0

Raih Nominasi Terbaik, Ini Gagasan Dosen IAIN Padangsidimpuan

 

 

Rabu (30/12/2020). Usung topik tentang pemanfaatan film animasi dalam penanaman paham moderasi beragama bagi generasi digital, Dosen IAIN Padangsidimpuan, Icol Dianto berhasil meraih predikat terbaik pada ajang call for paper, Rabu, 30 Desember 2020.

Dosen pada Program Studi (Prodi) Pengembangan Masyarakat Islam di Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi IAIN Padangsidimpuan itu berhasil meraih predikat terbaik dalam kompetisi call for paper yang diselenggarakan oleh pengelola Jurnal Nalar: Jurnal Peradaban dan Pemikiran Islam Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Palangkaraya. Keputusan itu dipublikasikan pada situs http://e-journal.iain-palangkaraya.ac.id/index.php/nalar.

Menurutnya, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi berdampak signifikan pada metode dakwah. Alih-alih di era digital ini, penanaman paham moderasi beragama melalui film animasi sangat terbuka lebar. “Saya mengkaji tantangan dan peluang pemanfaatan film animasi sebagai media untuk menanamkan paham moderasi beragama yang sedang gencar dikampanyekan oleh Pemerintah Indonesia akhir-akhir ini. Artikel lengkapnya Insya Allah akan dipublish di Jurnal Nalar IAIN Palangkaraya,” ujar Icol Dianto, pria kelahiran Pesisir Selatan, Sumatera Barat itu.

Pilihannya terhadap film animasi disebabkan bahwa animasi sangat diminati oleh khalayak (masyarakat) di semua level usia, baik tua, muda, dan anak-anak. Menurutnya, Pemerintah Indonesia mesti memanfaatkan teknologi dalam menanamkan suatu paham ke masyarakat. Dalam ilmu dakwah, salah satu strategi dakwah itu adalah memanfaatkan teknologi yang banyak diminati oleh mad’u (masyarakat).

Gagasan yang baru dalam artikel tersebut, idenya untuk menjadikan tokoh-tokoh Nasional sebagai pemeran karakter/tokoh kartun. Misal film Sang Pencerah dan Sang Kiai yang menampilkan penggalan sejarah perjuangan dan pemikiran tokoh Muslim Indonesia KH. Hasyim ‘Asyari dan KH. Ahmad Dahlan.

Ketika film itu ditayang di bioskop-bioskop, penontonnya sangat banyak. Namun yang menjadi kesalahan adalah karena karakter tokoh Muslim itu dimainkan oleh aktor/aktris tentu saja mempengaruhi persepsi penonton. Apalagi film Sang Pencerah yang memainkan peran utama diketahui publik telah konversi agama. Selain itu, kisah kehidupan artis yang aneka ragam tidak jarang juga kita dengar artis terlibat tindak pidana dan tindakan patologis lainnya.

“Alangkah menarik jika paham moderasi beragama itu ditampilkan langsung oleh tokoh aslinya. Selama ini banyak akademisi meneliti pemikiran Nurcholis Madjid tentang keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan. Akan lebih menarik jika pemikirannya itu hadir dalam bentuk film animasi. Nanti wajah pemeran bisa menyerupai wajah yang memiliki gagasan. Para animator dapat membuat tokoh kartun yang berwajah seperti Cak Nur, dan tokoh-tokoh lain. Seperti kartun Sopo dan Jarwo, ada Bang Haji Dedy Mizwar, itu keren sekali,” ungkapnya.

Dalam artikel itu, selain memberikan nilai kebaharuan, menurut mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta itu, apabila Pemerintah serius untuk mengembangkan gagasan tersebut, maka secara tidak langsung Pemerintah berkontribusi besar untuk membangun dan memajukan industri animasi di negeri ini.

Dikutip dari laman website http://fuad.iain-palangkaraya.ac.id bahwa lomba karya ilmiah ini berhasil menarik minat tidak hanya dari kalangan Muslim tetapi juga dari kawan-kawan peneliti Non Muslim. “Kami sengaja memilih tema yang cukup menarik, karena isu moderasi beragama sekarang ini sangat trend sehingga diharapkan bisa diikuti semua kalangan tidak hanya dari Kalimantan Tengah tetapi bisa diikuti secara nasional”, ujar Mualimin, Editor in Chief Jurnal Nalar.

Related Posts

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Butuh Bantuan?