Tantangan Perguruan Tinggi Islam Dalam Mencetak Sumber Daya Manusia Islami Pada Industri Halal

Mengelola sumber daya manusia bukanlah tugas yang mudah karena situasi itu lebih komplek dari pada mengelola mesin atau modal, manusia memiliki pikiran perasaan, dan kebutuhan yang harus diarahkan dan dimotivasi dengan kuat agar dapat optimal untuk bekerja dan berprestasi.


Dr. Rukiah, SE. M.Si

A. PENDAHULUAN
Sumber Daya Manusia sebagai asset paling penting dari setiap organisasi (Beer 1984, Amstrong 1995) studi menunjukkan bahwa mengelola sumber daya manusia secara efektif mengarahkan pada sikap dan perilaku positif di tempat kerja. Sebaliknya mengarahkan sumber manusia secara tidak efektif akan menghasilkan perilaku negatif dan cenderung menimbulkan kepuasaan kerja yang rendah, komitment yang tidak kuat, dan kinerja yang buruk.
Mengelola sumber daya manusia bukanlah tugas yang mudah karena situasi itu lebih komplek dari pada mengelola mesin atau modal, manusia memiliki pikiran perasaan, dan kebutuhan yang harus diarahkan dan dimotivasi dengan kuat agar dapat optimal untuk bekerja dan berprestasi. Aspek lain yang tidak kalah pentingnya dalam pengelolaan sumber daya manusia adalah menanamkan nilai-nilai moral dan spritualistas agar dapat menyadari bahwa tujuan bekerja bukan hanya untuk memperoleh penghasilan dan materi, tetapi juga bekerja juga bagian dari ibadah yang harus dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT kelak.
Akhir-kahir ini kajian tentang sumber daya berbasis syariah semakin intens dibicarakan mengingat semakin berkembangnya industri dibidang ekonomi syariah, yaitu halal industri yang terdiri dari iindustri keuangan, pariwisata, kuliner, fashion dll. Industri ini tumbuh 40 % setiap tahun (Statistik Perbankan Syariah 2017) dan perkembangan ini akan menyedot tenaga kerja yang begitu besar, akan tetapi ironisnya, perkembangan yang pesat ini tidak dibarengi dengan kualitas SDM yang memadai dibidang syariah. Dari hasil riset Universitas Indonesia tahun 2013 tenaga kerja yang bekerja di Perbankan Syariah baik di Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) 90 % berasal dari latar belakang pendidikan umum, hanya 10 % yang berasal dari pendidikan ekonomi Islam, tentu hal ini menjadi tantangan dan permasalahan tersendiri bagi penggiat dan praktisi dibidang ekonomi syariah, hinggan 20 tahun kedepan dibutuhkan 184.000 orang doktor (S3) Ekonomi syariah, 25.200 orang Master (S2) ekonomi syariah, 50.400 orang sarjana (S1) ekonomi syariah, 100.800 orang Diploma (D3) ekonomi syariah (Statistik Perbankan Syariah 2017). Menjamurnya perguruan tinggi yang membuka Program Studi Ekonomi Islam tidak menjamin tersedianya SDM yang memiliki kualifikasi dan kualitas yang memang dibutuhkan pasar industri dibidang ekonomi syariah (Hadi Riza Idris, Peneliti IAEI) sehingga timbul berbagai permasalahan dan fenomena dilapangan seperti
a. Lemahnya tauhid para pengelola lembaga syariah
Praktisi yang bekerja di lembaga dan industri sering tidak menyadari bahwa pekerjaan mereka adalah membawa nama dan label “Syariah” yang implikasinya sangat luar biasa tidak hanya bagi dirinya akan tetapi bagi agama. Kondisi kurang nya SDm syariah yang berlatar belakang pendidikan dan memiliki komitment yang tinggi terhadap syariah menjadikan pengelolaan lembaga dan industri syariah tidak berbeda jauh dengan pengelolaan industris sejenis di lembaga konvensional.
b. Inkonsistensi terhadap FATWA DSN MUI
Masih adanya praktek atau bisnis syariah yang melanggar Fatwa DSN MUI, baik dari segi operasional maupun ketaaatan terhadap akad ( Sariah Compliences)

About the author

Pengelola Sub Bagian Humas dan Informasi

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pengumuman Penting

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi CPNS Kemenag 2021
4 August 2021
Perpanjangan Pendaftaran Mahasiswa Baru Pascasarjana
12 July 2021
Pengumuman Tentang Pelaksanaan Seleksi CPNS di IAIN Padangsidimpuan
9 July 2021
Dilelang Berbagai Jenis Barang Inventaris Kantor
28 June 2021
Dilelang 1 Unit Micro Bus Mitsubisi Tahun 2003
24 June 2021