0

URGENSI MANAJEMEN ZAKAT DAN WAKAF DI ERA NEW NORMAL

RODAME MONITORIR NAPITUPULU, M.M

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam

Indonesia didaulat sebagai Negara dengan populasi muslim tertinggi di dunia (Indonesia, Negara Dengan Penduduk Muslim Terbesar Dunia | Databoks, n.d.). Sesuai data tersebut, maka jumlah penduduk Indonesia yang beragama Islam diperkirakan mencapai 229,62 juta jiwa. Negara-negara selanjutnya yang juga merupakan Negara dengan jumlah penduduk muslim tertinggi adalah India, Pakistan, Bangladesh, Nigeria, Mesir, Iran, Turki, Aljazair dan Maroko. Jumlah tersebut bukan sekedar angka yang mencengangkan. Di dalam besarnya angka tersebut terdapat tanggung jawab moril yang lebih besar daripada sekedar membanggakan Negara kita sebagai Negara dengan penduduk muslim tertinggi dunia.

Halaman 1

Halaman 2

Halaman 3

Halaman 4

Saat ini kondisi perekonomian dunia termasuk Indonesia turut terguncang akibat pandemic COVID-19 (Corona Virus Desease-19) dimana terjadi pergeseran hebat pada kebiasaan masyarakat kita. Kita disebut-sebut memasuki era New Normal. Perubahan kebiasaan lama menjadi kebiasaan baru. Kebiasaan baru yang semakin aware pada kesehatan. Selain itu, perubahan baru pada metode jual beli yang kini menjadi semakin tinggi diminati masyarakat yaitu belanja online. New Normal bukan sekedar berdampak sementara, tahun demi tahun di masa yang akan datang, kita masih harus terus melakukan kebiasaan baru tersebut. Karena hingga saat ini, dunia masih belum dapat menaklukan COVID-19 dengan segala kehebatan ilmu dan kecanggihan teknologi yang ada. Bahkan di Negara maju seperti Jepang sekali pun, COVID-19 masih di sekitar kita.

Padatnya penduduk Indonesia menjadi tanda semakin kompleksnya berbagai hal saat ini akibat pandemi COVID-19. Dapat dibayangkan bahwa sebanyak 87,20 %penduduk Indonesia adalah beragama Islam(gomuslim, n.d.). Artinya, jumlah tersebut mau tidak mau menjadi representasi nyata dari peran agama Islam dalam pemulihan ekonomi Indonesia. Cerminan bagi Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam juga. Maka, apa yang dilakukan Indonesia saat ini akan menjadi tolok ukur keberhasilan Negara mayoritas penduduk beragama Islam lainnya di dunia ini. Jika boleh berandai-andai, maka tentu saya dan masyarakat muslim lainnya di Indonesia ingin pemulihan ekonomi yang instan. Namun, membahagiakan dan menyejahterakan hampir 280 juta jiwa bukanlah hal yang mudah.

Semua akademisi ekonomi syariah sepakat bahwa salah satu alat tercepat dan terbaik saat ini untuk memulihkan ekonomi kita adalah melalui Zakat dan Wakaf. Bahkan dalam sebuah artikel  yang dipubikasikan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia disebutkan beberapa cara sebagai solusi keuangan syariah di masa pandemi ini, yakni: penyaluran bantuan langsung tunai melalui zakat, infak dan sedekah;penguatan wakaf uang tunai baik wakaf tunai, wakaf produktif maupun waqf linked sukuk; bantuan modal usaha unggulan saat kritis; pemberian pinjaman qardhul hasan; penyaluran dana UPZ di daerah-daerah kepada UMKM; pengembangan teknologi finansial syariah. Hal tersebut membuktikan bahwa Zakat dan Wakaf memiliki peranan penting dalam pemulihan ekonomi saat ini.

Pada dasarnya potensi zakat di Indonesia sangatlah besar. Hal ini tercermin dari perhitungan komponen Indikator Pemetaan Potensi Zakat (IPPZ) dimana potensi zakat Rp233,8 triliun. Angka tersebut dibagi dalam 5 objek zakat yaitu: pertanian (Rp19,79 triliun), peternakan (Rp9,51 triliun), uang (Rp58,76 triliun), perusahaan (Rp6,71 triliun), dan penghasilan (Rp139,07 triliun)(Outlook Zakat Indonesia_2020.Pdf, n.d.); (Seberapa Besar Potensi Zakat di Indonesia?, 2019).
Penyaluran bantuan langsung tunai melalui zakat, infak dan sedekah saat ini semakin banyak digerakkan oleh berbagai pihak. Berbagai riset dari para ekonom syariah sudah menyampaikan secara nyata bahwa zakat, infak dan sedekah membawa perubahan ekonomi yang lebih baik (Ridwan, 2019); (Romdhoni, 2017); (Masruroh & Farid, 2019); (Rafdison & Nafik, 2018); (Anggraini, 2016); (Lestari, 2018); (Kholid, 2019) dan hasil riset lainnya yang memberikan bukti nyata peranan ZIS (Zakat, Infak, Sedekah) memang nyata pada masyarakat di Indonesia. Namun cukup banyak juga yang menyarankan agar dilakukan beberapa perbaikan mulai dari kelembagaan yang akuntabel dengan pengelolaan dana yang transparan. Selain itu juga perlu ada pengawasan terhadap pelaksanaan penyaluran/distribusi dana ZIS tersebut sehingga menjadi lebih tepat sasaran.
Pelaksanaan pengelolaan ZIS ini tentu sangat dipengaruhi oleh indeks literasi zakat masyarakat kita saat ini. Disebutkan bahwa secara nasional tingkat literasi zakat diIndonesia masih berada pada kategori menengah (66,78). Sementara itu, secara regional, beberapa propinsi Kepulauan Riau mendapat skor tertinggi dengan kategori indeks literasi zakat sebesar 80,55 dan propinsi dengan indeks literasi zakat terendah adalah Maluku yaitu 42,30. Hal ini menjadi bahan pertimbangan bagi semua pihak terutama lembaga pendidikan seperti perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia dalam mengedukasi masyarakat terkait ZIS.
Sejalan dengan potensi zakat, maka potensi aset wakaf di Indonesia jauh lebih besar dari potensi zakat. Potensi aset wakaf dapat mencapai Rp2.000 triliun per tahun (Potensi Aset Wakaf Capai Rp 2.000 Triliun per Tahun, n.d.). Dengan luas tanah wakaf mencapai 420 ribu hectare. Potensi wakaf uang dapat mencapai kisaran Rp188 triliun per tahun. Sementara itu, hingga saat ini, yang terealisasi baru Rp400 miliar. Oleh karena itu, masih banyak potensi aset wakaf yang belum terealisasi. Ini menjadi pekerjaan kita bersama dimana jika setiap orang dan pihak menyadarinya tentu akan sangat besar dampaknya pada pembangunan nasional.

Penguatan wakaf uang tunai baik wakaf tunai, wakaf produktif maupun waqf linked sukuk. Seperti halnya di Kota Padangsidimpuan, mungkin hal ini juga terjadi di kota-kota lain pada masyarakat kita di Indonesia. Secara umum, di daerah yang populer saat ini adalah wakaf tanah kubur. Sementara itu, wakaf pada dasarnya beragam karena ada juga wakaf tunai, wakaf produktif maupun waqf linked sukuk. Bahkan kini juga ada berbagai program wakaf yang digerakkan oleh perusahaan crowdfunding di Indonesia seperti: Sumur Wakaf, Wakaf Quran, Wakaf Tanah Pesantren, Beberapa perusahaan terkenal di Indonesia diantaranya adalah kitabisa.com, indonesiadermawan.id, ayopeduli.id.

Riset terkait peranan wakaf dalam perekonomian juga cukup banyak. Disebut juga wakaf merupakan alat untuk membangun perekonomian Negara (Ummah & Fauzan, 2019).Cukup banyak riset yang mendukung tentang peran wakaf dalam perekonomian bahkan dalam masa pandemic COVID-19 ini melalui waqf linked sukuk(Asiyah et al., 2020). Waqf linked sukuksendiri merupakan bentuk investasi sosial di Indonesia dimana wakaf uang yang dikumpulkan oleh Badan Wakaf Indonesia selaku Nazhir melalui BNI Syariah dan Bank Muamalat Indonesia sebagai Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKSPWU) nantinya dikelola dan ditempatkan pada instrumen Sukuk Negara atau SBSN (Surat Berharga Syariah Negara) yang diterbitkan oleh Kementrian Keuangan (Kemenkeu)(Mengenal Lebih Dekat Dengan Cash Waqf Linked Sukuk, n.d.).Demikian juga halnya dengan wakaf produktif yang dapat mengoptimalkan peluang kemitraa dan investasi untuk kesejahteraan umat (Suhardo, 2017). Karenanya, wakaf terbukti dapat memengaruhi kondisi perekonomian Negara dan harus menjadi perhatian bersama dalam upaya memaksimalkan pengelolaannya dengan manajemen aset wakaf yang baik.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh BWI (Badan Wakaf Indonesia) sebagai nazhir, dimana saat ini literasi wakaf di Indonesia masih tergolong rendah. Indeks literasi wakaf nasional adalah 50,48. Skor tersebut lebih rendah dibandingkan indeks literasi zakat nasional (66,78). Sementara itu, secara regional Provinsi Gorontalo mendapatkan skor tertinggi yaitu 73,74 dan Propinsi Riau mendapatkan skor terendah yaitu 36,24. Oleh karena itu, kembali lagi tugas sebuah lembaga pendidikan keagamaan Islam memberikan edukasi sehingga masyarakat memiliki literasi wakaf yang membaik.

Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan sendiri telah membuka sebuah prodi baru di bawah naungan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam dalam menjawab berbagai tantangan terkait zakat dan wakaf di Indonesia. Sejak tahun 2018, Program Studi Manajemen Zakat dan Wakaf telah memberikan kesempatan bagi anak bangsa terutama yang berada di Propinsi Sumatera Utara khususnya wilayah Tapanuli Bagian Selatan (TABAGSEL) dalam mengambil peluang sebagai Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dalam manajemen zakat dan wakaf  ketika lulus nanti. Menyadari betapa besarnya peluang untuk menjadi pionir yang melahirkan generasi muda yang mencintai zakat dan wakaf sesuai dengan kebutuhan di Indonesia saat ini.

Di tambah lagi, dalam era new normal seperti sekarang ini, dimana solusi keuangan syariah melalui zakat dan wakaf telah menjadi pilihan yang terbaik dalam memulihkan keadaan ekonomi masyarakat yang secara langsung juga memulihkan ekonomi Negara. Dalam hal ini, keterlibatan semua pihak, sektor, bidang dari berbagai lapisan masyarakat di Indonesia sangatlah penting. Itulah sebabnya, perusahaan seperti Dompet Dhuafa bahkan mengajak dengan giat masyarakat dalam berwakaf melalui gerakan WakeUp! Wakaf. Bahkan perusahaan tersebut juga mengelola sebuah wakaf digital yaitu tabungwakaf.com sebagai bentuk nyata gerakan tersebut. Dan masih banyak perusahaan crowdfunding yang ada di Indonesia juga memfokuskan diri pada penghimpunan dana wakaf seperti globalwakaf.com.

Saat ini, kondisinya memang tidak memungkinkan bagi setiap orang untuk banyak beraktivitas di luar jika tidak mendesak terutama di wilayah yang dinyatakan zona kuning, orange dan merah. Social distancing (jaga jarak) dan physical distancing (tidak bersentuhan secara fisik) menjadikan setiap orang mengurangi banyak aktivitas luar yang dinilai membawa mudharat. Digitalisasi zakat dan wakaf menjadi cara yang paling ampuh untuk menghilangkan segala keterbatasan yang ada. Digitalisasi menjadi bagian yang kini tidak dapat dipisahkan dalam keuangan syariah termasuk dalam bidang zakat dan wakaf. Saat ini seluruh industri di dunia telah mengalami perubahan secara fundamental berkat adanya Robotics Process Automation (RPA), Artificial Intelligent (AI) dan Internet of Things (IoT). Teknologi dirasakan mampu memberikan manfaat yang besar dalam meningkatkan kinerja berbagai industri termasuk industri keuangan syariah. Selain itu juga, membantu meningkatkan efisiensi, transparansi dan akuntabilitas OPZ (Organisasi Pengelola Zakat) maupun LKSPWU (Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang) di Indonesia juga dunia. Digitalisasi sudah diterapkan mulai dari proses pengumpulan dana zakat dan wakaf hingga proses pengelolaannya, baik yang berbasis website maupun aplikasi (pengguna android melalui google playstore, pengguna iphone melalui appstore). BAZNAS, LAZ Muhammadiyah dan LAZ Inisiatif Zakat telah meluncurkan aplikasi berbasis android seperti: Muzaki Corner BAZNAS. Ada juga mesin penerimaan pembayaraan seperti BAZNAS yang bekerjasama dengan PT. M-Cash yang sudah tersebar di 700 pusat perbelanjaan di Jabodetabek. Memang masih terbatas dan belum sampai ke daerah seperti Kota Padangsidimpuan ini. BAZNAS sebagai satu-satunya pengumpul resmi di bawah nauangan Kementerian Agama tidak mau ketingggalan dalam upaya mengelolaan dana zakat secara optimal. Itulah sebabnya BAZNAS pusat turut berkembang dengan menyediakan layanan Zakat online melalui halaman website (http://baznas.go.id/bayarzakat). Transaksi zakat dan wakaf juga dapat dilakukan dengan menggunakan dompet digital (e-wallet) seperti: GoPay, LinkAja, OVO yang bekerjasama dengan perusahaan crowdfunding.Hal inisejalan dengan keinginan pemerintah untuk menciptakan cashless society.

Sinergi pemerintah, perusahaan financial technology (fintech) syariah, institusi pendidikan serta seluruh masyarakat penting dalam memulihkan ekonomi di era new normal. Ini tanggung jawab bersama. Dengan menyadari urgensi manajemen zakat dan wakaf terutama pada era new normal saat ini tentu menjadi pemicu dalam mengembalikan ‘rasa berbagi’ yang memang sedari dulu sudah diajarkan pada seluruh umat muslim. Namun berbagi tanpa memiliki pemahaman tentang zakat dan wakaf yang tinggi (rendahnya literasi zakat dan wakaf) dapat menjadi penghambat dalam memanfaatkan besarnya potensi dana zakat dan aset wakaf di Indonesia. Kehadiran SDM yang berkemampuan khusus dalam manajemen zakat dan wakaf seperti yang sedang dilakukan IAIN Padangsidimpuan menjadi kontribusi nyata, bukan hanya ketika era new normal namun sebelum dan di masa yang akan datang, insyaallah seterusnya. Seperti apa yang disampaikan dalam sebuah hadits. “Sebaikbaik manusiaadalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ No:3289). Karena sesungguhnya ketika kita berbuat baik kepada orang lain, manfaatnya akan kembali kepada kita.

Daftar Referensi

Anggraini, R. (2016). Analisis Pengaruh Dana Zakat, Infaq, Shodaqoh (ZIS) Dan Inflasi Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Di Indonesia Pada Periode 2011-2015 [Phd Thesis]. Universitas Airlangga.

Asiyah, B. N., Aini, I. N., Mahardika, R. P., &Laili, L. N. (2020). Analisis Dampak Sukuk Pada Perekonomian Nasional Di Tengah Wabah Covid 19. El-Qist: Journal Of Islamic Economics And Business (JIEB), 10(1), 55–68.

Gomuslim. (N.D.). Peta Sebaran Data Populasi Muslim Dunia 2020: Indonesia Paling Besar. Gomuslim. Retrieved August 3, 2020, From Https://Gomuslim.Co.Id/Read/News/2020/04/08/18593/-P-Peta-Sebaran-Data-Populasi-Muslim-Dunia-2020-Indonesia-Paling-Besar-P-.Html

Indonesia, Negara Dengan Penduduk Muslim Terbesar Dunia | Databoks. (N.D.). Retrieved August 3, 2020, From Https://Databoks.Katadata.Co.Id/Datapublish/2019/09/25/Indonesia-Negara-Dengan-Penduduk-Muslim-Terbesar-Dunia

Kholid, A. N. (2019). Dampak Zakat, Infak Dan Sedekah (ZIS) Terhadap Penurunan Tingkat Kemiskinan Dan Percepatan Pengentasan Kemiskinan: Studi Kasus LAZDAI Dan DPU-DTDi Bandar Lampung. Jurnal Bina Ummat: Membina Dan Membentengi Ummat, 2(01), 65–105.

Lestari, C. (2018). Optimalisasi Pendayagunaan Dana Infaq-Sedekah Dalam Meningkatkan Pendapatan Petani Dengan Program Alsintan (Studi Kasus Pada Desa Saleh Jaya Banyuasin Sumatera Selatan. I-Finance: A Research Journal On Islamic Finance, 4(2).

Masruroh, I., &Farid, M. (2019). Pengaruh Pengelolaan Ekonomi Produktif Dalam Mengentaskan Kemiskinan Di Kota Lumajang Studi Pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Lumajang. Iqtishoduna: Jurnal Ekonomi Islam, 8(1), 209–229.

Mengenal Lebih Dekat Dengan Cash Waqf Linked Sukuk. (N.D.). Retrieved August 5, 2020, From Http://Www.Forshei.Org/2019/11/Mengenal-Lebih-Dekat-Dengan-Cash-Waqf.Html

Outlook Zakat Indonesia_2020.Pdf. (N.D.). Google Docs. Retrieved August 5, 2020, From Https://Drive.Google.Com/File/D/1yicctdyaccfpkbtl_Obpd0gkvfu_7-5r/View?Usp=Drive_Open&Usp=Embed_Facebook

Potensi Aset Wakaf Capai Rp2.000 Triliun Per Tahun. (N.D.). Sindonews.Com. Retrieved August 5, 2020, From Https://Ekbis.Sindonews.Com/Berita/1443659/34/Potensi-Aset-Wakaf-Capai-Rp2000-Triliun-Per-Tahun

Rafdison, M. A., & Nafik, M. (2018). Dampak Penyaluran Infak Untuk Kegiatan Usaha Produktif Dalam Penguatan Modal Dan Peningkatan Kenerja UMKM. Jurnal Ekonomi Syariah Teori Dan Terapan, 5(1), 19–31.

Ridwan, M. (2019). Pengelolaan Zakat Dalam Pemberdayaan Masyarakat Di Kota Cirebon. Syntax, 1(4).

Romdhoni, A. H. (2017). Zakat Dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Dan Pengentasan Kemiskinan. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 3(01), 41–51.

Seberapa Besar Potensi Zakat Di Indonesia? (2019, July 15). Republika Online. Https://Republika.Co.Id/Share/Punxdq440

Suhardo, S. (2017). Kemitraan Usaha Wakaf Produktif Untuk Kesejahteraan Umat. Al-Mashlahah Jurnal Hukum Islam Dan Pranata Sosial, 1(02).

Ummah, K., & Fauzan, E. M. (2019). Peran Negara Terhadap Wakaf Sebagai Alat Untuk Membangun Perekonomian Negara. Simposium Hukum Indonesia, 1(1), 511–525.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Butuh Bantuan?