0634-22080

Telepon Kantor

TRADISI MARLOPO KOPI DI TABAGSEL

TRADISI MARLOPO KOPI DI TABAGSEL
 \  Artikel  \  TRADISI MARLOPO KOPI DI TABAGSEL

TRADISI MARLOPO KOPI DI TABAGSEL

Dr. Muhammad Roihan Daulay, M.A

Dosen IAIN Padangsidimpuan

roihan

Catatan Penulis:

Masyarakat Tabagsel sampai saat ini masih menjalankan upacara adat untuk berbagai keperluan. Upacara adat adalah suatu hal yang penting bagi masyarakat Angkola. Pada masyarakat Angkola sering terdengar ungkapan-ungkapan yang mengatakan bahwa hombar do adat rap ibadat (berdampingannya antara adat dan ibadah). Dimana kedua ungkapan tersebut merupakan gambaran kedekatan adat dengan sebagian besar masyarakat tabagsel.

Tradisi merupakan suatu proses sosial yang menjadi kebiasaan yang diturunkan dari generasi ke generasi lainnya. Tradisi menjadi nilai dan moral di dalam masyarakat, karena tradisi sendiri merupakan aturan dimana aturan tersebut tentang hal apa yang benar dan hal apa yang yang salah menurut warga masyarakat. Konsep tradisi tersebut meliputi pandangan dunia (world view) yang menyangkut kepercayaan mengenai masalah kehidupan dan kematian serta peristiwa alam dan makhluknya atau konsep tradisi itu berkaitan dengan sistem kepercayaan, nilai-nilai, dan pola serta cara berfikir masyarakat.

Marlopo kopi  merupakan tradisi lokal yg sampai saat ini masih tetap berjalan dengan lancar. Bahkan, sekalipun ada larangan untuk berkumpul di lopo kopi pada situasi saat ini, namun ada juga masyarkat masih terus melaksanakan tradisi marlopo kopi sebagai bentuk tradisi lokal yg sampai saat ini masih bertahan. Jika diperhatikan dalam persfektif hubungan sosial, maka marlopo kopi menjadi sebuah indikator penting dianggapnya seseorang bergaul atau tidaknya. Terlepas penilaian baik atau buruk, tradisi ini menjadi suatu hal yg sudah dianggap sebuah kebenaran.

Berikut ini, penulis akan mencoba mengajak kita untuk menelusuri tradisi marlopo kopi di Tabagsel.

Pengertian marlopo kopi

Sebelum menjelaskan apa pengertian marlopo kopi, berikut ini akan dijelaskan tentang hal yang menarik dari tradisi nyethe di daerah Tulungagung yang sering mendapatkan asumsi negatif dari masyarakat yang menganggap bahwa nyethe merupakan aktivitas yang membuang-buang waktu (wasting time). Kegiatan nyethe ini tidak hanya juga untuk mengisi waktu luang, tetapi juga digunakan sebagai wadah pemersatu bagi para pencinta kopi. Kegiatan yang dilakukan pada waktu nyethe meliputi merokok, minum kopi, ngobrol, duduk sambil diskusi.

Marlopo kopi adalah tempat yang mudah dijumpai hampir di seluruh wilayah belahan Tabagsel seperti di Kabupaten Palas, Paluta, Kota Padangsidimpuan, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan. Untuk kota Padangsidimpuan misalnya tradisi lopo kopi masih menjadi tempat yang sangat diminati oleh dunia kampus seperti lopo kopi mas Sutanto yg berada di depan kampus IAIN Padangsidimpuan. Begitu juga dengan wilayah lainnya seperti Tapsel yang sampai saat ini masih menjadikan lopo kopi sebagai tempat markombur (berdiskusi) dengan multi thema. Hanya saja kegiatan diskusi itu tidak ilmiah sehingga hasilnya ada yang tepat sasaran dan ada juga yang melenceng sehingga yang diperoleh hanya komunikasi sebagai buang buang suntuk sesaat.  Istilah marlopo kopi dapat dipahami menjadi dua hal, yakni sifatnya tradisional dan moderen. Lopo kopi tradisional dapat dikategorikan sebagai lopo yang dapat dijangkau secara ekonomi dan orangnya hampir orang yang sudah tua. Sedangkan moderen diminati oleh anak anak muda sehingga harganya pun sangat tinggi. Kebiasaan minum kopi dan menghabiskan waktu di warung kopi sambil menikmati berbagai fasilitas yang tersedia seakan telah menjadi gaya hidup bagi berbagai kalangan dari berbagai profesi dan generasi di wilayah Tabagsel. Dewasa ini, marlopo kopi (warung kopi) tidak hanya menyediakan minuman kopi dengan cita rasa yang nikmat, namun juga berbagai fasilitas seperti free Wi-Fi, TV satelit, layar lebar untuk menonton pertandingan sepak bola dunia, ruang pertemuan, live music dan lain sebagainya.[1]

Marlopo kopi atau biasa disebut Warung kopi ini tidak seperti cafe kopi yang menjamur sekarang di kota-kota besar. Tidak seperti cafe yang menjadikan spot-spot foto yang ‘instagramable’ sebagai daya tarik dalam menarik konsumennya.

[1] Pak Min, pelanggan kopi pangkon, 21 November 2015.

Kesederhanaan inilah yang membuat banyak orang berkumpul membahas apapun yang menarik untuk dibicarakan. Hanya ada meja dan bangku panjang untuk konsumen bercengkerama, bahkan sebagai tambahan pemilik kedai kopi atau parlopo kopi juga menyediakan cok raun sebagai tempat mencarger handphone mereka yg habis batere. Sejenak kita bisa melupakan kesibukan yang menyita pikiran dan bisa tertawa ataupun membicarakan hal-hal ringan bersama kawan dengan menghirup aroma dan rasa kopi ijo waris yang legendaris. Warung kopi muncul sebagai wahana sejarah baru sebagai gaya yang khas, tetapi juga memiliki makna yang kini fungsinya semakin mendapatkan legimitasi di masyarakat. Selain harga terjangkau, warung kopi juga menjadi hiburan yang tak tergantikan dari kehidupan harian masyarakat. Warung kopi telah menjadi tanda sebuah identitas baru, melalui bertemunya beragam masyarakat, lembaga, status sosial, dan bahkan identitas yang multikultur sekalipun. Dalam pandangan yang lebih makro, warung kopi juga bagian dari subkultur yang mempertemukan berbagai budaya dan identitas masyarakat. Warung kopi, salah satu bentuk public sphere, di mana ruang tersebut menjadi ruang diskusi yang terbuka bagi semua kalangan. Aktivitas ngopi dimaknai tidak sekedar menikmati segelas kopi pahit. Di situlah mereka menghabiskan waktu untuk menikmati secangkir kopi sambil melepaskan beban pikiran dan melarutkan titik kejenuhan. Warung kopi meskipun dengan gaya yang masih sangat sederhana sebenarnya merupakan fenomena klasik di dalam masyarakat Indonesia, Di warung kopi siapapun bisa membaur satu sama lain. Tidak jarang pemilik warung bisa menjadi saluran penyampai informasi, menjadi penghubung dalam transaksi ekonomi, dari pelanggannya. Selain alasan ekonomis, alasan kebutuhan akan ruang-ruang yang dapat di nikmati bersama menjadi hal yang penting dari keberadaan warung-warung kopi. Selain alasan ekonomis, alasan kebutuhan akan ruang-ruang yang dapat di nikmati bersama menjadi hal yang penting dari keberadaan warung-warung kopi.

Fenomena Marlopo Kopi Di zaman Sekarang

Fenomena minum kopi dan menghabiskan waktu di warung kopi ini juga telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.[1] Berkembangnya warung-warung kopi dengan merk lokal di Indonesia pun kian marak dari tahun ke tahun. Di Aceh misalnya, kehadiran warung kopi di Aceh sangat terkait dengan sejarah perkembangan Aceh itu sendiri. Ketika Kesultanan Aceh berkembang, mereka kerap kali berkomunikasi dan menjalin kerjasama dengan Kesultanan Ottoman yang sekarang telah menjadi negara Turki.

Bahkan hubungan dengan Turki ini sudah terjalin sejak pertengahan abad ke-16.

Orang Aceh berkumpul dan berinteraksi di warung kopi, awalnya lebih kepada untuk mempererat rasa persaudaraan. Warung kopi telah menjadi titik untuk bertemu bagi mereka yang suka berbincang, mulai dari soal seni, politik, bisnis, hingga topik lainnya. Teuku Kemal Fasya dalam Maryoto dan Muhammad (2011) melihat bahwa pengunjung warung kopi kini pun tak hanya didominasi oleh kaum pria dan para lanjut usia, kaum wanita dan para remaja juga kerap menghabiskan waktunya di warung kopi.[2]

Warung kopi kini semakin menjadi pilihan yang menarik untuk tempat berkomunikasi. Kini warung kopi identik dengan tempat yang nyaman, interior bagus, fasilitas free Wi-Fi, ruang rapat, televisi berlayar lebar untuk menonton pertandingan sepak bola, live music dan lain sebagainya, sehingga pengunjungnya merasa betah untuk berlama-lama di warung kopi. Fungsi warung kopi kini telah berubah dari tempat minum kopi menjadi sejenis ruang sosial, tempat tukar-menukar informasi.

Nyethe merupakan tradisi merokok di daerah Tulungagung yang sering mendapatkan asumsi negatif dari masyarakat yang menganggap bahwa nyethe merupakan aktivitas yang membuang-buang waktu (wasting time). Kebiasaan nyethe bukan hal yang membuang-buang waktu, tetapi merupakan aktivitas yang dapat menjalin kebersamaan masyarakat melalui interaksi sosial yang terjadi, bahkan dapat dikatakan sebagai awal pembentukan komunitas dan budaya baru di masyarakat Tulungagung.

Kegiatan nyethe ini tidak hanya juga untuk mengisi waktu luang, tetapi juga digunakan sebagai wadah pemersatu bagi para pencinta kopi. Kabupaten Tulungagung juga mengadakan lomba nyethe untuk berbagai kalangan, tak hanya para pencinta kopi saja[3] Kategori yang dilombakan di antaranya dalam kategori rasa, lukis, dan aroma. Kategori aroma yaitu mengutamakan bau atau aroma asap rokok, yang mana setelah dihisap rokoknya akan menghasilkan aroma asap yang harum, wangi, dan segar. Kategori lukis yaitu mengutamakan hasil olesan cethe pada batang rokok yang digambar atau dilukiskan, sesuai selera. Misal motif lukis batik, lukis abstrak, lukisan huruf/tulisan, dan lain sebagainya. Kategori rasa yaitu mengutamakan rasa rokok cethe yang menghasilkan rasa yang lebih gurih dan nikmat.

Budaya nyethe ini telah merambah tidak hanya di kabupaten Tulungagung, akan tetapi juga menyebar ke daerah lain di Indonesia. Hal ini juga dijadikan sebagai suatu hobi baru, terbentuknya komunitas-komunitas pecinta nyethe. Nyethe sekarang tak melulu dengan media rokok saja tetapi juga digunakan di cangkir plastik/cups dan juga asbak.

Kegiatan yang dilakukakan pada waktu nyethe meliputi merokok, minum kopi, ngobrol, duduk santai, dan melukis pada rokok yang diinginkan. Para pengunjung warung kopi terdiri dari berbagai macam masyarakat mulai dari pelajar, anak muda, wirausaha, pengangguran, dan sebagainya. Pengunjung datang ke warung kopi bersama teman-temannya jarang sekali datang sendiri tanpa teman. Pengunjung duduk berkelompok, dua orang sampai lima orang atau lebih. Dalam sekali berkunjung ke warung kopi, pengunjung dapat menghabiskan waktu lebih dari dua jam untuk nyethe.[4]

[1] Kingsley Davis, Human Society (New York: : The Macmillan Company, 1960), hlm 45.

[2] Selo Soemardjan, Setangkai Bunga Sosiologi (Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonimi Universitas Indonesia, 1964), hlm 112.

[3] Brian Cowan, The Social life of coffee: The emergence of the british coffee house (New Heaven & London: Yale University Press, 2005), hlm 88.

[4] Sindung Haryanto, Sosiologi Ekonomi (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), hlm 178.

Penutup

Fenomena Marlopo kopi (Warung kopi) merupakan tradisi yg sifatnya lokal di wilayah Tabagsel. Tradisi ini dapat dibagi ke dalam dua kategori, yakni tradisional dan moderen. Kebiasaan minum kopi dan menghabiskan waktu di warung kopi sambil menikmati berbagai fasilitas yang tersedia seakan telah menjadi gaya hidup bagi berbagai kalangan dari berbagai profesi dan generasi di dunia. Marlopo kopi sering mendapatkan asumsi negatif dari masyarakat yang menganggap bahwa nyethe merupakan aktivitas yang membuang-buang waktu (wasting time).  Di warung kopi siapapun bisa membaur satu sama lain. Tidak jarang pemilik warung bisa menjadi saluran penyampai informasi, menjadi penghubung dalam transaksi ekonomi, dari pelanggannya, bahkan menjadi ajang silaturrahmi karena akan sering jumpa dan saling menyapa satu sama lain.

DAFTAR PUSTAKA

Brian Cowan. The Social life of coffee: The emergence of the british coffee house. New Heaven & London: Yale University Press, 2005.

Haryanto, Sindung. Sosiologi Ekonomi. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011.

Kingsley Davis. Human Society. New York: : The Macmillan Company, 1960.

Pak Min. pelanggan kopi pangkon, 21 November 2015.

Selo Soemardjan. Setangkai Bunga Sosiologi. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonimi Universitas Indonesia, 1964.

Related Posts

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Butuh Bantuan?