dalihan Natolu.
  2. Untuk memberikan Nasihat kepada kedua mempelai. Dalam mencapai tujuan hidup “Hamoraon, Hagabeon dan Hasangapon”, Basyral Hamidi harahap (1987: 133) maka perlu diberikan Hata Simora-Mora. Demikian juga untuk mencapai tujuan hidup berumah tangga diperlukan bimbingan tentang Keluarga Sakinah, Mawaddah wa Rohmah.
  3. Penyerahan orang tua pihak wanita kepada menantunya dan seluruh keluarga (rombongan). Penyerahan ni tondi dohot badan (lahir dan bathin), penyerahan nasi bungkus adat (indahan tungkus pasae robu), menandakan bahwa pelaksanaan adat boru marbagas sudah selesai dan sudah boleh saling mengunjungi dalam acara siriaon (kegembiraan) sekaligus dengan penyerahan barang boru marbagas (perabotan rumah tangga) seperti pakaian, tikar, lemari, periuk dan sebagainya.

Pesan-pesan Hata Simora-Mora disampaikan oleh:

  1. Suhut atau Ahli bait terdiri dari kedua orang tua mempelai wanita yang diikuti oleh kahanggi, anak boru dan mora.[1] Pandapotan Nasution (2005: 82)

Ayah dan ibu pengantin wanita memberikan Hata Simora-Mora dan pesan-pesan yang disampaikan hampir sama. Si ibu biasanya berkata sambil menangis karena rasa haru yang sangat dalam. Setelah puji syukur kepada Allah serta Shalawat kepada nabi, si ibu menyampaikan penghormatan kepada tokoh-tokoh adat dan hadirin. Parsadaan Marga Harahap (1993:295) Ayah dan ibu mengatakan : “Dison tarpayak di jolo munu pira manuk na di hobolan, songoni salin-salinmu tu usaho. Songoni pinggan panganan dohot lage.”Si ibu tidak bisa berbicara banyak karena rasa haru dan menangis. Kemudian dilanjutkan oleh inang uda, inang tua dan ompung mempelai wanita. Sedangkan ayah  hampir sama dengan pesan istrinya, hanya lebih panjang dan ditambah dengan beberapa “patik” tentang  mempererat kekeluargaan,  yaitu : Ingot ko inang hata ni adat “Inte di siriaon, tangi di siluluton.” (Dalam acara kegembiraan kita hadir apabila ada undangan. Sedangkan dalam hal kemalangan, kalau sudah tahu kita harus segera datang dan membantu ahli musibah).

Pihak kahanggi baik laki-laki maupun wanita menyampaikan pesan lisan dengan mengatakan: “Onma inang dohot bere,. Dison adong salin-salin  ansoadong abit sumbayang munu. Angkon sumbayang do iba anso dapot ketenangan dohot kebahagiaan dihangoluan.Malo-maloho maho inang mambuat roha ni namborumu da inang.(Ini adalah makanan sebagi upah jasmani dan rohani. Beginilah dulu yang dapat kami berikan, mudah-mudahan sehat-sehat kalian nak.Disini ada juga kain untuk dibawa sholat. Dengan sholatlah akan diperoleh ketenangan dan kebahagiaan hidup. Pandai-pandailah memasukkan diri kepada mertuamu).

  1. Anak Boru. Kelompok ini terdiri dari inang  boru dan amang boru dari pengantin wanita. Setelah salam dan  salawat, penghormatan kepada tokoh-tokh adat.

“Mudah-mudahan selamat pernkahan munu menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah. Malo-malo ho maen mamasukkon diri di bagas ni koum taan. Unang bonggal di moranta dison tilako daohot keburukan mu da maen. Tubuan lak-lak kamu nian tubuan sikkoru. Tubuan anak kamu tubuan boru. Laklak digincat pittu, sikkoru digolom-golom, maranak kamu sappulu pitu, marboru sappulu onom. Muda sisuan bulu do natubu, baen mai jagar-jagar tu mora. Muda sisuan pandan do natubu bagian nami mai san anak boru.”. Onpe, salumpat saindege ma hamu, sahata saoloaan, Songon siala sampagul rap tuginjang rap tu toru, muda malamun saulak lalu, muda madabu rap margulu. Baen dison dope mora-ni mora songoni Hatobangon dohot Raja, halaima na pasahat on tu tondi dohot badan munu, botima.” (Selamat dan menjadi keluarga sakinah, mawaddah wa rohmah, pandai-pandai memasukkan diri kepada keluarga suamimu di sana. Jangan sampai terdengar berita yang kurang enak didengar karena keburukanmu di sana. Semoga cepat mendapat keturunan yang banyak. Laki-laki 17 orang dan perempuan 16 orang. Kalau lahir nantinya anak laki-laki akan kita jodohkan dengan boru tulangnya. Kalau anak perempuan yang lahir, nanti akan menjadi jodoh dari anak namborunya. Oleh karena itu kalian harus seia sekata, seperti siala sampagul, kompak dan bersatu, baikdalam mendapat kebahagiaan maupun dalam kesusahan. Demikianlah pesan saya semoga ditambah mora-ni mora, hatobangon dan raja-raja.) Diakhiri dengan salam.

  1. Mora, yaitu Tulang dan Inang Tulang pengantin wanita, mengatakan: “.Ingotho bere mata guru roha sisean. Diama nadenggan dohot natama, ima siihutkonon. Muda dung lalu ho di huta sitopotanmu maloho padomu tahi ni kahanggimu. Maroban jait domu-domu doho bere unang maroban gunting pambola-bola.”          (Ingatlah bere: “Mata guru roha sisean” Perhatikan apa apa yang baik, itulah diikuti”. Setelah sampai di rumah tujuan nantinya, pandai-pandailah menyatukan kahanggimu. Jadilah seperti jahit yang mempersatukan keluarga, bukan pembawa gunting yang memecah belah keluarga). “Onma surat tumbaga holing, basaon ni na umposo, parbuaton dung matobang. Mararti doon sude sesuai adat dohot pangalaho. Anso unang hamu lupa totop jongjong di paraturan. Sude hami koum sisolkotmu on nasapangidoan, anso hamu na langka matobang, di lehen Tuhanta Nauli Basai hahorasan dohot umur naborkat sian on tu ginjang niari.”(Ini adalah surat Tumbaga Holing, bacaan generasi muda yang diamalkan setelah menikah. Semua ini ada maknanya menurut adat dan perbuatan, supaya tetap dalam kebenaran. Semua kami yang hadir sama berdo’a semoga kalian berdua diberikan Tuhan kesehatan dan umur yang berkah sampai akhir hayat).

Hatobangon (Kepala Suku). Hatobangon menyampaikan pesan: “Baen hamu nagiot langka matobang, patobangma roha dohot pangalaho, unamngbe dioban parroha ni habujingan. Taringot di namarkoum, tarlobi-lobi Dalihan Natolu, ingotma hamu hata ni poda:”Manat Markahanggi, Elek Maranak Boru, Somba Marmora”. Muda dialo Kahanggi, lumuton tangga. Muda dialo anak boru inda adong suruon. Muda di alo mora, lambang eme.” Poda ni opputta: “Pantun Hangoluan Teas Hamatean”. Jop ni roha Pardomuan, Goyak ni roha Parsarakan.” Antong malo-malo ma hamu anso dapot hagabeon, hasangapon dohot hamoraon.” Haranii “Salak-lak sasikkoru sasanggar saria-ria, saanak hamu saboru, suang songon namarsada ina.”(Kalian berdua yang akan memasuki hidup ber-rumah tangga, dewasakanlah diri dalam berfikir dan bertindak, jangan lagi bertingkah seperti masa remaja. Dalam hal hidup berkeluarga terutama kepada Dalihan Natolu, ingatlah: “Berhati-hati terhadap kahanggi, Pandai-pandai mengambil hati Anak boru, dan pandai-pandaipula menghormati Mora”. Kalau berselisih dengan kahanggi, tangga rumah kita berlumut (rumah akan sepi, tidak dikunjungi kahanggi). Kalau selisih faham dengan Anak Boru, tidak ada yang membantu kita. Kalau tidak baikan dengan mora, padi yang kita tanam tidak panen (rezeki kita menjauh). Oleh karena itu kalian harus saling membantu dalam mengurus anak dan boru para keluarga dan sanak famili)”.

[1] Suhut dan Kahanggi ialah Kelompok keluarga dari satu garis keturunan dari pihak ayah, seperti saudara ayah dan anak-anaknya, atau saudara kakek dan anak-cucunya, sehingga kelompok kahanggi  merupakan  kelompok yang terdiri dari satu keturunan ( marga). Anak boru ialah kelompok keluarga yang menerima perempuan yang menjadi istrinya, ibu atau menantunya. Kelompok penerima istri serta seluruh kahangginya disebut Anak Boru. Mora ialah kelompok keluarga yang memberikan perempuan serta seluruh kahangginya.

Pesan lisan dari Hatobangon laki-laki sudah mulai menafsirkan pesan-pesan simbolik dari benda-benda makanan yang menjadi media pangupa: “Dison tarpayak dijolo munu, sira na ancim pandaian, anso mura pancamotan. Songoni horbo mangasa gogo, namanjappal tu balian mangalngei tu bagasan. Anso gogo hamu marusaho, bonggal hamu di hadamean jala totop hamu dibagasan hatorkisan. Tarpayak di ginjang bulung ujung na tolu, sae marujung ma haposoan muda dung masuk langka matobang. Adong ihan dohot sayur mudah-mudahan panjang umur sayur matua bulung. Antong, sapangido mahita tu Tuhan anso salamat dohot dame. Tarpayak do dijolo munu “Hambeng simaradangulu, namanjujung-jujung durame. Sai lolot hamu mangolu jala maroban hadadame.”Ingot hamu di pitua ni natobang taringot  adat namanglu: “di namodom marsingotan, di na ngot marsipaingotan”. Sarupo doon dohot hata ni agama: “Marsipaingotan hita di habonaran dohot marsipaingotan di bagasan hasobaran”(Q.S. Al-Ashr). (Di hadapan kalian ada garam penyedap rasa, semoga mudah mendapat rezeki, kerbau memiliki kekuatan mencari makan dan melindungi anaknya, supaya kalian berdua kuat bekerja, sehat dan damai. Makanan di atas ujung daun pisang untuk dapat mengakhiri masa remaja. Ikan dan sayur melambangkan keharmonisan dan umur yang panjang,   do’a kita kepada Tuhan agar  diberi keselamatan dan kedamaian. Ingatlah adat kehidupan “Orang yang tidur dibangunkan, orang yang bangun diingatkan. Sesuai dengan ayat al-Qur’an : Saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (Q.S. Al-Ashr).

  1. Unsur Pemerintahan dan Alim Ulama. Kesempatan Kepala Desa memberikan Hata Simora-Mora dimanfaatkan untuk memberikan nasihat dalam hal yang berkaitan dengan kependudukan,seperti KTP dan Kartu Keluarga yang harus dipersiapkan oleh kedua mempelai. Pentingnya mematuhi peraturan pemerintahan dan adat-istiadat dalam kehidupan keluargadan bermasyarakat.

Sedangkan Alim Ulama lebih banyak memberi nasihat perkawinan berdasarkan agama dari pada dari nilai-nilai luhur kearifan lokal. Alim Ulama menjelaskan tentang jodoh antara kedua mempelai  adalah merupakan ketentuan Tuhan. “Asam di gunng ikan di laut bertemu dalam kuali”.  Pernikahan adalah sunnah rasul bagi ummat Islam. Kemudian tentang tujuan berumah-tangga, fungsi-fungsi keluarga, hak dan kewajiban suami-istri serta tentang keluarga sakinah, mawadah wa rohmah  Q.S. Ar-Rum ayat 21. Di akhir nasihat Alim Ulama berpantun: “Muda kehe tu Batang Toru ingkon dipalalu ma tu Sibolga. Sai lolot hamu mangolu, Lalu muse nian tu Moka”.

  1. Orang Kaya dan Harajaon. Harajaon terdiri dari Raja Luwat, Raja Pangondian dan terakhir Raja Panusunan Bulung. Pesan-pesan yang disampaikan antara lain ialah: “Hamu najuguk dijuluan, madung bahat hata ni koum mandok Hata Simora-Mora, marsinta tu Tuhanta Allah SWT. mangido sangap dohot tua tu hamu dua simanjujung na langka matobang. Ia anggo hata sian hami Harajaon, ulang lupa hamu manangihon sipaingot ni natobang, namanjadi sitiopan dihangoluan. Songoni muse ulang lupa hamu majalankon ibadat tu Tuhan, mar amal sholih mangihutkon ajaran ni nabi. Tarpayak dijolo munu indahan sibonang manita, sangape indahan si ribu-ribu, pangidoan tu Tuhanta anso hombang ratus hombang ribu, ihut sayur dohot ihan na pitu sunge, pitu sundut suada mara, pitu sundut tong magabe. “Horbo siampang bahal, namanjappal durame, tarbege hamu nian jala tarbonggal, sai totop dibagasan dame”. “Sahat-sahat ni solu sai sahat ma tu bottean, sai lolot hamu mangolu sai sahatma tu hagabean.” Bulu so habuluan, langge so halanggean, tano ni damang hasorangan, somarimbar tano hamatean.” Tubuan anak hamu tubuan boru, namalo manyambut roha atau anak nasholeh, sai mardoter, mardotur asa mardotor. Sai gabe master, insinyur sanga doktor namarguna tu bangso dohot negara, marguna tu koum sisolkot dohot agama, sai maranak najitu-jitu marboru napohom-pohom hamu nian.” “Horas Tondi Madingin Pir tondi Matogu Sayur matua Bulung.” Onpe horaskon bo Orang kaya…. Horas 3 x (Kepada kalian berdua yang dihormati, sudah banyak yang memberikan nasihat dan berdoa kepada Tuhan Allah SWT. meminta kebahagiaan dan keberkatan dalam perkawinan kalian berdua. Pesan kami ialah :”Jangan lupa mendengar nasihat orang tua yang menjadi pedoman dalam kehidupan ini, Demikian juga jangan lupa menjalankan ibadah dan mengikuti sunnah Rasul-Nya. Di hadapan kalian dihidangkan nasi putih si ribu-ribu, dengan harapan diterimanya do’a mendapat rezeki yang banyak (beribu-ribu). Ada sayur dan ikan melambangkan kedamaian dan umur panjang. Ada kerbau yang kuat dan penuh damai semoga kalian berdua kuat bekerja dan penuh kedamaian, panjang umur dan berbahagia sepanjang hayat dikandung badan. Semoga dikaruniai anak yang shaleh, ada yang jadi master, insinyur dan doktor yang berguna bagi bangsa dan berguna bagi keluarga dan agama). Horas…..Horas…. Horas..diakhiri dengan salam.

Dengan berakhirnya Hata Simora-Mora dari Raja Panusunan Bulung,  maka kedua mempelai disilakan mangalusi (menjawab) nasihat-nasihat yang disampaikan. Inti jawannya ialah “semoga kami dapat menerima semua nasihat-nasihat yang diberikan kepada kami. Kemudian kedua mempelai makan dan dilanjutkan dengan bersalaman. Pengantin wanita menyalami seluruh hadirin sambil menangis (mengandung), mulai dari ibu, ayah saudara, kaum kerabat serta teman-teman sekalian. Kemudian penyerahan ayah kepada menantu (bere) di pintu rumah lalu pengantin wanita pergi bersama suaminya sambil menangis. Dan di beberapa daerah, kepergian pengantin diikuti sepanjang beberapa meter dari rumah sambil melepas kepergiannya.

 

Pesan-Pesan Islam Moderasi

            Dalam pemberian Hata Simora-Mora terdapat pesan lisan  dan pesan simbolik. Makanan dan media yang digunakan merupakan simbol-simbol yang mengandung arti dan makna tertentu sebagai pesan-pesan yang berguna bagi kedua mempelai khususnya dan kepada seluruh hadirin pada umumnya. Pesan tersebut terdiri pesan-pesan agama (teologis), pesan kemanusiaan (humanis) dan pesan simbolik dari media adat yang digunakan.

  1. Pesan-Pesan Ke -Tuhanan (Teologis)
    1. Ucapan salam dan puji syukur serta salawat dari setiap orang yang makkobar menunjukkan prinsif ketuahan dalam dalam setiap acara.
    2. Ketentuan jodoh dari Tuhan yang wajib diterima dengan keikhlasan.
    3. Prinsif pernikahan adalah melaksanakan sunnah Rasul.
    4. Do’a dan harapan setiap pemberi pesan hanya kepada Allah SWT. semoga mendapat kebahagiaan, panjang umur, mudah rezeki dan diberi keturunan anak yang shaleh dan shalehah serta berpendidikan.
    5. Pesan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah SWT.
    6. Pemberian kain untuk di bawa beribadat kepada Allah SWT.
    7. Tujuan hidup berkeluarga ialah sakinah, mawaddah wa rohmah.
  2. Pesan-Pesan Kemanusiaan (Humanis)
  3. Pesan-pesan kedamaian dan keharmonisan antara suami- istri dalam keluarga.
  4. Pesan-pesan keakraban dan persaudaran dalam kekerabatan “Dalihan Natolu
  5. Pesan-pesan silaturrahmi dalam siriaon dan siluluton dengan kaum famili.
  6. Pesan tentang pergaulan hidup bertetangga, bermasyarakat dan bernegara.
  7. Pesan tentang Sa-anak-saboru artinya saling bahu-membahu dalam membantu dan mengurusi pernikahan anak kaum kerabat dan sebagainya.
  8. Pesan tentang bekerja untuk kehidupan yang lebih baik.
  9. Pesan supaya belajar dan mendengar nasihat.
  10. Mengambil pelajaran dari acara adat pernikahan yang telah dilaksanakan.
  11. Memperhatikan bagaimana jerih payah orang yang membantu kesuksesan acara pernikahan yang diselenggarakan.
  12. Mendengarkan dan melaksanakan Hata Simora-Mora yang telah disampaikan.
  13. Belajar dengan mengamati apa yang baik untuk dilaksanakan dan apa yang buruk supaya ditinggalkan (Mata guru roha sisean).
  14. Membaca makna yang terkandung dalam media upah-upah seperti makna simbolik dari telur ayam, kambing, kerbau, ikan, sayur dan sebagainya.
  15. Pesan supaya terus belajar agama, belajar adat-istiadat dan sebagainya.
  16. Pesan-Pesan Simbolik

Dalam pesan Hata Simora-Mora terdapat pesan-pesan simbolik yang estetis dari media yang media benda-benda yang digunakan. Pandapotan Nasution (2005:329) menjelaskan bahwa media tersebut  mengandung arti khusus yang menjadi pelajaran sekaligus menjadi do’a kepada Allah SWT. Media tersebut berasal dari tumbuhan dan binatang ternak sebagai simbol-simbol adat. Diantaranya ialah :

  1. Telur ayam (pira manuk na dihobolan). Makna simbolik yang terkandung ialah makanan bergizi untuk kesehatan tondi dohot badan (keuruhan jasmani dan rohani). Putih telur melambangkan kesucian dan kuningnya melambangkan emas berharga.
  2. Kambing atau kerbau adalah hewan ternak yang melambangkan kekuatan, kedamaian dan tanggung jawab kepada anak dan keluarga.
  3. Ikan dari tujuh sungai adalah makanan sehat melambangkan keuletan dan kekompakan. Berasal dari tujuh sungai menjadi lambang keselamatan  tujuh keturunan. Udang menjadi simbol tentang sifat maju-mundurnya kehiduan.
  4. Sayur mayur juga adalah makanan sehat yang melambangkan kelembutan dan umur panjang (Sayur matua bulung).
  5. Pada nasi bunglus yang akan di bawa ke rumah suami (indahan tungkus pasae robu) terdapat makna simbolis, menandakan pernikahan antara kedua mempelai telah dilakasanakan sesuai adat.
  6. Pada nasi bungkus tersebut terdapat daun kayu Torop sebagai simbol kekuatan dan keutuhan rumah tangga. Pohon sanggar, riya-riya dan sebagainya , melambangkan hamoraon (memiliki kekayaan materi), hagabeon (banyak kahangi, anak boru dan mora), melambangkan hasangapon (memiliki kehormatan) karena mengkuti kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai luhur yang bermanfaat bagi kehidupan keluarga dan masyarakat.

 

Penutup

Hata Smora-Mora adalah salah satu bentuk kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai luhur bagi kehidupan mayoritas masyarakat muslim di Angkola. Pesan-pesan yang terdapat di dalamnya secara integral mengandung nilai-nilai Islam moderasi yakni keimanan, kedamaian, toleransi, persatuan, persaudaraan, keseimbangan, keteladanan dan  semangat  nasionalisme. Dari sisi lain, Hata Simora-Mora merupakan salah satu bentuk wasathiy antara kehidupan material dan spritual  meliputi aspek teologis, humanis dan ekosistem yang bermanfaat bagi  generasi muda.

 

Daftar Pustaka

Ali Muhammad Muhammad ash- Shalabi, al Washatiyyah fî al Qur’ân, (Kairo: Maktabat at Tabi’in, 1422/2001), cet. ke-1

Basyral Hamidy Harahap,  Orientasi Nilai-Nilai Batak, Jakarta 1987.

Dania Irmayati,  Peran Kearifan Lokal Dalam Pembentukan Karakter Pada Anak Usia Sekolah Dasar Di Era Globalisasi, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta, 2016

Pandapotan Nasution, Adat Budaya Mandailing, Penerbit FORKALA Provinsi Sumatera Utara, 2005

Parsadaan Marga Harahap, Horja, Grafiri Bandung, 2005

Ch. Sutan Tinggi Barani Perkasa Alam, Surat Tumbaga Holing: adat Batak Angkola, Sipirok, Padangbolak, Barumun, Mandailing Natal, Natal : buku pelajaran adat Tapanuli Selatan dipersembahkan untuk masyarakat, mahasiswa, dan pelajar : untuk lintas jenjang pendidikan, Penerbit Mitra, 2012

Usman Pelly dan Asih Menanti, Teori-Teori Sosial Budaya, Dirjen Dikti Depdikbud, Jakarta, 1994.

Yusuf al Qaradhawi, al Khashâ`ish al Âmmah li al Islâm, Bairut: Mu’assasah ar Risalah, tahun 2001

Tags:

Related Posts

1 Comment

  1. Indri

    Ketemu dari google, setelah dibaca menarik sekali artikelnya, bisa jadi bahan referensi, Keren Sob.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Butuh Bantuan?